Cara Mudah dan Sehat Menghindari Serangan Kanker


Bagi dunia kesehatan, kanker adalah sebuah momok yang kemunculannya sulit terdeteksi. Kanker bisa menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh, dan pada semua golongan umur, meski lebih sering menimpa orang yang berusia di atas 40 tahun.

Menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Jika sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah berada pada stadium lanjut.

Siti Boedina, Senior Immunologist dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa kanker merupakan penyakit yang berasal dari sel tubuh sendiri. Kanker terjadi ketika sel-sel tersebut menjadi abnormal dan membelah tak terkendali hingga menyerang jaringan di sekitarnya.

“Sayangnya, kanker memiliki kemampuan menghindar dari sistem imun, karena pertumbuhan abnormalnya tersebut membuatnya tidak terdeteksi sebagai sel yang berbahaya,” katanya.

Seperti musuh di dalam selimut yang tak terdeteksi itulah yang membuat kanker jadi penyakit paling mematikan nomor dua di dunia. 

Sebuah rilis dari Global Cancer Observatory menyebutkan bahwa jumlah penderita kanker dunia mencapai 18 juta orang, dengan jumlah kematian sebesar 9,6 juta kasus setiap tahun. Itu berarti setiap dua detik akan ada satu orang baru yang menderita kanker, dan setiap tiga detik akan ada satu orang yang meninggal akibat kanker.

Sementara di Indonesia, kasus kanker mencapai 348.809 atau 1.362 kasus per 1 juta penduduk, dengan total kematian sebanyak 207.210 kasus. Dari total tersebut, angka kejadian tertinggi adalah kanker payudara (30,9% pada perempuan) dan kanker paru-paru (14% pada laki-laki).

Meski kanker sulit dideteksi, setiap orang dapat melakukan upaya pencegahan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat sejak usia muda. Ketua YKI, Aru Sudoyo, mengatakan gaya hidup yang salah menjadi penyebab utama terjadinya kanker, mulai dari pola makan yang tidak sehat, merokok, obesitas, infeksi, hingga konsumsi alkohol, sementara sisanya berasal dari faktor keturunan.

Selain masalah kesehatan, kanker juga menyebabkan masalah finansial bagi penderitanya. Sebuah studi dari Fred Hutchinson Cancer Research Center menemukan bahwa orang yang menderita kanker 2,7 kali lebih mungkin mengalami kebangkrutan daripada mereka yang tidak menderita kanker. Ini terjadi karena tingginya biaya perawatan pasien kanker.

Sejalan dengan itu, kebangkrutan finansial juga bisa menjadi faktor utama risiko kematian dini di antara para pasien kanker. Mereka yang tidak siap dengan tingginya biaya perawatan pada akhirnya cenderung tak bisa mendapatkan fasilitas terbaik. Kalaupun bisa, kebanyakan mentalnya sudah terganggu karena memikirkan faktor biaya tersebut.

Di sinilah asuransi kanker dapat meringankan beberapa beban keuangan yang dihadapi orang yang didiagnosis kanker. Ini juga dapat membantu para pejuang dan penyintas menyediakan dan melindungi keluarga mereka.

Sebuah riset di yang dipublikasikan RTI Press menunjukkan bahwa pasien yang tidak punya asuransi cenderung tidak menerima perawatan kanker yang optimal. 

Jadi ada perbedaan yang jelas antara pasien berasuransi dengan yang tak berasuransi jika ditinjau dari manfaat yang mencakup penurunan tingkat kematian, peningkatan kualitas hidup, peningkatan kelangsungan hidup untuk pasien kanker, serta dampak positif pada perawatan kesehatan secara keseluruhan dan biaya sosial.

Related

Health 5528288112273767019

Recent

item