Cara Amerika Mengatasi Krisis Ekonomi Negaranya

Cara Amerika Mengatasi Krisis Ekonomi Negaranya

Naviri.Org - Pada era 1920-an, Amerika Serikat mengalami guncangan ekonomi yang parah, bahkan kejatuhan ekonomi yang membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan, kesulitan makan, dan perekonomian berhenti. Masa-masa kelam itu disebut Depresi Besar. Baca lebih jelas di sini: Sejarah Kelam Kehancuran Ekonomi Amerika.

Bagaimana kemudian Amerika bisa keluar dari masalah besar yang melilit ekonomi negaranya? Apa yang mereka lakukan untuk bangkit kembali, hingga akhirnya kini menjadi negara adidaya?

Pada masa-masa kelam Depresi Besar, terjadi pergantian presiden Amerika, dari Herbert Hoover kepada Franklin D. Roosevelt. Pergantian kepemimpinan itu memunculkan harapan pada berakhirnya krisis. Dalam 100 hari pertama kerjanya, Roosevelt mendorong Kongres untuk meloloskan undang-undang baru yang disebut sejarawan Lawrence Davidson sebagai “kapitalisme berjaring pengaman subsidi.”

Langkah Roosevelt terlihat lebih konkret dibandingkan yang dilakukan Herbert Hoover. Hoover beranggapan pasar bebas akan mengoreksi sendiri kesalahan yang ada. Dia juga khawatir bahwa bantuan ekonomi akan membuat orang-orang malas bekerja. Motivasi terbesar Hoover ialah menjaga agar anggaran dapat seimbang. Saat Kongres menekan Hoover untuk mengambil tindakan, dia justru memfokuskan kebijakan pada kestabilan bisnis; sesuatu yang tidak memberi signifikansi di masa krisis.

Kongres akhirnya meloloskan rancangan program yang diajukan Roosevelt. Program yang bernama “New Deal” itu berisi 47 program yang dibagi dalam tiga tahapan eksekusi dari 1933 sampai 1939. Program-program yang tertera dalam “New Deal” meliputi penutupan dan pemeriksaan kepada semua bank agar dapat sehat secara finansial, pemotongan gaji pegawai pemerintah maupun militer sebesar 15%, mempekerjakan sekitar 3 juta orang selama 10 tahun untuk menggarap lahan publik, menukar emas dengan mata uang dolar, mendanai pekerjaan di bidang pertanian, konstruksi, pendidikan, maupun kesenian, dan juga memberikan pinjaman pada para petani untuk menyelamatkan ladang ternak dari penyitaan.

Kebijakan-kebijakan yang diluncurkan Roosevelt melalui “New Deal” perlahan memperlihatkan hasil. Pada tahapan pertama, pertumbuhan ekonomi Amerika mencapai angka 10,8%. Lalu, pada tahapan kedua, pertumbuhan ekonomi turun meski masih di angka tinggi yakni 8,9%. Pada tahun 1936, pertumbuhan ekonomi kembali naik dan menyentuh angka 12,9%.

Walaupun demikian, konsistensi hasil dari kebijakan “New Deal” tak berjalan mulus. Setelah menunjukkan tanda pemulihan yang baik di musim semi 1933 hingga 1936, krisis kembali muncul di tahun 1937 saat Federal Reserve memutuskan untuk meningkatkan persyaratan guna memperoleh cadangan uang. Terlebih, saat itu Roosevelt juga memotong pengeluaran pemerintah yang membuat ekonomi mengalami kontraksi di angka 3,3%.

Terlepas dari hasil yang dipetik Roosevelt, sejak mula berlakunya “New Deal” mendapat banyak kritikan. Hal yang paling jelas ialah ketika penerapan “New Deal” dianggap terlalu sosialis atau tidak mencerminkan nilai Amerika pada kebiasaannya. Kritikan tersebut diungkapkan para pengusaha di tahun 1934. Sedangkan Hoover, presiden terdahulu mengatakan kebijakan “New Deal” akan membawa Amerika dalam gaya fasisme yang dijalankan Mussolini atau Hitler.

Perdebatan lain muncul menyoal bagaimana masa Depresi Besar yang berjalan satu dekade berakhir. Apakah karena efek kebijakan Roosevelt, atau faktor lainnya seperti kondisi Perang Dunia II yang hadir tak jauh dari waktu itu. Robert Higgs, dalam bukunya, berjudul Depression, War, and Cold War: Challenging the Myths of Conflict and Prosperity, menantang kesimpulan berakhirnya masa Depresi Besar disebabkan oleh kondisi perang.

Menurutnya, walaupun belasan juta warga Amerika turut dalam peperangan, hal tersebut tidak mengurangi tekanan yang disebabkan masa krisis.

Burton W. Fulson, dalam tulisannya yang dimuat di Foundation for Economic Education, menyatakan perang hanya menunda masalah pemulihan krisis. Asumsi menggunakan dalil peperangan perlu dipertanyakan lagi mengingat membangun fasilitas guna memenangkan peperangan juga memerlukan pendanaan yang banyak. Dan pendanaan tersebut bakal membebani anggaran negara.

Sedangkan Pew Research Center dalam penjelasannya menyebutkan, dari masa krisis Depresi Besar terdapat dua pelajaran yang bisa diambil. Pertama, program sosial dan kontrol atas perbankan yang dilakukan “New Deal” membuat Amerika mendapat manfaat selama beberapa dekade. Kedua, kepercayaan masyarakat Amerika selepas krisis menuntun ke arah penguatan institusi keuangan, guna melawan tantangan krisis ekonomi di masa mendatang.

Baca juga: Sejarah dan Perkembangan Internet di Indonesia

Related

Money 2361155483551970169
item