Teuku Nyak Makam, Panglima Perang Aceh yang Paling Ditakuti Belanda

Teuku Nyak Makam, Panglima Perang Aceh yang Paling Ditakuti Belanda

Jika kita menonton film Cut Nyak Dhien yang dibintangi Christine Hakim, di sana ada adegan ketika tentara Belanda menggrebek sebuah rumah, dan menemukan seorang pria tua terbujur di tikar karena sakit. Tanpa ampun, seorang perwira Belanda menghunus pedang dan memenggal kepalanya. Itulah Panglima Teuku Nyak Makam.

Mengapa Belanda begitu marah, sehingga dalam keadaan sakit lelaki itu dipancung di tempat tidurnya? 

Jawabannya karena selama hidupnya lelaki tua itu adalah panglima perang Aceh yang paling dicari oleh Belanda. Ia telah banyak mengalahkan pasukan Belanda dalam berbagai peperangan. Jadi, pemenggalan kepala Panglima Teuku Nyak Makam itu lebih kepada balas dendam Belanda.

Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh halaman 212 dijelaskan bahwa Panglima Teuku Nyak Makam merupakan panglima perang yang diangkat oleh Sultan Aceh untuk memimpin perang melawan Belanda di wilayah timur Aceh, yakni di kawasan Aceh Timur, Langkat dan Deli (Sumatera Utara). Ia sukses menghalau pasukan Belanda di sana sehingga tidak bisa masuk ke Aceh.

Setelah sukses di sana, Panglima Teuku Nyak Makam kemudian ditarik kembali oleh Sultan Aceh ke wilayah Aceh Besar, memimpin serangan-serangan terhadap Belanda, antara lain ia dan pasukannya berhasil menyusup ke Pulau Breuh (Pulau Beras) untuk menghalau Belanda dari wilayah barat laut Aceh, karena itu pula Panglima Teuku Nyak Makam sangat ditakuti oleh Belanda.

Tapi usia dan sakit kemudian membuat sang panglima harus istirahat. Pada 1 Juli 1896 pasukan Belanda menyergapnya di rumahnya, di Lam Nga, dalam keadaan sakit. Kepalanya dipancung dan kemudian diawetkan oleh Belanda dalam stoples berisi air raksa, kemudian dipajang di rumah sakit militer Belanda di Kutaraja.

Related

History 7922814112626934219

Recent

item