Sejarah Uang di Dunia: Kerusuhan di Amerika dan Matinya James Garfield


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah Uang di Dunia: Konspirasi di Balik Terbunuhnya Abraham Lincoln). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

1877 

Kerusuhan mulai terjadi, dari Pittsburgh sampai Chicago. Para bankir berkumpul dan memutuskan bahwa mereka akan tetap dengan kebijakan mereka. Mereka tahu bahwa walaupun keadaan sangat kacau, mereka tetap memegang kendali. Dalam rapat Asosiasi Bankir Amerika, mereka menekankan kepada semua anggotanya untuk menolak semua gagasan untuk kembali ke greenbacks.

1878 

Tanggal 28 Febuari, Konggres mengesahkan Sherman Law. Hukum ini memperbolehkan pembuatan terbatas koin perak. Namun tidak berarti semua orang yang membawa perak ke Amerika bisa menjadikannya dolar perak. Uang Amerika masih tetap di-backing emas paska Ernest Seyd.

Beredarnya uang tambahan dalam perekonomian, yang diikuti mulai diberikannya pinjaman oleh bankir, karena mereka sudah yakin atas kendali mereka, mengakhiri masa depresi paska perang sipil.

1881 

Wakil Partai Republik, James Garfield, terpilih sebagai Presiden Amerika. Bankir tidak menyukainya, karena dia mantan Ketua Komite Pengawas dan anggota departemen Banking and Currency. 

Garfield mengetahui dengan pasti penipuan para bankir terhadap orang Amerika. Pada hari pelantikannya, dia berkata, “Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan… dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang di atas, Anda tak perlu diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi.”

Tanggal 2 Juli, Presiden Garfiels mati ditembak.

1891 

Para bankir menciptakan booming perekonomian selama satu dekade, dan kemudian memprakarsai masa depresi supaya mereka bisa membeli ribuan rumah dan lahan pertanian dengan harga beberapa sen per dolar. Mereka juga menyiapkan rencana untuk menjatuhkan perekonomian dalam waktu dekat. Dalam salah satu memo kepada Asosiasi Bankir Amerika, yang ditemukan dalam catatan Konggres dua puluh tahun kemudian, terbaca:

“Pada tanggal 1 September 1894, kami tidak akan memperpanjang masa pinjaman kami atas pertimbangan apapun. Pada 1 September, kami akan meminta kembali uang kami. Kami akan menyita jaminan yang gagal bayar. Kami akan mengambil alih 2/3 lahan pertanian di sebelah Barat Mississipi, dan ribuan kavling lainnya di Timur Mississipi, dengan harga yang kami buka… Para petani akan menjadi penyewa, sama seperti di Inggris…”

1896 

Isu sentral dari pemilihan presiden Amerika kali ini adalah seputar penerbitan lebih banyak perak sebagai uang. Wakil Partai Demokrat, William Bryan, maju sebagai anti standar emas, dan menginginkan perak sebagai uang. 

Bankir mendukung wakil Partai Republik, William McKinley, yang membela standar emas. McKinley menyuruh para manufaktur dan industrialis mengancam kepada pegawai mereka bahwa bila Bryan yang terpilih, semua pabrik akan tutup dan tidak akan ada pekerjaan.

Taktik ini berhasil, McKinley mengalahkan Bryan.

1898 

Paus Leo XIII mengatakan hal ini tentang bunga pinjaman, “Di satu sisi, ada sekelompok orang yang memegang kekuasaan karena memiliki kekayaan besar, yang mengendalikan semua pekerja dan perdagangan, yang memanipulasi untuk kepentingan pribadi semua suplai uang, yang bahkan lebih berpengaruh daripada pemerintah sendiri. Di sisi lain, ada sekelompok besar lainnya yang tidak berdaya dan hidup menderita. 

“Bunga pinjaman (riba), yang sudah berkali-kali dilarang oleh Gereja, masih dipraktikkan hari ini walaupun dengan bentuk yang berbeda, supaya sekelompok kecil orang kaya bisa mendapatkan keuntungan dari orang miskin yang hidup hanya sedikit lebih baik dibanding seorang budak.”

Baca lanjutannya: Sejarah Uang di Dunia: Asal Usul Bank Sentral di Amerika Serikat

Related

History 3017803413747560390

Recent

item