Sri Lanka Gagal Bayar Utang Luar Negeri Rp 700 Triliun, Rakyat Ngamuk


Sri Lanka gagal bayar utang luar negeri sebesar US$ 51 miliar atau Rp 729 triliun (kurs Rp 14.300) di tengah krisis ekonomi terburuk. Gelombang protes juga mewarnai krisis Sri Lanka yang meminta pemerintah mundur.

Kekurangan makanan dan bahan bakar parah serta pemadaman listrik yang panjang membawa penderitaan kepada 22 juta orang di negara itu.

Kemarahan publik terbakar dalam beberapa pekan terakhir dengan berusaha menyerbu rumah para pejabat pemerintahan. Sedangkan pasukan keamanan membubarkan pengunjuk rasa dengan gas air mata dan peluru karet.

Kementerian Keuangan Sri Lanka mengatakan telah gagal membayar semua utang luar negeri, termasuk pinjaman dari pemerintah asing menjelang dana talangan IMF.

"Pemerintah mengambil tindakan darurat hanya sebagai upaya terakhir untuk mencegah penurunan lebih lanjut dari posisi keuangan," bunyi pernyataan kementerian dikutip dari NDTV.

Kreditur bebas membebankan bunga apapun kepada Sri Lanka atau memiliki pembayaran utang dalam mata uang rupee Sri Lanka.

Krisis ekonomi Sri Lanka dimulai dari ketidakmampuan untuk mengimpor barang-barang penting setelah pandemi COVID-19 menekan pendapatan dari pariwisata dan pengiriman uang.

Pemerintah memberlakukan larangan impor yang luas untuk menghemat cadangan devisa dan menggunakannya untuk membayar utang yang kini gagal bayar.

Para ekonom mengatakan krisis diperburuk oleh pemerintah yang salah urus, akumulasi utang, dan pemotongan pajak yang salah.

Kekecewaan publik terhadap pemerintah meluas. Warga Sri Lanka harus antre panjang untuk membeli bensin, gas, dan minyak tanah yang langka untuk memasak. Ribuan orang berkemah di luar kantor presiden dan menyerukan agar mundur.

Related

News 8701426361249563237

Recent

Hot in week

item