Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam (Bagian 2)

Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Pohon Pengetahuan Menurut Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Andaikan mereka tak pernah memakan buah dari pohon larangan itu, mereka tidak akan pernah menemukan kapasitas mereka untuk bertindak dengan kehendak bebas di dunia. Allah tidak menginginkan manusia yang tidak mempunyai pilihan dan hanya melakukan apa yang baik dan benar.

Rabbi David Fohrman dari Yayasan Hoffberger untuk Studi Torah, mengutip tulisan Maimonides, "Guide for the Perplexed", menyatakan bahwa "pohon itu tidak memberikan kesadaran moral ketika kita tidak mempunyainya. Sebaliknya, ia mentransformasikan kesadaran ini dari satu jenis ke jenis yang lainnya." 

Setelah memakan buah pohon itu, perasaan yang ada di dalam diri manusia untuk memiliki kesadaran moral ditransformasikan dari konsep salah dan benar menjadi konsep baik dan jahat. 

Kitab Kejadian menggambarkan pohon itu sebagai pohon yang menarik (3:6), dan konsep kita tentang baik dan jahat, berbeda dengan konsep kita tentang salah dan benar, juga mempunyai ukuran keinginan yang tersirat (implicit measure of desire). 

Kristen

Dalam teologi Kristen, Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat terkait dengan doktrin tentang dosa asal. Augustinus dari Hippo percaya bahwa umat manusia mewarisi dosa itu sendiri dan kesalahan atas dosa Adam dan Hawa. Dengan memakan buah pohon itu, Adam dan Hawa berusaha menjadi seperti Allah. 

Untuk perdebatan tentang doktrin Gereja Barat mengenai dosa asal dan doktrin Gereja Timur tentang dosa nenek moyang, lihat "Ancestral Versus Original Sin: An Overview with Implications for Psychotherapy." 

Ada sekelompok kecil orang Kristen yang memegang doktrin Pelagius. Pelagianisme adalah doktrin yang percaya bahwa setiap individu menghadapi pilihan yang sama antara dosa dan keselamatan seperti yang dihadapi oleh Adam dan Hawa.

Islam

Dalam literatur agama Islam, pohon ini hanya disebut dengan Pohon Khuldi (Syajarati al-Khulud), secara makna memiliki arti "pohon kekekalan".

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thahaa: 120)

Menurut Ibnu Katsir saat menafsirkan surat Al Baqarah ayat 35, ia mengatakan pohon itu adalah pohon tin, demikian pula dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Juraih, dan bisa jadi ia adalah salah satu dari apa yang disebutkan, itu adalah ilmu. 

Jika dia mengetahui, maka akan bermanfaat bagi alam dengan pengetahuannya, dan jika seorang tidak mengetahuinya maka alam tidaklah merugi dengan ketidaktahuannya. Demikianlah yang dipilih oleh Fakhruddin ar-Razi di dalam tafsirnya, dan juga selainnya.

Menurut Imam Ahmad, dari firman-Nya “Pohon Khuldi” yaitu apabila dimakan darinya maka akan kekal, ”Telah bercerita kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Abi adh-Dhahak bahwa aku telah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa rasulullah bersabda, ’Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara di bawah kerindangannya berjalan selama seratus tahun, belum bisa mengitarinya, yaitu pohon khuldi.” 

Ini juga diriwayatkan dari Ghandar dan Hajjaj dari Syu’bah. Abu daud ath-Thayalisi di dalam musnadnya meriwayatkan dari Syu’bah juga. Ghandar mengatakan, ”Aku berkata kepada Syu’bah bahwa itu adalah pohon khuldi.” Dia mengatakan, ”tidak ada di dalamnya (kalimat) pohon itu.”

Related

History 6181948068723705493

Recent

item