Pedagang Menjerit, Jual Minyak Goreng Mahal tapi Malah Rugi


Pedagang di pasar tradisional harus menghadapi kenyataan pahit akibat mahalnya harga minyak goreng. Bukannya untung, mereka justru harus rugi.

"Harga jual sekarang Rp22 ribu per kg, pernah sampai Rp23-24 ribu per kg. Saya ambil dari agen aja sudah Rp21 ribu, ditambah ongkos panggul ke sini, ditambah plastik, sebenarnya saya rugi. Makanya harga minyak naik, menjerit kita," kata Uni, pedagang di pasar Bogor.

Ia sebenarnya memiliki pilihan, yakni mengambil dari distributor dengan harga Rp15.500 per kg, namun terkendala dengan waktu antre yang sangat lama. Apalagi kebutuhan yang bisa dipenuhi juga sangat sedikit.

"Dari distributor murah tapi antre, dan maksimal cuma 10 kg, sementara kita perlu 40-60 kg. Itu antre dari jam 8-12 siang. mending jualan. Orang belanja jadi nggak rugi, kan," lanjutnya.

Karenanya ia lebih memilih untuk mendapat harga mahal namun cepat, dibandingkan bisa mengambil banyak dalam rentang waktu singkat.

Belum lagi, kata dia, masih ada biaya sewa yang harus dibayar ke pengelola pasar.

"Sewa tahunan Rp24 juta setahun untuk 3 kios, jadi harus simpan Rp2 juta/bulan, ditambah service charge Rp500 ribu/bulan, ditambah yang per hari 6 ribu dikalikan 30 hari," katanya.

Sementara itu pedagang lainnya juga mengakui bahwa keberadaan minyak masih tergolong langka saat ini.

"Minyak curah ini kadang ada, kadang nggak, nggak nentu. Apalagi jelang Lebaran ini," kata Suryadi.

Related

News 8921017534789568761

Recent

item