Mengapa Tuhan Menciptakan Orang Jahat dan Berdosa? (Bagian 2)

Mengapa Tuhan Menciptakan Orang Jahat dan Berdosa?

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengapa Tuhan Menciptakan Orang Jahat dan Berdosa? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Justru termasuk keadilan plus kemurahan-Nya bahwa meski Dia yang menciptakan kita, Dia masih memberikan “kehendak bebas” dan kesempatan pada kita untuk memilih, apakah akan tunduk pada-Nya ataukah membangkang, apakah beriman kepada-Nya ataukah ingkar. 

“Barang siapa yang hendak beriman, silakan beriman, dan barang siapa hendak kafir, silakan kafir.” (QS. Al Kahfi 29)

Padahal seorang tuan yang menciptakan dan yang memiliki, punya kuasa mutlak atas apa yang ia ciptakan dan ia miliki, dan ini adalah suatu kepantasan. Kita sebagai makhluk dan milik-Nya, akan ditakdirkan bagaimana, itu terserah pada-Nya. Bahkan jika Allah mau, bisa saja Allah menciptakan orang baik yang kemudian dimasukkan ke dalam neraka. Hanya saja ini mustahil karena, “Tuhanmu tidaklah zalim terhadap hamba-Nya.” (QS. Fusshilat 46)

Oleh karena manusia tidak pernah tahu apa yang menjadi ketetapan takdirnya, maka urusannya hanyalah berusaha. Islam menganjurkan untuk berusaha dan tidak berpangku tangan; apalagi bersandar pada takdir.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d 11)

Apa berarti Tuhan punya sifat jahat?

Subhanallah, maha suci Allah dari sifat itu. Betapa banyak anak kecil yang berkata, “Papa jahat!” hanya karena keputusan sang ayah yang tidak disenanginya. Itu karena akalnya memang tidak mampu mencapai kebijaksanaan yang dimiliki oleh orang dewasa seperti sang ayah. Tapi apakah ayah tersebut benar-benar jahat?

Ini bukan lagi antara orang tua dengan anak kecil. Ini antara Yang Maha Mencipta dengan ciptaan-Nya. Oleh karenanya, tatkala malaikat bertanya kepada Allah Taala mengapa menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di bumi padahal nanti mereka akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, Dia hanya menjawabnya dengan kalimat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al Baqarah 30)

Lalu kenapa Tuhan menciptakan orang jahat yang kemudian dimasukkan ke neraka?

“Dia tidaklah ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan merekalah manusia yang ditanya.” (QS. Al Anbiya 23)

Sesederhana itu.

Sudah dijelaskan bahwa takdir seseorang bukan urusan manusia. Nabi saja tidak punya urusan di sini. Beliau pernah mendoakan laknat kepada beberapa orang musyrik Quraisy yang masih hidup secara tunjuk hidung, dengan menyebut nama mereka masing-masing. 

Sebelumnya untuk diketahui, doa laknat adalah doa supaya dijauhkan dari rahmat Allah sejauh-jauhnya. Ini artinya beliau berdoa supaya orang itu tidak akan pernah selamat selama-lamanya sampai akhirat. Namun bukannya mengabulkan, ternyata Allah justru menurunkan ayat yang menegur beliau, “Ini bukanlah urusanmu sedikitpun.” (QS. Ali Imran 128)

Dan terbukti, dari beberapa nama yang disebut laknatnya oleh Nabi, ada yang masuk Islam dan baik keislamannya. Ia menjadi sahabat beliau hingga akhir hayat.

Kalau begitu, kita harus menerima semua perbuatan, bahkan yang buruk dan bertentangan dengan agama, karena itu sudah kehendak-Nya?

Kehendak Allah itu ada dua jenis, kehendak syariat (Iradah Syar’iyyah) dan kehendak realitas (Iradah Kauniyah). Kehendak syariat adalah seluruh ketentuan agama, sedangkan kehendak realitas/kauniyah adalah apa yang menjadi cakupan takdir yang sedang kita bahas. 

Bagi seorang muslim, segala perbuatan yang bertentangan dengan kehendak syariat sudah semestinya tidak diterima, meski secara kehendak realitas, itu pasti terjadi karena Allah sendiri yang menakdirkannya.

Terkait ini, para ulama memberikan ringkasan, “Kehendak-Nya yang bersifat kauniyah mencakup apa yang dicintai-Nya dan dibenci-Nya, sedangkan kehendak-Nya yang syariyyah hanyalah yang dicintai-Nya.”

Ada kisah menarik di abad pertengahan. Dahulu ada seseorang yang berbuat kriminal dan kemudian dibawa kepada seorang khalifah untuk dihukum cambuk.

Orang itu pun komplain kepada khalifah, “Wahai amirul mukminin, kenapa Anda akan menghukumku, bukankah Allah telah menghendakiku berbuat jahat?”

Tanpa pikir panjang, sang khalifah pun langsung mencambuknya. Setelah itu ia berkata pada orang tersebut, “Engkau juga jangan protes karena hukumanku kepadamu juga termasuk kehendak Allah.”

Dalam kisah ini, sang khalifah hendak memberikan pelajaran pada orang tersebut bagaimana seharusnya sikap seseorang terhadap takdir, bahwa takdir terhadap perbuatan manusia tidak semestinya dijadikan pembenaran dari pilihan buruk yang diambil.

Related

Moslem World 5577966477608453511

Recent

item