Urusan Tidur dan Masalah Berat Badan

  Urusan Tidur dan Masalah Berat Badan

Naviri.Org - Tubuh kita memang saling terkait—jika satu bagian bermasalah, bagian lain akan ikut bermasalah. Begitu pula dengan tidur. Jika tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup dalam bentuk tidur, efeknya tidak hanya menjadikan kita lebih segar, tapi juga berat badan lebih terjaga. Para ahli yang meneliti masalah tidur dengan berat badan menyatakan bahwa tidur sama pentingnya dengan pengaturan pola makan dan olahraga untuk mendapatkan bobot tubuh yang seimbang.

Hasil studi yang dilakukan tim dari Universitas Chicago menunjukkan, kurang tidur bisa mengurangi efek diet. Ketika orang yang sedang berdiet memiliki tidur yang berkualitas, berat badan mereka berkurang dua kali lebih banyak dibandingkan pelaku diet yang tidurnya kurang.

Reaksi kekurangan tidur pada kegemukan juga dilakukan oleh ilmuwan dari Australia, yang meneliti kaitan antara kurang tidur dan pertambahan berat badan. Sementara itu, para ahli dari Columbia University, New York, yang mengamati kebiasaan tidur 18.000 orang menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari empat jam setiap malam berisiko 73 persen mengalami kegemukan di kemudian hari, dibandingkan orang yang tidur 7-9 jam setiap malam.

Bahkan, orang yang rata-rata tidur 6 jam setiap malam memiliki risiko kegemukan 23 persen. Di lain pihak, orang yang terlalu banyak tidur, sekitar 10 jam setiap malam, memiliki risiko 11 persen menderita kegemukan. Artinya, kurang tidur sama buruk dengan kelebihan tidur, khususnya dalam hal risiko obesitas.

Mengapa kurang tidur bisa berpengaruh pada naiknya berat badan? Para ahli meyakini, kurang tidur bisa mengganggu hormon grehlin dan leptin, yang merupakan hormon pengatur rasa lapar dan selera makan. Saat kita kurang tidur, tubuh akan bereaksi seperti saat kita kurang makan; kadar leptin akan turun, dan kadar grehlin melonjak. Akibatnya, perut akan terasa lapar dan membangkitkan nafsu mengonsumsi makanan yang kaya lemak dan gula. Tentu saja hal itu akan membuat berat badan melonjak. Perubahan hormon itu juga mengganggu metabolisme, sehingga lebih banyak lemak yang disimpan.

Penelitian lain menunjukkan, kurang tidur akan mengganggu jam biologis tubuh atau ritme sirkardian yang mengatur glukosa dan insulin. Kurang tidur akan meningkatkan hormon kortisol, hormon yang juga mengatur penggunaan energi dalam tubuh. Kadar kortisol yang tinggi terkait dengan resistensi insulin, dan tingginya indeks massa tubuh.

Fred Turek, seorang dokter di Northwestern University, AS, menyatakan, “Kita terlalu banyak memberi penekanan pada diet dan olahraga, sehingga tidak melihat manfaat tidur.”

Pernyataannya itu didasari pada penelitian yang dilakukan para ahli dari Eastern Virginia Medical School di Norfolk. Mereka meneliti 1.000 orang, dan mendapati bahwa keseluruhan waktu tidur naik atau turun sesuai dengan indeks massa tubuh (BMI), suatu metode mengukur berat badan atas dasar tinggi tubuh.

Para peneliti mendapati, total waktu tidur turun seiring dengan meningkatnya BMI. Rata-rata waktu tidur pria 27 menit lebih sedikit dibanding wanita, dan waktu tidur orang dengan kelebihan berat badan serta orang dengan obesitas lebih sedikit dibanding orang dengan berat normal. Secara umum, mereka yang lebih gemuk tidur lebih sedikit 1,8 jam per minggu, dibanding yang memiliki berat badan normal

Penelitian yang dipublikasikan di Archives of Internal Medicine itu menegaskan, “Temuan kami mengisyaratkan, tambahan 20 menit tidur per malam terkait erat dengan rendahnya indeks masa tubuh.”

Related

Health 2860650718729809075

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item