Mengapa Film-film yang Diadaptasi dari Video Game Sering Gagal? (Bagian 1)


Film yang diadaptasi dari video game sering kali mengalami kegagalan. Mengapa demikian?

Video berjudul "Fuck You All" tayang di YouTube dan disambut dengan suka cita. Lewat video yang sudah ditonton jutaan orang itu, Uwe Boll, pembuatnya, mengumumkan bahwa ia akan pensiun sebagai sutradara. Akun bernama Dorjan Vukelic lantas berkomentar, “Video ini adalah hal terbaik yang pernah Anda sutradarai, tapi tetap saja seperti sampah.”

Sebanyak 1,6 ribu akun YouTube menyukai komentar Dorjan.

Uwe Boll memang sudah dikultuskan para penggemar film sebagai sutradara terburuk yang pernah ada. Semua film yang jumlahnya 33 buah itu adalah bencana. Skor film-film Boll di situs Rotten Tomatoes tak sampai 5%; para kritikus film tak punya belas kasihan saat menghajar film-film Boll. Tentu saja ia juga pernah memenangi Razzie Award, acara untuk merayakan film-film terburuk di Amerika.

“Orang ini (Boll) tidak bisa jadi sutradara. Ia tidak tahu di mana harus meletakkan kamera. Ia tidak bisa menyarankan aktor bagaimana cara menyampaikan dialog mereka... Ia tidak tahu hal-hal dasar semacam itu,” tutur John Wilson, penggagas Razzie Award, kepada Vanity Fair.

Boll memutuskan pensiun setelah gagal mengumpulkan dana untuk pembuatan film Rampage 3: No Mercy. Ia membutuhkan dana sebesar 55 ribu dolar AS untuk pembuatan film itu, tapi hanya mendapatkan dana sebesar 24 ribu dolar. Boll pun menyerah. Namun, alih-alih mengakui kalau dirinya sutradara semenjana, Boll justru menyebut pasar dan para penanam modal sebagai biang dari kegagalannya.

“Pasar film sudah mati,” kata Boll. “Tanpa bisnis DVD yang bagus, ini sudah tidak bisa diselamatkan—layanan streaming seperti Netflix dan kawan-kawan sangat bagus untuk pelanggan, tapi kami hanya akan mendapatkan 10% dari apa yang biasa kami dapatkan dari pembuatan film blockbuster.”

Dan, dalam video “Fuck You All” yang penuh sumpah serapah itu, Boll lantas mengutuk para penanam modal sebagai “bajingan egois” karena memilih mendanai film tentang "penyihir dungu di hutan” daripada mendanai filmnya.

Hollywood Gagal Menerjemahkan Video Gim ke Film

Matthew Gault, dalam tulisannya di Vice, menilai buruknya film-film Boll tak lepas dari tujuan sang sutradara membuat film. Boll hanya ingin menyenangkan para penanam modal, membayar bintang-bintang besar, juga memuaskan orang-orang yang bekerja dengannya. Boll, menurut Gault, hanya memikirkan keuntungan.

Maka, demi menekan biaya pengeluaran, Boll pun akhirnya sering kali bereksperimen agar produksi cepat kelar. Ia pernah nekat melakukan pengambilan gambar film Rampage tanpa naskah komplet. Sedangkan dalam pembuatan Bloodrayne yang dibintangi oleh Bill Zane dan Sir Ben Kingsley, Boll menyelesaikan film itu hanya menggunakan 20% naskah aslinya.

Selain itu, faktor lain kegagalan Boll ialah jenis film yang ia pilih. Alih-alih menggali naskah orisinil, Boll lebih suka mengadaptasi video gim. House of The Dead, Far Cry, Alone in The Dark, Bloodrayne, dan In The Name of The King adalah beberapa di antaranya.

Dan film-film itu berkualitas buruk.

Alone in The Dark, misalnya, mengutip Stephen Holden dari New York Times, “sangat tidak layak dari segi apapun, dan akan membuat Anda bertanya-tanya mengapa distributor tidak langsung merilisnya dalam bentuk video atau lebih baik langsung melemparkannya ke tempat sampah.”

Buruknya kualitas film yang diadaptasi dari video gim sebetulnya bukan hanya terjadi pada Boll, melainkan sudah menjadi masalah di Hollywood sejak lama. Dimulai dengan Super Mario Bros pada tahun 1993, tak ada film adaptasi video gim yang benar-benar memuaskan.

Rotten Tomatoes mencatat: The Angry Birds Movie Part 2 adalah satu-satunya film adapatasi dari video gim yang mampu memperoleh skor di atas 70%.

Baca lanjutannya: Mengapa Film-film yang Diadaptasi dari Video Game Sering Gagal? (Bagian 2)

Related

Entertainment 9077068236886395953

Recent

item