Mengapa Orang Terkaya Dunia Tidak Membantu Orang Miskin dengan Membagikan Langsung Uangnya?


Pernah dengar cerita Mansa Musa? Raja dari Mali Empire, yang dikatakan sebagai orang terkaya di masanya. Ia menguasai lebih dari setengah cadangan emas yang diketahui dunia saat itu.

Saat melakukan perjalanan haji tahun 1324, ia membagi-bagikan emasnya pada masyarakat daerah yang dilewatinya, khususnya Kairo. 

Efeknya apa? Ekonomi hancur, karena emas jadi tidak berharga lagi. Orang tidak mau bertransaksi dan menerima emas karena semua punya emas.

Ketika semua orang mendapatkan uang 1 juta rupiah setiap hari, maka harga nasi goreng tidak akan 10 ribu rupiah lagi, tapi akan naik ke 100–200 ribu rupiah. Orang jadi tidak membutuhkan uang, tapi semua orang perlu makan. Kalau jumlah orang yang memasak sama saja (bahkan mungkin berkurang karena dia pikir sudah kaya), hasilnya krisis ekonomi, dan orang bisa saling bunuh.

Mengapa orang terkaya di dunia tidak membantu orang miskin dengan membagikan langsung kekayaannya? Karena tidak ada gunanya, seperti contoh di atas. Sejarah sudah membuktikannya.

Orang miskin akan tetap ada, karena miskin adalah standar. Sama seperti di sekolah, pasti ada "top 3", dan ada "worst/bottom 3". Tidak mungkin semuanya juara kelas.

Yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan standar dimana seseorang dikatakan "miskin". Misalkan, di negara A, seseorang dikatakan miskin ketika hanya dapat tinggal di apartemen kecil dan hidup dari social security. Tapi masih tetap makan minum (meski hanya pasta saja) dan masih punya tempat tinggal.

Di negara B, seseorang dikatakan miskin jika harus berjuang hidup untuk makan 3 kali sehari dan tinggal di bawah kolong jembatan. Ya sama-sama orang miskin, tapi hidupnya jauh lebih keras daripada di negara A.

Related

International 5383885567170694624

Recent

item