Mengenal David Hume dan Lahirnya Filsafat Empirisme

Mengenal David Hume dan Lahirnya Filsafat Empirisme

David Hume lahir pada 26 April 1711 di Edinburgh, Skotlandia. Tiga abad setelah kelahirannya, Hume dikenang sebagai seorang pemikir yang memberikan pengaruh besar, tidak hanya bagi perkembangan filsafat, tetapi juga bagi kita dalam menangani bidang sosial, politik, dan ekonomi. 

Meski demikian, banyak juga yang menganggap Hume berbahaya, karena sifat skeptisnya yang dianggap tidak bertanggung jawab. Namun, sebelum dikenang sebagai pemikir yang memberikan pengaruh besar, Hume juga merupakan pelajar dan mendapatkan pendidikan yang sangat baik semasa pendidikannya.

Tidak puas dengan yang ia pelajari di Universitas Edinburgh, Hume kemudian memutuskan untuk keluar dari universitas dan memilih pergi ke Prancis untuk menjadi filsuf karena ketertarikannya yang besar terhadap filsafat dan pengetahuan. 

Di Prancis, ia pergi ke La Fleche di Anjon, Prancis. Disanalah ia kemudian bertemu Jesuit dari College of La Fleche dan menghabiskan tabungannya untuk menulis salah satu karyanya yang terkenal, “A Treatise of Human Nature”, yang ia selesaikan saat usianya memasuki 26. 

Karyanya itu kemudian dipublikasikan pada tahun 1744, yang kemudian disusul dengan penetapan Hume sebagai ketua Pneumatics dan Moral Filsafat dan Moral di Universitas Edinburgh. Posisi ini akhirnya diberikan kepada William Cleghorn, karena pengajuan petisi yang diajukan oleh Menteri Edinburgh, yang menuduh Hume sebagai ateis ke Dewan Kota. 

Lebih dari itu, Hume juga dituduh melakukan bidah, dan pada akhirnya ia tidak pernah mendapatkan posisi apapun. Namun, meski demikian, David Hume merupakan puncak empirisme, suatu aliran yang bertolak belakang dengan aliran rasionalisme.

Hume sangat dipengaruhi oleh empirisis seperti John Locke dan George Berkeley. Empirisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Dengan menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan, empirisme juga dikenal sebagai aliran yang mengecilkan peranan akal dalam memperoleh pengetahuan yang hakiki.

Secara terminologis, terdapat beberapa pengertian mengenai empirisme. Seperti bahwa empirisme, di antaranya, merupakan doktrin yang percaya bahwa sumber pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa seluruh ide yang dimiliki merupakan abstraksi yang telah dibentuk dengan melakukan penggabungan terhadap apa-apa yang dialami, dan bahwa pengalaman indrawi merupakan satu-satunya sumber pengetahuan.

Lebih lanjut, pada empirisme terdapat beberapa ajaran pokok yang kemudian menjadi apa-apa yang dipegang teguh oleh mereka yang menganut paham ini. Ajaran-ajaran pokok tersebut mencakup: 

(1) Pandangan bahwa dengan menggabungkan apa-apa yang telah dialami dapat membentuk sebuah abstraksi yang kemudian menciptakan ide atau gagasan; 

(2) Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman indrawi, bukan akal maupun rasio; 

(3) Pengetahuan yang kita miliki bergantung pada data indrawi; 

(4) Semua kesimpulan yang diturunkan merupakan hasil dari data indrawi, kecuali beberapa kebenaran yang sifatnya defisional logis dan matematis; 

(5) Akal budi tidak dapat memberikan pengetahuan mengenai suatu realitas; 

(6) Empirisme mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, oleh karenanya empirisme dapat dikatakan sebagai filsafat pengalaman.

Hume melawan ajaran-ajaran rasionalitas tentang ide-ide bawaan dari tiga pemikiran sebelumnya, yang kemudian membawa Hume pada skeptisisme yang mendasari hal tersebut. Dengan mengembangkan pandangan Hutcheson dan menggabungkan empirisme Locke dan Berkeley, ia kemudian berpendapat bahwa pengetahuan hanya didapat dari persepsi panca indra. 

Dari sanalah Hume kemudian memulai pemikirannya yang kontroversial, melalui penggabungan dua konsep yang kemudian mengarahkannya pada pemikiran bahwa pengetahuan terbaik kita yang adalah hukum ilmiah bukanlah apa-apa, melainkan persepsi penginderaan yang kemudian meyakinkan apa yang telah kita rasakan.

Dalam bukunya, “A Treatise of Human Nature”, Hume mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan lainnya didasarkan pada ilmu pengetahuan mengenai manusia. Sehingga, menurutnya, dengan mempelajari ilmu tersebut, dapat menjadi proses pembelajaran dalam mempelajari landasan dari segala pengetahuan manusia. 

Lebih lanjut, menurut Hume, ide bawaan bukanlah sumber pengetahuan. Menurutnya, pengamatan persepsi pengindraanlah yang merupakan sumber pengetahuan. Hasil pengamatan dari persepsi pengindraan inilah yang kemudian disebut sebagai impressions (kesan-kesan) dan ideas (ide-ide).

Dilansir dari Brouwer (1986: 62), kesan merupakan sensasi, hasrat, dan emosi yang kita rasakan seketika. Kesan, lebih jauh, merupakan hasil data dari proses manusia dalam menyentuh, melihat, mendengar, menginginkan, bahkan mencintai dan membenci dalam waktu yang terbilang singkat dan seketika, sedangkan gagasan adalah salinan atau bentuk samar dari kesan. 

Letak perbedaan kesan dan gagasan dapat dilihat dari kesan yang memiliki kekuatan dan penampakan yang jauh lebih besar, sebab sifatnya yang langsung berasal dari pengalaman saat itu juga.

Sedangkan gagasan hanyalah gambaran dari kesan yang kita miliki terhadap sesuatu, yang terdapat pada pemikiran, penalaran, dan ingatan kita. Karenanya, semua pengalaman menurut Hume masuk pada golongan penghayatan dan golongan ide-ide. 

Lebih jauh, Hume juga menjelaskan hubungan antara kesan dan ide, dengan menyatakan bahwa keduanya dapat dipandang dari segi simplisitas atau kompleksitasnya, yang kemudian dapat dibagi menjadi dua kategori.

Hume memiliki ketertarikan yang besar terhadap relasi sebab dan akibat. Mengetahui hubungan sebab akibat terjadi sejak lama di alam ini, dan hal ini pun telah dibahas sejak lama dalam diskursus filsafat. Kendati demikian, Hume menegaskan bahwa pendapat mengenai hubungan itu tidak benar, dan hubungan yang tidak benar ini didasari oleh kebingungan semata. 

Menurutnya, seluruh peristiwa yang ada di kehidupan kita dan telah kita amati tetap memiliki hubungan antara satu dengan yang lain, tetapi hubungan ini tidak dapat disebut sebuah kausalitas.

Hume menjelaskan bahwa pendapat mengenai kausalitas atau hubungan sebab-akibat merupakan hubungan atas ide-ide yang dimiliki. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa ide mengenai kausalitas tidak dapat diperoleh melalui persepsi, sebab, menurutnya, dengan suatu gejala tertentu yang disusul oleh gejala tertentu cenderung membawa kita pada pemikiran bahwa gejala yang satu disebabkan oleh gejala yang sebelumnya. 

Pada akhirnya, Hume menegaskan bahwa pengalaman, apapun bentuknya, jauh lebih memberi keyakinan terhadap sesuatu dibanding kepastian logika atau kebenaran sebab-akibat. Menurut Hume, pengalamanlah yang memberikan informasi lebih lengkap terkait objek yang langsung dan pasti yang diamati, sesuai waktu dan tempatnya.

Related

Science 7297228567941562863

Recent

item