Pelecehan Seksual di Tempat Kerja, dan Dampaknya

Pelecehan Seksual di Tempat Kerja, dan Dampaknya

Naviri.Org - Pelecehan seksual, di mana pun kejadiannya, membawa pengaruh negatif dalam kehidupan yang dijalani seseorang setelah ia menerimanya. Akan tetapi, pelecehan seksual yang terjadi di tempat kerja bisa jadi membawa kepelikan lebih karena adanya relasi antara pelaku dan korban yang tak melulu dapat diputus seketika.

Penelitian dari Cleveland State University menunjukkan, sekitar 90-95 persen perempuan yang pernah menerima pelecehan seksual merasakan kecemasan, depresi, gangguan tidur, serta penilaian diri yang buruk. Dalam beberapa kasus, pelecehan seksual bahkan bisa memicu major depresive disorder (MDD), post-traumatic stress disorder (PTSD), atau keinginan bunuh diri.

Tidak hanya aspek psikis saja yang terdampak dari pelecehan seksual. Gejala-gejala fisik seperti mual-mual, sakit kepala, tekanan darah tinggi, serta nyeri di leher adalah hal-hal yang ditemukan pula dalam diri para korban pelecehan seksual

Khusus di dunia kerja, dampak pelecehan seksual bisa dirasakan baik oleh korban maupun perusahaan. Dalam buku Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja (2012) disampaikan, korban dapat merasa terhina, malu, bersalah, dan terintimidasi.

Hal itu dapat terjadi karena mau tidak mau bertemu dengan karyawan lain atau atasan yang melecehkannya. Efek berikutnya, korban pun mengalami penurunan motivasi kerja. Sering absen ke kantor dan menemukan gangguan dalam kehidupan keluarga, juga merupakan dampak-dampak negatif lain yang terjadi pada korban.

Sementara dari sisi perusahaan, pelecehan seksual berimbas pada berkurangnya produktivitas korban, yang pada akhirnya menimbulkan efek domino terhadap profit perusahaan. Karyawan yang menjadi korban pelecehan seksual juga berkemungkinan mengundurkan diri.

Hal ini menciptakan PR lain bagi perusahaan untuk merekrut karyawan baru, yang tentunya menyita waktu dan tenaga lebih untuk proses adaptasi kerja. Bukan hanya itu, pelecehan seksual yang terjadi di kantor bisa saja mengemuka di media massa sehingga membuat citra perusahaan buruk.

Pelecehan seksual di tempat kerja bukanlah hal yang langka. Data dari Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) di AS selama tahun 2015 misalnya, menunjukkan ada 6.800 kasus pelecehan seksual yang ditemukan di kantor. Statistik pelecehan seksual di tempat kerja bisa saja lebih besar dari ini, karena ada pekerja-pekerja yang merasa perilaku mengganggu yang diterimanya belum tergolong pelecehan seksual.

Ditambah lagi kurangnya kesadaran akan seksisme, ketidakjelasan prosedur melaporkan perilaku buruk seperti kata-kata kasar, perilaku dan gestur merendahkan gender, sentuhan tidak diinginkan, dan menunjukkan visual porno, ketiadaan saksi saat kejadian, serta konsekuensi besar yang harus dihadapi, pelecehan seksual di tempat kerja pun menjadi kasus pelik yang masih harus menempuh perjalanan panjang untuk dituntaskan.

Baca juga: Rumitnya Masalah Hukum Terkait Perkosaan

Related

Female 9007735639842180285

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item