Kisah First Travel dan Pelajaran Tersembunyi yang Bisa Kita Pelajari

Kisah First Travel dan Pelajaran Tersembunyi yang Bisa Kita Pelajari

Kita mengenal pasangan suami istri super tajir ini. Sang suami bernama Andika Surachman dan istrinya bernama Anniesa Hasibuan.

Pasangan yang serasi. Suami tampan dan seorang pengusaha sukses, sementara istrinya cantik dan seorang desainer mendunia. Mereka tinggal di rumah bak istana. Pakaian yang dikenakan adalah deretan merek terkenal.

Tapi itu dulu. Kini, keduanya meringkuk di penjara. Kasusnya sempat membut heboh sejagat nusantara. Pemilik agen perjalanan First Travel ini, terbukti secara sah melakukan penipuan dan penggelapan uang ribuan jamaah umrah. Berapa nilainya? Rp 905,33 miliar! Hampir satu trilyun. Tak sedikit bukan?

Sejoli ini sebenarnya punya kisah hidup yang layak diteladani. Mereka meniti usaha dari nol. Merangkak dari dasar—berpeluh darah.

Andika awalnya seorang pramuniaga di sebuah gerai minimarket. Di awal menikah, pernah pula kerja magang di sebuah Bank Swasta dengan gaji seadanya. Untuk menambah penghasilan, pasangan ini berjualan di lapak kecil. Di pinggir jalan. Yang dijual mulai dari pulsa, burger, hingga kain sprei. Tapi tak ada kemajuan.

Bermodal nekat tanpa pengalaman, Andika lalu membuka usaha travel dengan label First Karya Utama. Karena tak punya modal, Andika nekat menggadaikan rumah satu-satunya peninggalan ayah mertua ke bank. Dengan uang Rp 50 juta, mereka memulai bisnis travel tersebut.

Berhasil? Tidak! Mereka gagal total.

Bahkan di bulan keenam, mereka tak mampu membayar cicilan. Rumah jaminan disita bank, listrik diputus, dan mereka terusir. Mereka pindah ke rumah kontrakan yang sempit, diiringi cemoohan yang mereka santap tiap hari.

Tapi mereka tak menyerah. Dengan sisa modal 10 juta, mereka menawarkan paket travel secara door to door. Tapi nihil hasil. Selama setahun, mereka hanya dapat 5 konsumen. Tak menutup biaya dan modal yang telah mereka keluarkan.

Titik balik usaha mereka dimulai dari sebuah kebetulan. Mereka ditawari mengikuti pameran travel. Gratis. Di acara itu, mereka mendapat konsumen untuk memandu wisata ke Lombok.

Selepas itu, usahanya mulai menyebar dari mulut ke mulut.

Pintu sukses terbuka lebar, ketika mereka mendapat kepercayaan untuk memberangkatkan umrah 127 pegawai Bank Indonesia dan 50 pegawai Pertamina. Padahal, mereka sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Mekkah. Modal nekat, mereka berangkatkan rombongan itu. Hasilnya sukses besar.

Sejak saat itu, usaha berkembang pesat. First Travel menjadi salah satu agen perjalanan umrah tersohor, yang menangani ribuan jamaah. Kantor cabangnya dibuka di mana-mana.

Pasangan ini pun merambah ke bisnis lain. Aniesa Hasibuan, sang istri, mengembangkan bakatnya sebagai desainer. Koleksi karyanya bahkan sempat dipamerkan di Amerika, dan mendapatkan respons yang positif. Butiknya di Jakarta menjadi langganan para pesohor tanah air.

Hidup mereka berubah total. Dari rumah kontrakan yang sempit, mereka pindah ke rumah megah bak istana. Tubuh mereka disemati pakaian bermerek dengan harga super mahal. Plesiran mereka dengan fasilitas berkelas di berbagai negara, seperti ingin membalas ejekan yang mereka terima tatkala dulu menjajakan kain sprei dan burger di pinggir jalan.

Pasangan suami istri itu seperti menyimpan dendam kesumat. Kemiskinan di masa lalu, seperti dianggap momok yang harus disingkirkan. Bergelimang harta, mereka lampiaskan dendam itu dengan hidup foya-foya, dan memuaskan gaya hidup hedonis.

Di titik inilah, tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya tengah menuju jurang kehancuran.

Jika semula mereka gunakan keuntungan usaha untuk memuaskan nafsunya, belakangan hari justru uang jamaah umrah yang mereka selewengkan.

Sampai akhirnya, jadwal keberangkatan jamaah umrah mulai mengalami penundaan. Tak cuma sekali. Tetapi beberapa kali. Uang di kas menguap. Uang jamaah yang semestinya dipakai untuk biaya keberangkatan, dipakai oleh pasangan ini untuk berfoya-foya.

Puncaknya, kedok mereka terbongkar. Uang milyaran rupiah yang disetor oleh ribuan jamaah umrah, ternyata tak ada wujudnya. Raib. Akibatnya, ribuan jamaah yang sudah menyetor uang, gagal diberangkatkan.

Tanah air pun geger. Polisi turun tangan, dan kasusnya sampai di meja sidang.

Sidang yang panjang dan berlarut, akhirnya sampai di ujung. Kedua pasangan itu, terbukti secara sah menggelapkan uang jamaah umrah senilai hampir 1 trilyun rupiah.

Hakim mengetok palu. Andika divonis penjara 20 tahun penjara, sementara istrinya 18 tahun penjara.

Begitulah… kita bisa belajar dari kasus ini untuk tidak perlu dendam dengan kemiskinan, dan tak terlalu mengelu-elukan kekayaan.

Related

Indonesia 6014106285178187838

Recent

item