Sekolah Melalui Siaran Radio, Cara Siswa di Pekalongan Belajar di Tengah Pandemi (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sekolah Melalui Siaran Radio, Cara Siswa di Pekalongan Belajar di Tengah Pandemi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Kelas di udara

Kelas Mengajar di Radio Komunitas (KejarRakom) tak lepas dari peran Sunarto, pengelola Radio Komunitas PPK Sragi 107,7 MHz untuk membantu menjembatani proses belajar siswa dengan para guru yang terdampak pandemi Covid-19.

Dia menawarkan sekolah untuk mengajar melalui radio komunitas yang sudah mengudara sejak tahun 2007 ini.

"Saya cari solusi dan menawarkan para guru pindah belajar ke sini, mengajar di studio. Murid-murid belajar di rumah dengan mendengarkan radio. Akhirnya kita coba dulu. Kegiatan sangat beda, di radio guru sedikit berimajinasi seolah-olah siswa ada di depannya, bahan yang diajarkan seperti biasa."

Kelas Mengajar di Radio Komunitas dirasakan manfaatnya oleh orangtua siswa.

Netty Indarwati, orangtua siswa kelas 6, merasa terbantu dengan siaran radio.

"Sebelumnya saya harus mengajari sendiri, cuman dikasih tugas, ngerjain sendiri. Itu tidak efektif banget. Berharap metode belajar radio tetap dilanjutkan dengan diselingi home visit, sehingga anak-anak bisa menanyakan pembelajaran kembali," ujar Netty.

Hal senada diutarakan Kusnaeni. Dia mengaku anaknya kerap mengaku jenuh karena belajar dengan menggunakan teknologi melalui aplikasi Whatsapp dirasa tidak efektif.

"Dikasih tugas terus dikumpulkan ternyata anak bosan, jenuh, ingin ke sekolah, ketemu guru. Pakai WA kadang kendala beli kuota. Ya senang ketimbang dulu pakai WA dikasih tugas halaman sekian dikerjain sekian-sekian. Si anak lebih mendengarkan gurunya. Ya mending enakan sekarang, berarti si anak bisa dengeri suara gurunya, dikasih materi, ada penjelasan. Kadang dikasih yel-yel sama bu guru untuk menambah semangat,"imbuh Kusnaeni.

Efektifvitas metode Kelas Mengajar di Radio Komunitas pun dilirik anggota Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) di wilayah lain dan akan diujicobakan di Lampung, Jawa Barat, Sulawesi dan Wamena.

Di Jawa tengah sendiri terdapat 35 radio komunitas yang tergabung dalam JRKI, dari total 457 radio komunitas seluruh Indonesia yang tersebar di 20 provinsi.

Keterbatasan fasilitas

Hasil evaluasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan menyebut, dari 518 Sekolah Dasar di Kabupaten Pekalongan, hanya 50 % yang menerapkan pembelajaran daring.

"Tidak semua mempunyai fasilitas. 50 persen belum ada yang melakukan dengan daring, makanya kami minta sekolah aktif menginstruksikan guru home visit meski tidak setiap hari," jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Sumarwati.

Selain itu, pihaknya berinisiatif bekerjasama dengan tiga radio siaran. Radio Kota Santri milik Pemkab Pekalongan dan dua radio komersial yakni Radio KFM dan Radio Soneta untuk membantu siswa pelajar di jenjang kelas 1 hingga kelas 9. Baru diujicobakan sebulan karena terkendala alokasi anggaran.

Karena itu pihaknya menyambut baik jika ada radio komunitas yang bersedia membantu pembelajaran jarak jauh karena metode ini cukup efektif.

Variasi media alternatif

Farid Ahmadi, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, mengatakan, di masa pandemi guru dan sekolah dapat menggunakan multimedia yang sesuai dengan kondisi sekolah.

"Sekolah Dasar sebagian besar berada di desa. Kendala koneksi internet, punya dua anak yang masih SD, tidak memiliki handphone. Kalau dipaksakan, pembelajaran daring banyak mengalami kesulitan," jelas Farid.

Upaya lain menurut Farid, bisa dilakukan dengan konsep home schooling. Guru berkunjung ke rumah (home visit). Ada juga model daring sederhana melalui Whatsapp Grup.

"Semua instruksi guru pembelajaran anak disampaikan melalui WAG orangtua. Satu kelas dibagi lima kelompok sehingga jumlah siswanya tidak terlalu banyak berada di satu rumah atau satu lokasi, dan guru-guru ditugaskan keliling dengan protokoler kesehatan melakukan pembelajaran. Awalnya guru di sekolah daerah tertinggal yang tidak memiliki fasilitas internet menginisiasi dengan melakukan hal seperti itu," imbuhnya.

Hanya saja, pembelajaran daring dengan berbagai kelebihan justru mengesampingkan pendidikan karakter yang masih mutlak diajarkan di semua tingkatan pendidikan.

"Kelemahan daring tidak bisa melakukan pendampingan pendidikan karakter. Dalam kondisi seperti ini ya mau tidak mau. Ke depannya tetap harus ada kombinasi pembelajaran daring dan luring, sehingga ada penguasaan teknologi dan tetap ada muatan pendidikan karakter," paparnya.

Farid menambahkan, upaya-upaya ini dapat berjalan dengan baik jika didukung kebijakan yang sesuai kebutuhan tiap daerah.

"Format pembelajaran daring tidak bisa diatur pusat karena kondisi tiap daerah beda. Seperti SD saya rasa kebijakan ada di level daerah saja, karena yang tahu kondisi sekolah. SD belum optimal tapi sekarang mulai bergerak mempersiapkan menuju ke sana," tambahnya.

Related

Indonesia 7876605305338191872

Recent

Hot in week

item