Mengapa Kita Suka Mendengar Lagu Meski Kadang Tidak Paham Liriknya?


Kita tidak perlu mengerti apa yang dilantunkan penyanyi untuk menikmati sebuah lagu. Iringan musik mampu memainkan emosi pendengar hingga terhanyut di dalamnya. Kita semua bisa melihat sendiri buktinya. Lagu-lagu berbahasa asing, seperti K-pop, J-rock hingga Bollywood, semakin meroket popularitasnya di panggung musik dunia.

Lagu klasik “Macarena” yang diciptakan Los del Río puluhan tahun lalu tak lekang oleh waktu. Begitu juga dengan “Despacito” karya Luis Fonsi feat. Daddy Yankee yang merajai tangga lagu berkat Justin Bieber, padahal bintang pop itu tidak bisa berbahasa Spanyol.

Terlepas pendengar memahami arti setiap bait liriknya atau tidak, keterbatasan bahasa tak mengurangi apresiasi mereka terhadap lagu tersebut.

Lisa Decenteceo, ahli etnomusikologi yang mengajar studi ilmiah tentang musik di University of the Philippines Diliman, menyebut ada kaitannya dengan “sound symbolism”. Dia menerangkan, istilah ini mengacu pada hubungan antara bunyi dan maknanya.

Menariknya, simbolisme bunyi dapat diaplikasikan secara luas, bukan sebatas musik saja. Para ahli pemasaran, misalnya, bisa saja memanfaatkan ini untuk menciptakan merek dagang yang catchy. Decenteceo beranggapan kata-kata sebagai suara, di luar maknanya dalam bahasa, memiliki daya tariknya sendiri.

Terapi Mental

“Sering kali, kita menikmati lirik sebagai suara saat mendengarkan musik dalam bahasa asing,” ucap Thea Tolentino, guru musik dan mahasiswa magister terapi musik di Melbourne, mengamini pendapat Decenteceo. Ini mungkin menjelaskan mengapa kita langsung tertarik pada suatu lagu padahal tahu liriknya saja tidak.

Meski budaya dan pengalaman pribadi memengaruhi reaksi seseorang terhadap berbagai jenis musik, Tolentino mengemukakan ada teknik musik tertentu yang umumnya membangun mood suatu lagu. Salah satunya adalah tangga nada, yang merupakan urutan nada dari terendah hingga tertinggi.

“Tangga nada mayor cenderung menghasilkan melodi yang riang gembira, sedangkan tangga nada minor biasanya menciptakan kesan melankolis dan lebih gelap,” terangnya.

Tolentino menambahkan, setiap bagian otak saling terhubung untuk merespons suara. Dalam proses “entrainment”, otak “menyinkronkan pernapasan, gerakan [dan] bahkan aktivitas saraf [dengan suara yang kita dengar].”

Itulah sebabnya orang lebih suka mendengarkan lagu bertempo cepat saat olahraga, atau memilih lagu berirama saat yoga.

Decenteceo berujar, bagaimana penyanyi melantunkan tiap lirik dan seperti apa suara mereka saat menyanyikannya—misalnya serak atau melengking—dapat memengaruhi suasana lagu. 

Ada banyak hal lain yang menyertai penggalan lirik. “Elemen suara dan musik, seperti pitch, melodi, harmoni, timbre dan amplitudo, memiliki dampak afektif, emosional, psikologis, kognitif hingga fisik bagi para pendengarnya. Musik menambahkan begitu banyak makna dan dimensi pada teks melalui kombinasi kompleks ini,” jelasnya.

“Lagu membebaskan suara dari keharusan mengekspresikan kata-kata yang bermakna,” lanjut Decenteceo, mengutip buku Richard Elliott berjudul The Sound of Nonsense. Dengan kata lain, unsur-unsur musik macam tangga nada dan melodi berpadu dengan suara sederhana dari lirik untuk menciptakan makna yang terlepas dari arti kata di kamus.

Namun, elemen musik tak hanya berkaitan dengan hal-hal seperti ketukan, harmoni, melodi dan suara instrumen lain, tetapi juga dengan cara musiknya dikemas dan disajikan kepada pendengar. 

Jika lirik hanyalah salah satu bagian dari musik, maka musik hanyalah satu bagian dari sesuatu yang lebih besar lagi. Faktor-faktor seperti reputasi musisi atau artefak subkultur genre—macam pesta rave atau festival musik house—turut membantu menyampaikan makna melalui lagu.

Tentu ini tidak mengesampingkan pentingnya makna linguistik lirik. Menurut Tolentino, lirik berperan besar dalam terapi musik karena dapat membantu orang mengenali, mengartikulasikan dan merefleksikan emosi mereka. Decenteceo menambahkan, penting bagi pendengar untuk mencerna pesan yang disampaikan dalam lirik lagu, karena bisa saja itu berarti buruk.

Tapi secara keseluruhan, Decenteceo menyebut ada nilai dalam daya tarik langsung apa pun yang dirasakan pendengar saat menyimak lagunya, tak peduli mereka memahami arti liriknya atau tidak.

Intinya, musik adalah bahasa universal yang disukai semua kalangan. Setiap orang memaknai lagu dengan persepsi mereka masing-masing, meski mungkin mereka tidak tahu bahasa yang digunakan.

Related

Psychology 2773628271595374077

Recent

Hot in week

item