Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam (Bagian 1)

Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam

Pohon Pengetahuan Tentang yang Baik dan yang Jahat adalah pohon yang menurut Kitab Suci Yahudi dan Kristen ditempatkan Allah di tengah Taman Eden. Kisah ini terdapat dalam Kitab Kejadian pasal 2 dan 3. 

Menurut Kejadian 2:9, Allah melarang Adam (termasuk juga Hawa) memakannya (Kejadian 2:17). Pohon lain yang juga ada di tengah taman itu adalah "Pohon Kehidupan". Kejadian 2:16 menyatakan bahwa Allah mengizinkan mereka makan buah-buahan dari semua pohon lainnya yang ada di taman itu.

Kitab Kejadian 2:16 menyatakan bahwa Allah mengizinkan mereka memakan buah dari pohon manapun juga yang ada di taman itu, termasuk buah Pohon Kehidupan. 

Ketika Hawa, dan kemudian Adam, memakan buah yang terlarang itu dari Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat (Kejadian 3:6), setelah dicobai oleh si ular (Kejadian 3:1–5), mereka jadi sadar bahwa mereka telanjang (Kejadian 3:7), dan mereka diusir dari taman itu dan terpaksa hidup dengan bertani "dengan peluh di wajah mereka". (Kejadian 3:19-24).

Dalam Islam, hanya disebutkan bahwa Allah melarang Adam mendekati pohon itu tanpa menjelaskan lebih jauh apa pohonnya, karena pohonnya tidak penting dibandingkan larangan mendekati yang merupakan perintah (menunjukkan ketaatan). 

Seperti halnya larangan mendekati zina, larangan kepada Adam berupa mendekati pohon, apalagi memakan buahnya. Dalam Q.S. Thahaa: 120 disebutkan “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” 

Penyebutan pohon khuldi (berarti keabadian) dilakukan oleh syaitan, bukanlah sesuatu yang dapat dipercaya karena Adam dan Hawa tidak menjadi abadi setelah memakan buah itu. Hal ini berbeda dengan penyebutan pohon pengetahuan di Injil, karena Adam dan Hawa matanya benar terbuka setelah memakan buah.

Yudaisme

Menurut tradisi Yahudi, perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon itu dimaksudkan untuk memberikan kebebasan memilih kepada Adam dan Hawa dan mengizinkan mereka untuk mengumpulkan, dan bukan menerima, kesempurnaan mutlak serta hubungan yang intim dengan Allah, suatu tingkat yang lebih tinggi daripada tingkatan mereka saat mereka diciptakan. 

Menurut tradisi ini, Adam dan Hawa mestinya dapat mencapai kesempurnaan mutlak dan mempertahankan keabadian, andaikan mereka berhasil dalam melawan godaan untuk memakan buah dari pohon itu. Setelah gagal dalam tugas ini, mereka dihukum dengan bekerja untuk suatu masa tertentu, untuk memperbaiki alam ciptaan yang telah gagal. 

Tradisi Yahudi memandang si ular, dan kadang-kadang Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, sebagai representasi dari kuasa jahat.

Yudaisme Reformasi dan Yudaisme Konservatif tidak melihat "kejahatan" selain dari tindakan jahat manusia sendiri. Pelanggaran Hawa satu-satunya adalah bahwa ia tidak menaati perintah Allah. Adam ada bersamanya sepanjang waktu, dan sama sekali tidak berusaha menghentikannya. Karena itu, tidaklah tepat bila kita mempersalahkan Hawa semata-mata. 

Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden dan harus menjalani hidup manusia yang biasa. Dengan kata lain, mereka harus "meninggalkan rumah" dan bertumbuh dan hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab. 

Baca lanjutannya: Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam (Bagian 2)

Related

History 4280123614741773216

Recent

item