Kenaikan Tarif Listrik Golongan Kaya Resmi Berlaku Juli 2022

Kenaikan Tarif Listrik Golongan Kaya Resmi Berlaku Juli 2022

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan kenaikan tarif tenaga listrik kepada pelanggan listrik yang masuk dalam golongan kaya atau golongan listrik 3.500 Volt Amphere (VA) ke atas (R2 dan R3) dan golongan Pemerintah (P1, P2, dan P3).

Adapun kenaikan tarif listrik golongan kaya ini resmi diberlakukan mulai 1 Juli 2022. "Mulai berlakunya per 1 Juli 2022," terang Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana dalam Konfrensi Pers di Kantor Kementerian ESDM.

Rida mengatakan, setidaknya saat ini terdapat 38 golongan pelanggan yang dilayani PLN. Adapun dari 38 pelanggan tersebut dibagi menjadi dua golongan, yakni subsidi sebanyak 25 golongan dan non subsidi sebanyak 13 golongan.

"Khusus hari ini kita fokus ke golongan yang gak subsidi. Jadi sekali lagi teman- teman, kita hanya menyoroti ke golongan kelompok yang non subsidi," kata Rida.

Lebih lanjut, Rida menjelaskan bahwa pemerintah masih menahan untuk tidak menyesuaikan tarif listrik pelanggan bersubsidi lantaran berbagai faktor. Mulai dari pertimbangan untuk menjaga daya beli masyarakat hingga menekan angka inflasi.

"Jadi kita fokus ke 13 golongan yang non subsidi. Di antaranya dengan berbagai pertimbangan dan rangkaian rakor antara Kementerian Lembaga, maka kita putuskan mana yang dibutuhkan koreksi kebijakan sebelumnya," kata dia.

Adapun, 13 golongan itu, diantaranya R2: 3.500 VA - 5.500 VA, R3: 6.6000 VA, 200 KVA. P1: 6.600 VA - 200 KvA dan P3 serta P2: 200 KVA.

"Kami dengan pak Dirut (PLN Darmawan Prasodjo), orang rumah tangga yang mewah, tidak pantaslah kalau rumah semewah itu dapat bantuan negara. Kemudian kami koreksi pada kesempatan pagi hari ini," terang Rida.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan penyesuaian tarif ini dilakukan guna mewujudkan tarif listrik yang berkeadilan, di mana kompensasi diberikan kepada masyarakat yang berhak, sementara masyarakat mampu membayar tarif listrik sesuai keekonomian.

"Penerapan kompensasi dikembalikan pada filosofi bantuan pemerintah, yaitu ditujukan bagi keluarga tidak mampu. Ini bukan kenaikan tarif. Ini adalah adjustment, di mana bantuan atau kompensasi harus diterima oleh keluarga yang memang berhak menerimanya," kata Darmawan.

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2017, tidak pernah ada kenaikan tarif listrik untuk seluruh golongan tarif pelanggan. Untuk menjaga tidak ada kenaikan tarif listrik, pemerintah telah menggelontorkan subsidi listrik sebesar Rp 243,3 triliun dan kompensasi sebesar Rp 94,17 triliun sejak tahun 2017 hingga 2021.

Dalam proses pelaksanaannya, lanjut dia, kelompok masyarakat mampu yaitu pelanggan rumah tangga 3.500 VA ke atas ikut menerima kompensasi dalam jumlah relatif besar. Sepanjang tahun 2017 - 2021, total kompensasi untuk kategori pelanggan tersebut mencapai Rp 4 triliun.

"Apalagi pada tahun ini kita menghadapi gejolak global yang mengakibatkan kenaikan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 1, berakibat kenaikan BPP sebesar Rp 500 miliar. Sehingga pada tahun 2022 saja, diproyeksikan Pemerintah perlu menyiapkan kompensasi sebesar Rp 65,9 triliun," ungkap dia.

Dengan adanya penyesuaian tarif, pelanggan rumah tangga R2 berdaya 3.500 VA hingga 5.500 VA (1,7 juta pelanggan) dan R3 dengan daya 6.600 VA ke atas (316 ribu pelanggan) tarifnya disesuaikan dari Rp 1.444,7 per kilowatthour (kWh) menjadi Rp 1.699,53 per kWh. 

Sedangkan pelanggan pemerintah P1 dengan daya 6.600 VA hingga 200 kilovolt ampere (kVA) dan P3 tarifnya disesuaikan dari Rp 1.444,7 kWh menjadi Rp 1.699,53 per kWh. Sementara pelanggan pemerintah P2 dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp 1.114,74 kWh menjadi Rp 1.522,88 kWh.

Related

News 1039368422370115809

Recent

item