Mengapa Bisnis Keluarga Sering Terancam Bubar di Generasi Ketiga?

Mengapa Bisnis Keluarga Sering Terancam Bubar di Generasi Ketiga?

Ini memang menjadi fenomena umum di dunia. Contoh klasik di Indonesia adalah keluarga Oei Tiong Ham dari Semarang, yang seratus tahun lalu adalah orang terkaya di Asia.

Seperti kata pepatah, kekayaan keluarganya "habis" di generasi ketiga. Ayahnya merintis usaha, Oei Tiong Ham membesarkannya. Dan saat ia meninggal, anak-anaknya yang berjumlah puluhan berebut warisan di pengadilan sampai 15 tahun.

Generasi pertama, ayah Oei Tiong Ham, Oei Tjie Sien, adalah pengungsi dari Tiongkok karena menghindari perang saudara, Pemberontakan Taiping, yang sedang melanda negerinya. Ini perang yang kejam. Diperkirakan 30–50 juta orang tewas dan menjadi peperangan paling mengerikan di dunia pada abad ke-18.

Peperangan ini membuat 30 juta orang mengungsi, ke wilayah lain di Cina atau ke luar negeri. Salah satunya adalah Oei Tjie Sien, yang datang ke Semarang pada 1858, saat usianya 23 tahun.

Begitu sampai Semarang, ia mulai mencari makan. Awalnya menjadi penjual kelontong keliling dengan pikulan. Tapi usahanya maju pesat. Dalam lima tahun sudah memiliki toko kecil. Ia berdagang gula, yang saat itu mulai banyak diproduksi di Jawa. Setahun setelah membuka bisnis ini, anaknya, Oei Tiong Ham, lahir.

Generasi kedua ini, Oei Tiong Ham, mewarisi karakter-karakter bisnis ayahnya yang gigih dan terampil, disokong latar belakang ekonomi ayahnya yang sudah besar. Ayahnya menyekolahkan Oei Tiong Ham dan mewajibkan belajar Bahasa Melayu.

Pendidikan membuat Oei Tiong Ham berbeda dengan ayahnya. Oei Tiong Ham, misalnya, bisa memanfaatkan jasa bank.

Oei tahu lebih efisien dari sisi modal, misal pinjam bank saat beli panenan tebu untuk pabrik gula. Dengan demikian, uangnya bisa untuk kebutuhan ekspansi lain, misalnya membuat pabrik pupuk.

Kalau ayahnya, sebisa mungkin tidak meminjam uang, sehingga pertumbuhan bisnis tidak secepat Oei Tiong Ham.

Dengan keterampilan ini, saat usia 20 tahun, misalnya, Oei Tiong Ham sudah menjadi letnan warga Cina di Semarang. Dalam beberapa tahun, ia kemudian menjadi orang terkaya di Asia.

Nah, itu generasi kedua: membesarkan bisnis keluarga dengan hebat.

Bagaimana generasi ketiga?

Oei Tiong Ham memiliki 8 istri dan 26 anak. Ini belum termasuk anak dari belasan gundiknya. Setelah usianya tua, Oei Tiong Ham pusing memikirkan ahli waris. Akhirnya, ia memutuskan hanya memberikan warisan pada 9 anak, dan memutuskan warisan pada yang lain.

Keputusan ini tidak bisa dijalankan dalam hukum Hindia Belanda, jadi ia pindah ke Singapura. Di sana, ia meninggal pada 1924. Setelah itu, anak-anak yang tidak mendapat warisan menuntut ke pengadilan. Akhirnya warisan diselesaikan setelah sekitar 15 tahun bertikai di pengadilan.

Jadi, generasi ketiga mendapat warisan perusahaan yang sudah terpecah-pecah. Nasib sial dialami lagi, karena pada zaman Soekarno, perusahaannya dianggap asing dan dinasionalisasi, dijadikan BUMN dengan nama grup Rajawali Nusantara Indonesia.

Kecenderungan bisnis [keluarga] bubar pada generasi ketiga adalah fenomena umum di dunia. Dalam bahasa Inggris, fenomena ini disebut Three generations from shirtsleeves to shirtsleeves.

Related

Business 7447942662300453931

Recent

item