Sejarah dan Kisah-kisah Menarik di Balik Majalah Berusia 111 Tahun (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah dan Kisah-kisah Menarik di Balik Majalah Berusia 111 Tahun - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Palumbo-Liu berpendapat bahwa perubahan Teen Vogue terjadi tepat waktu, yakni ketika kaum muda sedang antusias terlibat dalam aktivisme. Mereka ingin tahu apa itu sosialisme yang populer di AS sejak Bernie Sanders maju dalam pemilihan primary Partai Demokrat pada 2016.

Sampai kini Teen Vogue masih mempertahankan formula yang sama meski Picardi sudah tidak bekerja di sana. Baru-baru ini kontennya masuk ke isu-isu aktivisme dari cara menghadapi petugas imigrasi yang tiba-tiba datang ke rumah, argumen untuk kampanye #8toabolition, hingga bagaimana publik semestinya memandang Kamala Harris, wakil presiden dari kalangan kulit hitam yang juga sering memenjarakan orang kulit hitam.

Teen Vogue menekankan agar publik tak terjebak dalam keterwakilan berdasarkan tampilan belaka, melainkan juga kinerja Harris sebelum jadi calon kandidat wakil presiden AS dan visi-misinya ketika menjabat wapres kelak.

“Cara Harris merespons berbagai isu yang dihadapi oleh orang kulit hitam terutama yang tinggal di negara bagian California kerap tidak konsisten dan sering mengecewakan,” demikian tulis Jenn M. Jackson, kolumis Teen Vogue yang berprofesi sebagai asisten profesor di Departemen Ilmu Politik Universitas Syracuse.

Teen Vogue tidak hanya membawa pembaruan di Conde Nast tetapi juga di majalah gaya hidup (perempuan) arus utama yang menargetkan kaum remaja hingga dewasa muda sebagai pembaca.

Sejak awal muncul ratusan tahun lalu, isu-isu sosial dengan pandangan yang kritis jarang sekali muncul di media gaya hidup arus utama. Saat pertama kali diedarkan lebih dari 150 tahun silam, majalah gaya hidup seperti Harper’s Bazaar (terbit 1867), Ladies Home Journal (terbit 1883), dan kemudian Vogue (terbit 1892) fokus pada pembaca perempuan kelas menengah ke atas dan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Harper’s Bazaar terbit di tengah mekarnya gerakan menuntut hak pilih untuk perempuan (suffragette) di AS. Tetapi yang menjadi fokus Harper’s Bazaar bukanlah kisah-kisah seputar hak pilih dan pengalaman memilih, melainkan perubahan gaya busana perempuan yang saat itu dipandang mewakili gerakan feminisme masa itu.

Selain busana, yang jadi bahasan adalah perihal interior rumah, masakan, dan juga kisah-kisah seputar keseharian perempuan.

Formula ini tidak banyak berubah hingga ratusan tahun kemudian. Namun yang jelas berubah adalah semakin bergantungnya majalah-majalah ini pada keberadaan pengiklan yang sedikit banyak berpengaruh pada konten majalah--yang mesti ‘main aman’ agar pengiklan tidak mencabut iklan. Ini terjadi pada seluruh majalah gaya hidup arus utama di dunia.

Contoh paling nyata adalah majalah Vogue AS yang lebih terlihat seperti katalog iklan produk fesyen dan aksesori mewah ketimbang media massa yang informatif.

Vogue edisi Inggris atau British Vogue mencoba mengambil jalan tengah: membuat majalah tetap relevan pada masa sekarang, sadar isu sosial-politik, namun tetap bisa mempertahankan pengiklan. Arah redaksional ini mulai berubah sejak Edward Enninful menjadi pria kulit hitam pertama yang duduk di kursi redaksi British Vogue.

Enninful sebelumnya sempat bekerja belasan tahun di Vice Inggris. Sebagai pemimpin redaksi, kini ia berupaya membuat tim kerja di Vogue lebih beragam dengan merekrut talenta-talenta baru dari berbagai latar belakang.

Robin Givhan, editor fesyen Washington Post pemenang Pulitzer Prize, menyebut Enninful sebagai sosok yang berani menempatkan multikulturalisme sebagai prinsip fundamental dalam berkarya.

Dalam tulisan hasil wawancara dengan Enninful, Givhan merinci bagaimana Edward berani menampilkan sosok-sosok yang tadinya tidak pernah ditampilkan dalam majalah gaya hidup kelas atas.

Contoh-contoh yang cukup penting bisa dilihat pada edisi September (edisi yang paling penting diantara edisi lain). Pada edisi September 2018, Enninful berani menampilkan Adwoa Aboah, model/aktivis kesehatan mental sebagai model sampul yang didandani seperti perempuan 1960an tanpa alis--sebuah simbol perlawanan terhadap kecantikan ideal khas 1960-an.

Enninful juga pernah menampilkan 15 pesohor perempuan dan transpuan sebagai sampul majalah diantaranya Greta Thunberg, Jacinda Ardern, Sinead Burke, Chimamanda Ngozi Adichie, Laverne Cox, dan Yara Shahidi.

Ada pula edisi yang menampilkan 20 aktivis seperti aktivis isu disabilitas Alice Wong, aktivis kekerasan domestik Fiona Dwyer, aktivis isu sejarah dan kebudayaan, Patrick Vernon, dan sebagainya.

“Aku menyadari: Oh Tuhan, ini mungkin normal buatku, tapi untuk Vogue ini hal yang berbeda. Melihat konten keragaman di Vice rasanya berbeda dengan melihat konten tersebut di sampul majalah British Vogue yang sudah punya sejarah panjang,” kata Enninful kepada Givhan seperti yang tercatat dalam Washington Post.

Kepada Business of Fashion, Piccardi mengaku diprotes banyak orang terutama kalangan konservatif di AS yang tidak menyukai format baru Teen Vogue. Kini protes-protes semacam itu tidak lagi penting di saat para pengiklan juga mulai sadar bahwa orang muda lebih suka melihat aktivisme sosial di media ketimbang majalah yang hanya berisi katalog iklan dan halaman mode.

Related

Business 4903182215207830609

Recent

Hot in week

item