Cara Menghindari Emosi Negatif agar Jiwa Selalu Tenang dan Tenteram (Bagian 1)

Cara Menghindari Emosi Negatif agar Jiwa Selalu Tenang dan Tenteram

Salah satu strategi agar kekuatan dan daya resiliensi tidak mudah jatuh adalah dengan menghindari atau menjauhi negative emotion. Secara spesifik, wujud dari negative emotion bisa berupa emosi kemarahan, kesedihan, kekecewaan, kebencian, julid, sirik, nyinyir, hingga iri dan dengki, atau juga rasa sinisme yang berlebihan (cynical emotion).

Pertama-tama layak disebutkan, ternyata negative emotion memiliki dampak yang buruk bagi kekuatan dan daya resiliensi dalam diri kita. Studi saintifik menunjukkan, saat jiwa kita terlalu sering disergap emosi kemarahan, kesedihan, kekecewaan, ataupun sinisme yang berlebihan, maka kekuatan dan daya resiliensi dalam diri kita akan mudah jatuh dan lenyap.

Saat emosi negatif terus menghadang, kita akan mudah mengalami “grit depletion” (lenyapnya kekuatan keuletan dalam diri kita). Dengan kata lain, kekuatan grit atau kegigihan dalam jiwa kita akan mudah tergerus habis saat pikiran kita diliputi emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan, atau rasa sinisme yang berlebihan.

Itulah kenapa untuk memelihara kekuatan dan daya resiliensi, kita mesti pandai mengelola emosi. Kita selayaknya menjauhi atau menghindari hal-hal yang bisa memicu kemarahan, kebencian, dan rasa sinisme dalam diri kita.  

Hal ini perlu dikemukakan sebab sejumlah orang terlalu mudah mengumbar emosi negatif, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Padahal proses pengumbaran emosi negatif (misalnya sinisme berlebihan) ternyata berdampak buruk bagi kekuatan dan daya resiliensi kita.

Saat kita terlalu mudah menghamburkan emosi negatif, ternyata diam-diam akan menguras energi dan kekuatan grit kita. Tanpa disadari, hal ini akan membuat kita mudah kehilangan konsistensi, dan akhirnya mudah menyerah untuk menjalani action dengan penuh ketekunan.

Emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan, hingga kebencian dan juga sinisme berlebihan, acap muncul dalam diri kita karena interaksi dengan lingkungan di sekitar, baik dunia fisik ataupun interaksi dunia maya (online).

Misal jika di dunia offline, kita mudah kecewa dan marah saat dihadapkan pada jalanan yang macet. Atau juga perasaan jadi emosi saat menghadapi rekan kerja yang kurang kooperatif, atau menjumpai pelayanan pelanggan yang kurang sesuai harapan. Atau hati kita merasa sakit saat seseorang yang kita kenal mengeluarkan komentar negatif tentang diri kita. Hati kita kemudian jadi sedih dan kecewa.

Dalam interaksi online, kita juga mudah terpicu emosi jika membaca konten di media sosial yang memantik kemarahan atau kekecewaan. Kita juga acap menjumpai sinisme yang agak berlebihan dalam bentuk komentar negatif dari para netizen tentang sebuah isu. Saat muncul sebuah isu, tak jarang banyak komentar muncul dengan nuansa negatif dan kurang memberikan apresiasi.  

Pada akhirnya, interaksi online yang kita jalani tak jarang justru membuat kita jadi ikut pedih. Pedih karena mungkin terdorong jadi marah terbawa emosi demi sebuah isu, atau juga jadi ikut-ikutan terlalu sinis secara berlebihan terhadap beragam hal.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan rasa sinisme sejatinya sangat destruktif bagi kekuatan grit dan daya resiliensi diri kita. Saat jiwa kita terpicu oleh emosi kemarahan, kekecewaan atau sinisme berlebihan, maka kekuatan grit dan daya resiliensi dalam diri kita mudah lenyap.

Dan saat kekuatan grit dan daya resiliensi menurun, kita akan mudah menyerah dan cenderung malas melakukan action secara tekun dan konsisten.

Dari paparan di atas, menjadi penting bagi kita untuk melakukan strategi demi menghindari jebakan negative emotion. Atau tepatnya, kita mesti menyusun langkah agar tidak mudah terpapar beragam informasi yang membuat emosi kita terkoyak. 

Secara lebih spesifik, ada setidaknya tiga langkah praktikal yang bisa kita jalani untuk menghindari jebakan negative emotion.

Cara pertama untuk menghindari emosi negatif adalah dengan menjalankan “expectation gap principle”.

Dalam ilmu tentang kebahagiaan, dikenal sebuah konsep bernama expectation gap principle. Jadi sumber utama kekecewaan, kesedihan dan kemarahan kita terjadi karena hal yang sederhana: yakni saat ekspektasi yang Anda harapkan tidak sesuai kenyataan.  

Makin tinggi ekspektasi kita pada sebuah hal, makin mudah kita terjebak dalam emosi negatif saat realitas yang terjadi tidak sesuai yang kita harapkan. Kita mudah kecewa saat jalanan macet, sebab ekspektasi kita jalanan lancar. Kita jadi bete sebab ekspektasi kita kerjaan lancar, namun ternyata banyak hambatan. Hati kita pedih sebab ekspektasi kita mendapatkan dukungan dan apresiasi, namun yang didapat malah kata-kata yang merendahkan.

Maka cara efektif untuk mengendalikan emosi negatif adalah membangun  ekspektasi yang optimal (optimal expectation) dan realistis. Maksudnya adalah jika, dari hasil analisa Anda, situasinya memang sangat kondusif, maka wajar jika Anda membangun ekspektasi tinggi.

Namun dalam sejumlah situasi tertentu dimana banyak potensi masalah muncul, selayaknya kita bisa membangun ekspektasi yang lebih realistis. Tujuannya agar kita tidak terlalu kecewa dan sedih saat realitas yang pahit hadir di hadapan kita.

Kepandaian Anda dalam mengelola ekspektasi personal akan amat menentukan keberhasilan dalam mengendalikan emosi negatif dalam diri Anda.

Emosi kemarahan, kekecewaan dan kesedihan dalam diri Anda bisa dikurangi secara signifikan, jika Anda mampu merajut ekspektasi yang optimal akan berbagai hal di sekitar Anda.

Baca lanjutannya: Cara Menghindari Emosi Negatif agar Jiwa Selalu Tenang dan Tenteram (Bagian 2)

Related

Inspiration 3674609324226756652

Recent

item