Sisi Lain Kim Jong-un dan Korea Utara yang Jarang Diketahui


Naviri Magazine - Pada musim panas tahun 1998, Kim Jong-un kembali ke Korea Utara, karena sekolahnya di Swiss libur. Dia sedang di rumah keluarga besar di pantai dekat Wonsan.

Dia berada di kereta untuk kembali ke ibu kota Pyongyang. Duduk bersamanya, sambil mengamati desa dan sawah, adalah juru masak asal Jepang, Kenji Fujimoto.

Dalam buku yang terbit pada 2003, Fujimoto menulis bahwa Kim Jong-un mengatakan kepadanya, "Fujimoto, negara kita terbelakang di bidang teknologi industri, bahkan dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Kita masih mengalami mati listrik."

Dia mengatakan, Kim kemudian membandingkan keadaan Korea Utara dengan Cina.

"Saya dengar Cina telah berhasil dalam banyak hal. Jumlah penduduk kita 23 juta orang. Rakyat Cina jumlahnya lebih satu miliar. Bagaimana mereka dapat memasok listrik? Pastinya sulit menghasilkan cukup pangan bagi satu miliar orang. Kita perlu mengikuti contoh mereka."

Jika cerita Fujimoto benar, maka Kim Jong-un telah menyampaikan pemikiran yang sebenarnya tidak pantas, berdasarkan sistem yang berlaku di Korea Utara.

Sejak 1955, ideologi penuntun Korea Utara adalah Juche. Kata yang sering kali diterjemahkan sebagai 'kemandirian'. Ini adalah "sumbangan terbesar" Kim Il-sung terjadap pemikiran Marxist-Leninist. Ada tugu peringatan besar Juche di bantaran selatan Sungai Daedong di Pyongyang. Orang-orang diminta untuk tidak meremehkan tugu ini.

Tetapi Juche adalah sebuah mitos. Korea Utara tidak mandiri dan memang tidak pernah mandiri. Dalam 40 tahun pertama, negara ini nyaris 100% bergantung kepada dukungan ekonomi Moskow. Ketika Uni Soviet runtuh, ekonomi Korea Utara yang dikendalikan pemerintah juga ambruk, dan rakyatnya kelaparan.

Di tengah kelaparan, rakyat Korea Utara mulai berdagang. Dari kekacauan dan keruntuhan tahun 1990-an, muncul ekonomi baru. Tidak diatur dan secara resmi tidak diakui, tetapi bisa membantu rakyat Korea Utara bertahan hidup.

Related

International 9051599521238437562

Recent

item