40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 5)

40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah - Bagian 4). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

36. Pangeran Bandar bin Sultan (Prince Bandar bin Sultan)

Penulis yang sangat dihormati untuk Telegraph, Ambrose Evans-Pritchard, mengatakan, kepala intelijen Saudi Arabia, Pangeran Bandar bin Sultan, pada tahun 2013 mengakui bahwa pemerintah Saudi mengontrol teroris di Chechnya.

Rincian pembicaraan pertama kali bocor ke pers Rusia. Sebuah versi yang lebih rinci telah muncul di surat kabar Lebanon As-Safir, yang memiliki link Hizbullah dan memusuhi Saudi.

As-Safir mengatakan Pangeran Bandar berjanji untuk menjaga pangkalan Angkatan Laut Rusia di Suriah, jika rezim Assad digulingkan. Tetapi, ia juga mengisyaratkan serangan teroris Chechnya pada Olimpiade Musim Dingin Rusia di Sochi, jika tidak ada kesepakatan.

“I can give you a guarantee to protect the Winter Olympics next year. The Chechen groups that threaten the security of the games are controlled by us.” (“Saya bisa memberikan jaminan untuk melindungi Olimpiade Musim Dingin tahun depan. Chechnya, kelompok yang mengancam keamanan olimpiade, dikendalikan oleh kami),” katanya.

37. NATO Melakukan Serangan (NATO Attacks Blamed)

Sumber tingkat tinggi Amerika mengakui bahwa pemerintah Turki, bersama negara NATO, melakukan serangan senjata kimia, lalu menuduh dan menyalahkan pemerintah Suriah (Syiria), dan pihak pemerintah Turki mengakui dalam rekaman tentang rencana mereka untuk melakukan serangan dan menyalahkan pemerintah Suriah.

38. Serangan Penembak Jitu (The Sniper Attacks)

Mantan kepala keamanan Ukraina mengakui bahwa serangan penembak jitu (sniper) adalah titik awal dalam memulai kudeta di Ukraina, mencopot pemerintah yang sah, lalu menggantinya dengan yang baru, dan dilakukan juga untuk menjebak pihak-pihak tertentu dan juga orang lain.

39. Kudeta Ukraina (The Ukrainian Coup)

Agen mata-mata Inggris mengakui telah melakukan operasi “bendera palsu digital” (digital false flag) yang menyerang target sasaran. Kemudian menjebak orang dengan menulis materi yang menyinggung atau melanggar hukum, lalu menyalahkan semua itu pada target sasaran.

40. Operation False Flag Pada Masa Lalu

Selain puluhan dan semua Operation False Flag atau Operasi Bendera Palsu di atas, pada masa lalu pernah terjadi bahwa dua-per-tiga dari Kota Roma terbakar dalam kebakaran berskala besar pada tanggal 19 Juli tahun 64.

Menurut sejarawan Tacitus, Kebakaran Besar Roma dimulai pada malam tanggal 18 Juli 64, di pertokoan di sekeliling Circus Maximus, Roma. Banyak orang Roma yang tinggal di rumah kayu, sehingga api dengan cepat merambat. Api tersebut hampir padam setelah lima hari, namun kembali menyala.

Sementara itu, Suetonius menulis bahwa api tersebut membakar Roma selama enam hari tujuh malam. Api membakar habis 4 dari 14 distrik di Roma, dan 7 lainnya mengalami kerusakan parah.

Istana Nero, Kuil Jupiter Stator dan Kuil Vesta, juga hancur dalam kebakaran itu. Kemudian, orang-orang Romawi menyalahkan Kaisar Nero, yang memicu asal muasal kebakaran.

Beberapa pemimpin top Romawi, termasuk konsul Romawi Cassius Dio, serta sejarawan seperti Suetonius, sepakat bahwa Nero yang memicu api itu.

Tuduhan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Senat Romawi baru saja menolak aplikasi Nero untuk membersihkan 300 hektar lahan di Roma sehingga ia bisa membangun kompleks istana, dan memicu kebakaran akan memungkinkan dia untuk membangun kompleks istananya. Kebakaran hebat yang menghanguskan 2/3 kota Roma kala itu lalu dinamakan sebagai Great Fire of Rome atau Kebakaran Besar Roma.

Terlepas dari siapa sebenarnya yang memulai atau memicu api, Nero menghadapi opini publik yang menuduhnya sebagai otak pembakaran. Namun pihak Kristen secara palsu disalahkan sebagai pemicu atau yang memulai api kebakaran. Orang-orang Kristen mengaku, namun tidak jelas apakah mereka mengaku karena disiksa dan apa yang diakui, sebagai penyebab kebakaran.

Menurut Tacitus, Nero memerintahkan agar orang Kristen dimangsa binatang, disalibkan, atau dibakar di tiang sebagai penerangan. Nero kemudian ditangkap dan disiksa secara brutal, dan dibunuh oleh sejumlah orang Kristen untuk sesuatu yang mereka mungkin tidak lakukan.

Komentar Para Tokoh

Para tokoh di sepanjang sejarah telah mengakui bahaya “Bendera Palsu” atau “False Flags”, di antaranya:

Friedrich Nietzsche: “Sejarah serangan ‘Bendera Palsu’ digunakan untuk memanipulasi pikiran rakyat! Pada individu, kegilaan jarang; tapi dalam kelompok, partai, bangsa, dan zaman, hal itu adalah aturan.” 

Adolf Hitler: “Terorisme adalah senjata politik terbaik tanpa menggerakkan orang untuk lebih keras daripada rasa takut terhadap kematian mendadak.” 

Hermann Goering: “Tentu saja orang tidak ingin berperang. Tapi semua itu adalah kebijakan yang ditentukan dari para pemimpin negara, dan semua itu selalu merupakan hal yang mudah untuk menyeret orang-orang secara bersama-sama, apakah itu demokrasi, atau kediktatoran fasis, atau parlemen, atau kediktatoran komunis… suara atau tidak ada suara, orang-orang selalu bisa dibawa ke penawaran dari para pemimpin. Dan hal itu mudah. Yang harus Anda lakukan adalah untuk memberitahu mereka yang sedang diserang, dan mencela para pecinta damai karena kurangnya patriotisme dan justru mengekspos negeri anda dalam keadaan bahaya. Ia bekerja sama di negara manapun.”

Josef Stalin: “Cara termudah untuk mendapatkan kontrol dari populasi adalah melakukan aksi teror. [Masyarakat] akan menuntut undang-undang tersebut jika keamanan pribadi mereka terancam.”

Related

International 347862385833972225

Recent

item