Saat Film-film Asia Mulai Bergerak Menggeser Dominasi Hollywood (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Saat Film-film Asia Mulai Bergerak Menggeser Dominasi Hollywood - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Film-film itu mengangkat nilai-nilai yang mungkin tidak familiar bagi penonton Barat.

"Ada penekanan yang kuat pada keluarga—dan peran satu individu di dalam keluarga adalah bagian kunci untuk terhubung dengan karakter [dalam film]," kata Paquet.

"Jelas di Korea—begitu pula di Jepang dan China—pendidikan, sains, dan teknologi sangat dihargai dan itu dituangkan dalam film," tambahnya.

"Dan ironinya berkurang jauh jika dibandingkan dengan cerita-cerita Hollywood—beragam emosi dalam cerita mereka diungkapkan secara sangat langsung dan bisa menjadi sangat intens."

Namun, mengekspor nilai-nilai budaya yang berbeda ke penonton Barat tidak selalu berjalan mulus.

"Di China, ada semacam pakem mengenai alur cerita. Mereka mengikuti aturan di masyarakat: dalam sebuah cerita, jika seseorang melakukan pembunuhan, apapun skenarionya, orang itu harus dipenjara," papar Mike Goodridge, direktur bidang artistik pada Festival Film Internasional Makau.

"Jika Anda terbiasa cara berkisah Hollywood, lalu Anda menonton [film China] dan berpikir, 'mereka tidak bisa dipenjara dong!'. Nilai moral mereka sangat terpancar."

Dan ketidakmengertian budaya itu juga berlaku bagi film Barat yang ditayangkan di China. "Crazy Rich Asians gagal di China," kata Goodridge.

Bagaimanapun, mengingat Crazy Rich Asians sukses di mana-mana, dan film The Farewell garapan Lulu Wang punya daya tarik, Hollywood tampaknya yakin cerita-cerita mengenai warga Amerika keturunan Asia berpotensi memikat penonton dalam jumlah banyak.

Kini muncul serial Killing Eve yang dibintangi Sandra Oh dan Awkwafina akan ditayangkan Netflix. Kemudian Adele Lim—yang turut menulis Crazy Rich Asians—bekerja sama dengan sutradara-produser Jepang, Hikari, untuk menggarap drama romantis Lost for Words.

Lim juga turut menulis animasi baru Disney, Raya and the Last Dragon, dengan Awkwafina dan Kelly Marie Tran sebagai aktor sulih suara. Dengan segala penampilan tersebut, apakah Asia masih memerlukan Hollywood?

"Vietnam, misalnya, berpenduduk 100 juta orang dan seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Selandia Baru, mereka menangani krisis Covid-19 dengan baik," kata Anderson Le, orang Amerika keturunan Vietnam.

Le adalah direktur bidang artistik untuk Festival Film Internasional Hawaii, dan turut mendirikan studio film East yang memproduksi film-film dari Vietnam dan berbagai negara di Asia Tenggara.

"Setengah dari seluruh penduduk [Vietnam] berusia di bawah 40 tahun," jelasnya. "Bioskop-bioskop dibuka, penjualan tiket bagus, dan karena tidak ada persaingan dari film-film Hollywood, para penonton menyaksikan film-film lokal yang sangat bagus.

"Menurut saya, negara-negara seperti Vietnam, China, dan Korea tidak perlu memikirkan Amerika sekarang. Mereka seperti industri film Bollywood di India, dalam konteks mereka ingin menjangkau penonton di dalam negeri terlebih dulu. Kesuksesan lainnya hanyalah bonus bagi mereka."

Kesuksesan lain bagi film Asia yang dimaksud Le adalah Piala Oscar. Mengukir prestasi di ajang Academy Awards, menurutnya, membuat film produksi lokal dapat menggapai status kehormatan.

Film Nomadland, yang dibintangi Frances McDormand, difavoritkan meraih predikat film terbaik. Ceritanya berlokasi di Amerika Serikat—namun penggarapnya, Chloe Zhao yang lahir dan dibesarkan di China, boleh jadi bakal tampil sebagai perempuan kedua yang meraih status sutradara terbaik.

Related

Film 3370277250233295528

Recent

item