Menguak Kerasnya Persaingan di Balik Bisnis Barang Rongsok

Menguak Kerasnya Persaingan di Balik Bisnis Barang Rongsok

Siapa yang mengira dunia bisnis barang bekas alias rongsokan atau rombengan begitu keras? Ada banyak pemain atau pelaku bisnis ini yang bisa saling bersikutan, baku hantam, hingga saling mengancam nyawa.

Hukum rimba itu seperti diceritakan Dirman (bukan nama sebenarnya), salah seorang bos rombengan di Surabaya. Menurutnya, para pelaku bisnis rombeng ini tidak bisa orang sembarangan. Secara khusus, tapi tidak berlaku mutlak, ia menyebutkan bahwa bisnis rongsokan ini dominan ditekuni oleh orang dari etnis tertentu.

"Tapi nggak sedikit pelaku bisnis rombeng ini yang bukan dari etnis yang saya maksud. Termasuk saya, kan. Cuma yang tidak bisa dimungkiri, pelakunya dominan orang-orang dari etnis tertentu itu. Yang tidak menganggap sampah itu menjijikkan, tapi sebagai ladang intan," cerita Dirman blak-blakan.

Ya, bisnis rongsokan memang memanfaatkan peluang dari barang-barang yang dianggap usang, rusak, sudah tidak diperlukan, dan tak jarang menjijikkan karena bercampur dengan sampah lainnya. Di sisi lain, barang-barang itu menjanjikan intan karena bernilai jual dengan keuntungan yang mampu memberikan kemakmuran.

"Teka kene iso dadi akeh (dari bisnis ini bisa jadi banyak). Akeh iku (banyak itu) maksudnya aku bisa punya 2 pikap, terus ada 1 truk, ada mobil pribadi satu. Terus ono tanah, ono omah loro (terus ada tanah, ada 2 rumah). Ya, semua dari usaha yang tak jalankan ini," ujar Dirman.

Ia mengaku memulai bisnis ini sejak 9 tahun yang lalu. Saat itu, sebagai pemain baru, ia sudah dihadapkan dengan potensi konflik yang begitu besar. Salah satu yang dia ingat betul adalah ketika dirinya untuk pertama kali mengambil barang-barang rongsok dari gedung bekas stasiun televisi swasta di Surabaya.

"Awal-awal membangun itu, dengan modal 1 pikap, aku ambil barang rongsok di salah satu gedung televisi swasta besar di Surabaya. Aku datang bawa pikap. Di sana sudah ada pelaku pengusaha lain dengan anak buahnya yang bawa (Toyota) Fortuner. Ada tiga pelaku usaha waktu itu, ada juga yang bawa Pajero," ujarnya.

Saat Dirman hendak mengambil barang rongsokan, dia sempat mendapat ancaman. 

Karena Dirman kenal dan sudah meminta izin kepada pengelola gedung itu, ia masuk saja ke gedung tanpa menghiraukan orang-orang bermobil mewah itu. Ia ambil barang-barang bekas yang sudah dijanjikan pengelola gedung, terutama kertas dan kardus yang memang bernilai jual. Ketika memuat barang-barang itu ke pikap, saat itulah ia ditegur.

"Aku sempat ditegur karo wong-wong iku. Pasukane, ya. Dudu bose. (Aku sempat ditegur sama orang-orang itu. Pasukannya, ya. Bukan bosnya). 'Lho koen njupuki barange sopo?' Tak jawab, yo, barangku iki. 'Lho koen iku sopo?' (Kamu mengambil barangnya siapa? Saya jawab, ya, barangku ini. Lho kamu itu siapa?)" Ujar Dirman.

Pada saat itu, untung saja instingnya untuk berkelit masih moncer. Lantaran ia mengambil barang itu bukan mencuri dan sudah mendapat izin dari pengelola gedung, ia beralasan bahwa dirinya adalah karyawan di kantor media itu yang hendak memindahkan barang ke kantor baru.

"Yo akhire tak jawab, aku karyawan kene. Iki barang-barangku, arep tak pindah nang kantorku. (Ya akhirnya kujawab, aku karyawan sini. Ini barang-barangku, mau tak pindah ke kantorku). Setelah itu reaksi mereka berbeda. Kalau nggak begitu, nggak tahu gimana nasibku saat itu. Dari peristiwa itu aku sadar, ternyata seperti ini kerasnya bisnis ini. Padahal tadinya aku mengira ini bisnis yang paling aman," ujarnya.

Teritori atau wilayah kekuasaan, menurut Dirman, menjadi hal yang vital pada bisnis rongsokan ini. Bila satu pelaku usaha sudah menguasai daerah tertentu sebagai "ladang intan"-nya, kemudian ada pemain baru yang nekat masuk tanpa izin, maka persinggungan akan terjadi. Gesekan yang tidak jarang akan menjadi pertikaian.

"Itu potensi konfliknya. Kalau permainan harga, saya kira nggak. Wilayah itu yang menjadi potensi konflik antara satu pemain dengan pemain lainnya. Makanya saya tidak mau masuk ke sana. Saya pilih potensi lain yang tidak terjangkau oleh pelaku umum, yang dominan orang-orang etnis tertentu itu," ujarnya.

Dirman kemudian belajar jatuh-bangunnya mendulang intan di bisnis rongsokan. 

Sembilan tahun menjalankan bisnis rongsokan, Dirman telah memetakan segala risiko yang bisa ia hadapi sewaktu-waktu. Intinya, bagaimana bermain aman dan mendapatkan keuntungan tanpa menjadi serakah dengan mengambil ladang intan milik orang lain. Sebab, bisnis rongsokan ini, menurut Dirman, ujung-ujungnya duit yang tidak sedikit.

Karena Dirman hanya bermain di barang rongsokan jenis kertas dan kardus, ia hapal berapa banyak pabrik yang menjadi sasaran para pelaku bisnis rombengan di Surabaya dan sekitarnya. Setidaknya ada 4 hingga 5 pabrik kertas yang mau menampung kertas maupun kardus bekas dengan harga yang fluktuatif.

"Ada 4 sampai 5 pabrik kertas HVS yang mau menampung kertas maupun kardus bekas. Kalau besi itu ada di Waru (Sidoarjo), terus ada di Warugunung (Surabaya). Kalau plastik itu ada di Krian. Pabriknya memang sedikit, tapi pemainnya banyak. Ada ratusan pemain yang masuk ke pabrik itu," ujarnya.

Meski demikian, selama 9 tahun keluar masuk pabrik kertas untuk meraup keuntungan dari hasil mengumpulkan sampah kertas dan kardus bekas, Dirman mengaku para pemain rongsokan yang masuk pabrik yang ia temui hanya itu-itu saja. Beberapa di antaranya bahkan datang dari Kudus, Jawa Tengah.

"Kalau yang dari Kudus itu lari ke sini bukan karena di sana enggak ada pabrik. Ada pabrik tapi menghargai kertasnya murah. Di sini ini kan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) tertinggi. Kalau UMK tinggi otomatis biaya operasionalnya juga tinggi. Makanya mereka (pengepul dari Kudus) larinya ke sini. Kayak sekarang ini, harga dari pabrik sedang tinggi bisa 6 ribu per kilo, persaingan menjadi semakin ketat. Banyak pemain yang masuk," ujarnya.

Related

Business 205214729966552217

Ads

Topic

Recent

item