Menuju Kebebasan Finansial (2)

Menuju Kebebasan Finansial

Naviri.Org - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Menuju Kebebasan Finansial 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Lebih banyak orang yang bekerja namun penghasilannya tak pernah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan (atau keinginannya), tak peduli berapa pun banyak penghasilannya. Ada banyak orang yang bekerja dan menghasilkan uang, namun hutangnya tak pernah lunas terbayar.

Juga ada banyak orang yang bekerja dan memperoleh penghasilan setiap bulan, namun pola hidupnya tak pernah berubah dari; bekerja, dapat gaji, bayar tagihan, beli kebutuhan, memenuhi keinginan, lalu... bekerja lagi, dapat gaji lagi, bayar tagihan lagi, beli kebutuhan lagi, memenuhi keinginan lagi... teruuuus, sampai mati.

Kalau kita bekerja dan menghasilkan uang hanya untuk melakukan pola semacam itu, bukankah kita tak ubahnya seperti terjebak dalam siklus lingkaran setan bernama keterbudakan terhadap uang...? Kita bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang, dan kemudian uang itu kita gunakan untuk menutup semua tagihan dan kebutuhan serta memuaskan sedikit keinginan, lalu bekerja lagi untuk mendapatkan uang lagi, dan kemudian begitu lagi yang terjadi...

Pertanyaannya adalah; sampai kapan siklus semacam itu akan berhenti?

Jawabannya begitu mengerikan; karena itu adalah siklus lingkaran, maka tidak ada batas selesainya, dan itu artinya; tak akan pernah berhenti!

Jadi begitulah potret sebagian besar orang yang hidup di muka bumi; mereka terjebak dalam sebuah lingkaran tanpa titik untuk berhenti dari sebuah siklus yang terus-menerus menjebak mereka dalam bekerja mencari uang, kemudian kehabisan uang, dan bekerja lagi, lalu kehabisan uang lagi, lalu bekerja lagi...

Nah, tentunya kamu ingin berteriak, “Lalu bagaimana solusinya?! Kalau memang pola semacam itu disebut lingkaran perbudakan terhadap uang, bagaimana solusi agar kita dapat keluar dari lingkaran itu?”

Jawabannya tentu saja dengan membiasakan diri untuk membayar diri sendiri terlebih dulu, sebelum membayar orang atau pihak lain dari uang penghasilanmu!

Ingat ilustrasi di atas. Kalau kita membeli pulsa ponsel, itu berarti kita membayar pemilik perusahaan operator jaringan ponsel kita. Kalau kita membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, itu artinya kita membayar para pemilik perusahaan barang-barang yang kita beli. Kalau kita masuk kafe, restoran atau diskotik, artinya kita membayar para pemilik kafe, restoran atau diskotik.

Kita bekerja untuk mendapatkan uang, namun ironisnya, begitu uang itu kita dapatkan, uang itu kita bayarkan pada orang atau pihak lain, dan kita lupa untuk membayar diri sendiri!

Lalu apa atau bagaimana ‘membayar diri sendiri’?

Setiap kali kamu mendapatkan uang sebagai penghasilan dalam bekerja setiap bulan, dan sebelum uang itu kamu gunakan untuk apa pun, sisihkanlah terlebih dulu minimal 20% (dua puluh persen) dari total penghasilan untuk ditabung, dan jangan pernah usik-usik uang itu lagi! Itulah yang disebut sebagai ‘membayar diri sendiri’ terlebih dulu. Biasakan untuk hidup hanya dengan 80% penghasilan yang kamu dapatkan.

Kamu mungkin ingin menyanggah, “Oh, jangan bercanda! Penghasilanku setiap bulan itu pun rasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam satu bulan. Bagaimana aku bisa menyisihkan untuk menabung, apalagi sampai dua puluh persen?”

Dulu saya pun berpikir seperti itu.

Saya berpikir penghasilan saya setiap bulan tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam satu bulan itu. Ada banyak hal yang harus saya dapatkan dengan uang, dan rasanya jumlah uang yang saya dapatkan dalam satu bulan tak pernah cukup untuk memenuhinya semua.

Namun, apabila kita mau membiasakan diri untuk hidup dengan 80% penghasilan kita dalam satu bulan, maka kita pun akan membuktikan bahwa ternyata kita pun bisa! Lebih dari itu, kita akan membuktikan bahwa ternyata tak ada perubahan yang berarti dalam perbedaan hidup dengan 100% penghasilan atau pun hanya dengan 80% penghasilan.

Selama ini—mungkin tanpa kita sadari—kita telah terbiasa untuk berpikir, “Apa saja yang dapat kubeli dengan penghasilanku bulan ini?”

Karena kita berpikir tentang ‘apa saja yang dapat dibeli’, maka uang kita tak pernah cukup.

Sekarang mulailah membiasakan diri untuk berpikir, “Apa saja yang tidak perlu kubeli dengan penghasilanku bulan ini?”

Ketika saya mulai berpikir tentang apa saja yang ‘tidak perlu saya beli’, maka jawabannya bertumpuk-tumpuk. Ketika kita mulai berpikir tentang apa saja yang tidak perlu kita beli, mata kita pun terbuka bahwa ternyata ada banyak hal yang selama ini sesungguhnya tidak perlu kita beli dengan uang kita.

Tentu saja ini bukan pelajaran untuk menjadi orang pelit atau terlalu irit. Yang saya tulis dan paparkan ini adalah untuk menyampaikan sesuatu yang disebut sebagai ‘kebebasan finansial’, dan mengajak kita semua untuk dapat mencapainya.

Secara garis besar, ada tiga macam atau tiga golongan orang di dunia ini, dalam hal finansial. Yang pertama adalah orang yang termasuk dalam golongan ‘keterjajahan finansial’.

Orang-orang ini adalah orang-orang yang dalam peribahasa disebut ‘besar pasak daripada tiang’. Mereka bekerja untuk mendapatkan uang, namun uang itu tak pernah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan. Mereka terus-menerus merasa kekurangan. Mereka inilah yang masuk dalam siklus lingkaran pencarian uang tanpa henti—bekerja, dapat uang, habis, bekerja lagi, dapat uang lagi, habis lagi...

Yang kedua adalah orang yang masuk dalam golongan yang telah mencapai ‘keamanan finansial’. Orang dalam golongan ini tidak lagi dijajah oleh kekurangan uang—mereka termasuk berkecukupan. Mereka bekerja, mendapatkan uang sebagai penghasilan, dan bisa memenuhi semua kebutuhan serta keinginan dengan uang penghasilannya. Namun mereka harus terus bekerja untuk dapat hidup seperti itu.

Sementara golongan yang ketiga adalah orang-orang yang telah mencapai ‘kebebasan finansial’. Orang-orang dalam golongan ini tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan uang, karena uanglah yang bekerja untuk mereka. Orang dalam golongan ini tidak lagi menjadi budak uang, namun uanglah yang menjadi budak mereka. Mereka bisa memenuhi semua kebutuhan, melayani semua keinginan, dan untuk itu mereka tak perlu terus-menerus bekerja untuk mendapatkannya.

Apabila mempelajari peta dari tiga golongan ini, rasanya sebagian besar dari kita masih dalam tahap ‘keterjajahan finansial’ atau setidaknya baru sampai pada tahap ‘keamanan finansial’. Kita masih menjadi budak uang—kita masih harus bekerja keras untuk dapat terus mendapatkannya.

Lalu, bagaimana cara kita untuk sampai pada tahap ‘kebebasan finansial’?

Baca lanjutannya: Meluruskan Pola Pikir Keliru Terkait Kehidupan

Related

Insight 8304838340277762125
item