Ulasan Film yang Diadaptasi dari Novel-novel Nicholas Sparks (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Ulasan Film yang Diadaptasi dari Novel-novel Nicholas Sparks - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Untungnya, dua film ini tak mengisahkan kematian yang dibuat-buat, meski masih melibatkan kecelakaan sebagai salah satu plot cerita.

Ciri khas lainnya adalah komposisi poster film yang itu-itu saja:

1. Cowok dan cewek nyaris ciuman. Ingat: nyaris. Tak jelas apa yang bikin nyaris itu. Mungkin "semesta", mungkin juga takut dosa.

2) Cowok peluk-peluk cewek dari belakang.

Poster-poster film Sparks tak berubah dari 1999 hingga 2016. Tapi bukan hanya poster yang tak berubah: selama 17 tahun itu, karakter-karakter Sparks adalah mas-mas ganteng dan mbak-mbak cantik yang pikiran, ucapan, dan tindakannya sangat vanilla.

Sosok-sosok mbak dan mas vanilla American inilah yang paling ditonjolkan dalam pemasaran film dan dipajang dengan gamblang di poster; berkulit putih, bertubuh langsing dan berotot, berwajah menarik, dan lebih baik lagi jika pandai bernyanyi. 

Coba sebutkan alasan untuk tidak memberi peran pada Mandy Moore dan Miley Cyrus ketika karir musik mereka sedang naik? Kedua artis juga digambarkan jago bernyanyi dalam film Sparks. Hanya Zac Efron yang tidak bernyanyi di The Lucky One.

Tak boleh dilupakan bahwa film-film Sparks biasa berlatar di kota kecil negara bagian tenggara Amerika seperti Louisiana, Carolina Utara, Georgia, dan Carolina Selatan. Selain itu, beberapa adegan akan berlokasi di pantai atau taman bunga. Sparks, penulis Nebraska, telah tinggal lama di Carolina Utara. Sparks sepertinya tak bisa memilih latar lain untuk ceritanya.

Tapi, meski Sparks miskin imajinasi seputar lokasi syuting, ia berhasil membuat Amerika terlihat seperti tempat terbaik untuk dihuni dan penuh kenangan hangat. Sebaliknya, tempat-tempat di luar Amerika dalam film-film Sparks adalah Irak, Afghanistan, dan sebuah daerah di Amerika Selatan. 

Tempat-tempat ini digambarkan meninggalkan memori kelam pada tokoh-tokohnya--tapi melupakan fakta bahwa Amerikalah yang membikin negeri-negeri ini pahit. Bukankah ini adalah pandangan paling klasik dan sempit ala orang Amerika di negara-negara bagian selatan yang gemar pamer bendera itu?

Film-film Sparks juga selalu diiringi surat-surat yang ditulis tangan. Surat tersebut biasanya ditulis untuk mengabarkan sang kekasih bahwa kehadiran mereka sangat berarti dalam hidup si penulis. Sparks bahkan tak mengizinkan Marsden mengirim email atau pesan instan. Namun, Sparks masih mentolerir penggunaan mesin ketik di tahun 1990-an (Message in a Bottle).

Penggambaran klasik Sparks lainnya--yang sedikit banyak digambarkan lewat surat-surat--adalah orang yang ditinggalkan merasa seperti mendapat hidayah setelah cintanya kandas. Alternatifnya: yang ditinggalkan merasa kekasihnya masih menemani mereka lewat donor jantung (The Best of Me) atau lewat embusan angin (A walk to Remember).

Namun, meski menulis drama-drama dengan plot dan elemen yang sudah gampang ditebak, Sparks seperti enggan meninggalkan zona nyaman tersebut. Dalam wawancara pada 2015 ia menyampaikan, “Aku tidak mau menulis novel yang tidak akan dibaca banyak orang, karena bukan itu yang mereka harapkan. Aku tidak ingin mengecewakan pembacaku, mereka membeli bukuku dan mengharapkan cerita yang mereka kenal, bukan untuk membaca hal lainnya.”

Barangkali memang prinsip itulah yang membuat buku-buku Sparks laku keras. Lima belas novel Sparks masuk dalam New York Times Bestseller.

Satu-satunya alasan yang boleh jadi membuat Sparks berhenti mengadaptasi cerita-cerita yang itu-itu saja adalah perusahaan produksinya, Nicholas Sparks Productions, yang tutup pada 2016. Salah satu alasan tutupnya rumah produksi tersebut adalah film terakhirnya, The Choice yang hanya meraup keuntungan sebesar USD 18 juta. Kalah jauh dibanding film-filmnya yang lain yang mampu meraup keuntungan lebih dari USD 100 juta.

Related

Entertainment 2385314277793243823

Recent

Hot in week

item