Berdasarkan Penelitian, Kita Mungkin Bertetangga dengan Alien


Naviri Magazine - Salah satu pertanyaan yang sejak dulu menggoda dalam bidang sains adalah, apakah bumi menjadi satu-satunya planet yang dapat dihuni makhluk hidup seperti manusia? Jika ya, artinya hanya bumi yang memiliki kehidupan, sementara di alam semesta luas ini tidak ada kehidupan sama sekali. 

Namun, jika jawabannya tidak, maka artinya ada planet atau tempat lain di alam semesta yang juga memiliki kehidupan sebagaimana kehidupan manusia di bumi.

Pertanyaan itu terus menggoda banyak ilmuwan, dan tak terhitung banyaknya penelitian yang dilakukan dari waktu ke waktu, untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mungkin saja alien itu ada. Mereka merupakan tetangga asing yang hidup di alam semesta lain. Beberapa bisa memiliki planet mirip Bumi, bermasyarakat, bahkan mirip dengan manusia.

Teori multi-semesta diperkenalkan pada tahun 1980-an. Menunjukkan bahwa alam semesta yang kita tinggali merupakan bagian dari multi-semesta yang jauh lebih besar. Gagasan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari sekian banyak telah lama memesona para ilmuwan, penulis fiksi, dan pemikir filosofis.

Selain itu, gagasan ini adalah isu yang hangat diperdebatkan di kalangan komunitas riset, paling tidak karena banyak yang berpendapat tidak mungkin untuk menguji kebenarannya.

Tetapi sebagian besar pendukung hipotesis cenderung setuju bahwa sebagian besar alam semesta alternatif atau paralel akan tidak ramah terhadap kehidupan seperti yang kita ketahui.

Teori terakhir Stephen Hawking tentang kosmos, diselesaikan hanya beberapa minggu sebelum kematiannya pada bulan Maret 2018. Teori terakhirnya tentang asal mula alam semesta, mencoba memaparkan bukti adanya multi-semesta.

Penelitian terbaru, yang dipublikasikan dalam dua makalah di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, menunjukkan bahwa kehidupan berpotensi menjadi umum di seluruh multi-semesta, jika hal tersebut benar ada.

Kunci untuk temuan itu, para peneliti mengatakan, adalah energi gelap. Sebuah "kekuatan" misterius yang mempercepat perluasan alam semesta. Temuan ini menantang keyakinan bahwa alam semesta kita beruntung hanya memiliki sedikit energi gelap yang memungkinkannya untuk menjadi tuan rumah kehidupan, di antara banyak alam semesta lain yang tidak bisa mendukung kehidupan.

Energi gelap adalah kekuatan misterius yang mempengaruhi perluasan alam semesta, dan menyumbang hampir 70 persen dari total energinya. Teori-teori sebelumnya menyatakan bahwa alam semesta kita memiliki jumlah energi gelap yang sempurna. Melawan gravitasi dan membuat kosmos meluas dengan laju yang dipercepat, sebagaimana dilansir dari The Sun.

Dipahami bahwa lebih dari jumlah yang dianggap sempurna itu akan menciptakan ekspansi yang terlalu cepat, sehingga bintang dan planet tidak akan punya waktu untuk terbentuk.

Namun, para peneliti di Durham University di Inggris mengklaim benda-benda langit tersebut akan tetap terbentuk, bahkan jika alam semesta memiliki 100 kali energi gelap yang kita miliki.

Menggunakan simulasi komputer besar, penelitian baru menemukan bahwa menambahkan energi gelap, hingga beberapa ratus kali jumlah yang diamati di alam semesta kita, takkan berdampak besar pada bintang dan formasi planet.

Simulasi mereka dibuat menggunakan proyek EAGLE (Evolution and Assembly of Galaxies and Environments), salah satu program paling realistis yang memetakan alam semesta yang diamati. Ini membuka prospek bahwa kehidupan mungkin berkembang di seluruh jajaran yang lebih luas dari alam semesta lain, jika mereka ada, kata para peneliti.

"Bagi sejumlah fisikawan, jumlah energi gelap yang tidak dapat dijelaskan tetapi tampaknya berperan penting di alam semesta kita adalah teka-teki yang membuat frustrasi," kata Jaime Salcido dari Durham University.

"Simulasi kami menunjukkan bahwa bahkan jika ada lebih banyak energi gelap atau bahkan sangat sedikit di alam semesta, maka hal itu hanya akan memiliki efek minimal pada pembentukan bintang dan planet, meningkatkan prospek bahwa kehidupan bisa ada di seluruh multi-semesta," tambah Salcido.

Pascal Elahi, dari University of Western Australia, yang turut terlibat dalam penelitian, menambahkan, "Bahkan meningkatkan energi gelap ratusan kali mungkin tidak cukup untuk membuat alam semesta mati."

Related

Science 3143429606956045807

Recent

item