Elon Musk Ingin Linimasa Twitter Berbasis Kronologi, Bukan Algoritma

Elon Musk Ingin Linimasa Twitter Berbasis Kronologi, Bukan Algoritma

CEO Tesla Elon Musk berencana mengubah sistem linimasa alias timeline Twitter berbasis kronologi dan bukan lagi algoritma.

"Twit kronologis sepertinya jauh lebih baik daripada yang disarankan algoritma," kicau pengusaha berusia 50 tahun tersebut.

"Ketuk bintang di kanan atas layar untuk kembali ke [pola] kronologis," canda Musk, yang ternyata ditanggapi serius sejumlah pengikutnya.

Unggahan Musk itu di-retweet oleh lebih dari 27 ribu warga Twitter, mendapat 387,3 ribu like, dan dikomentari oleh lebih dari 14 ribu orang, per Kamis (12/5) pukul 19.38 WIB.

Sebagian menunjukkan dukungan, yang lainnya menentang. Yashu Sharma, pemilik akun @heyitsyashu, sambil me-retweet kicauan lamanya, mengingatkan bahwa penggunaan algoritma berpotensi menjadi ajang 'cuci otak'.

"Ini adalah pengingat bagi Anda, jika feed Twitter Anda tidak diurutkan berdasarkan tweet terbaru, Anda sedang dicuci otak," kicaunya.

Sementara, Julian Shapiro, pemilik akun @Julian, menilai rencana Musk ini bakal menyulitkan warganet yang mengikuti banyak akun.

"[Rencana] itu mungkin akan berhasil untuk Anda karena Anda mem-follow sangat sedikit orang. Namun saat Anda mengikuti ratusan atau ribuan orang, seperti kebanyakan pengguna Twitter, saya membayangkan Anda memerlukan algoritma untuk memisahkan sinyal dari kegaduhan. Jika tidak, semburannya gila," urai dia, yang juga merupakan pendiri BellCurve.com.

Seperti diketahui, Musk baru saja mengakuisisi Twitter seharga US$44 miliar. Meski proses akuisisi itu belum sepenuhnya rampung, Musk sudah menyiapkan beberapa rencana terhadap platform media sosial berlogo burung biru tersebut.

"Jika akuisisi Twitter tuntas, perusahaan akan sangat fokus kepada software engineering, desing, infosec & server hardware," tulis Musk.

Dikutip dari Hootsuite, Twitter ditenagai oleh banyak algoritma yang menentukan bagaimana sebuah konten disajikan kepada pengguna. Konten-konten tersebut antara lain mengenai rekomendasi akun, personalisasi, dan sajian cuitan di lini masa penggunanya.

Algoritma tersebut kemudian mempelajari preferensi pengguna terhadap akun twitter mereka. Alhasil, Twitter sendiri tidak tahu bagaimana algoritma mereka menyajikan konten terhadap pengguna dari waktu ke waktu.

Sebelum diatur oleh algoritma, linimasa Twitter, dan juga platform media sosial lainnya, didasarkan pada urutan waktu unggahan alias kronologis. 

Menurut Jennifer Cobbe, periset dari Universitas Cambridge, rencana Musk itu tidak penting. Baginya, yang terpenting adalah soal bagaimana Twitter mengembangkan algoritmanya.

"Sering orang-orang berbicara soal akuntabilitas terkait algoritma. Kita mengetahui bahwa algoritma saja bukanlah hal yang ingin kita lihat," katanya.

"Apa yang benar-benar kami inginkan adalah informasi soal bagaimana mereka dikembangkan," ujar Cobbe seperti dikutip dari Technology Review.

Related

News 8156126601675990647

Recent

item