WHO Peringatkan Pandemi COVID-19 Masih Jauh dari Usai, Apa Penyebabnya?


Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan akhir pandemi COVID-19 masih jauh dari usai, seiring dengan banyak negara mulai mencabut aturan pembatasan hingga protokol kesehatan COVID-19. Pasalnya, kasus COVID-19 global kini kembali menunjukkan tren peningkatan sepekan terakhir.

"Masih jauh dari selesai," kata Margaret Harris kepada wartawan di Jenewa, dikutip dari Reuters.

"Kita kini berada di tengah pandemi," tambahnya.

Tren kasus COVID-19 global sempat membaik selama lebih dari sebulan, tetapi sejak minggu lalu kembali naik diikuti dengan langkah lockdown di negara Asia seperti provinsi Jilin China yang berjuang menekan wabah. China belakangan mencetak rekor tertinggi sejak pandemi, imbas 'serangan' varian Omicron, khususnya subvarian BA.2 dikenal 'Son of Omicron'.

"Kombinasi faktor menyebabkan peningkatan, termasuk varian Omicron yang sangat menular dan sepupunya sub-varian BA.2, dan pencabutan tindakan kesehatan masyarakat dan sosial," kata WHO.

Pimpinan Teknis COVID-19 WHO Maria Van Kerkhove sebelumnya menjelaskan BA.2 menjadi varian paling menular sejauh ini. Kabar baiknya, tak ada tanda-tanda subvarian Omicron BA.2 memicu gejala COVID-19 lebih parah.

Peningkatan COVID-19 global paling tinggi terjadi di mana?

Corona global meningkat 8 persen dibandingkan pekan sebelumnya meskipun ada catatan penurunan jumlah testing. Setidaknya 11 juta kasus dan lebih dari 43 ribu kematian tercatat di 7-13 Maret, menjadi kenaikan pertama sejak akhir Januari.

Wilayah Pasifik Barat WHO paling disorot, terutama Korea Selatan dan China. Kasusnya melonjak hingga 25 persen dan kematian 27 persen.

Peningkatan juga terjadi di Afrika sebesar 12 persen dan angka kematian kembali merangkak sekitar 14 persen. Hanya Eropa yang tak melaporkan lonjakan kematian, tetapi kasus harian bertambah tinggi dua persen.

Related

News 6761297416081467782

Recent

item