Tersebarnya Video Porno, dan Dampak yang Ditimbulkan

Tersebarnya Video Porno, dan Dampak yang Ditimbulkan

Naviri.Org - Sudah bukan rahasia lagi, ada sebagian pasangan yang kadang merekam aktivitas seks mereka dengan kamera. Entah untuk tujuan apa, mereka secara sadar merekam hubungan seks tersebut. Mungkin untuk dokumentasi pribadi, atau untuk alasan lain, yang jelas pasangan tersebut merekam adegan itu, karena keduanya sama-sama saling cinta dan saling percaya.

Namun, sayang, harapan kadang tidak sesuai kenyataan. Ketika hubungan asmara berakhir, rekaman video yang seharusnya menjadi rahasia berdua itu lalu bocor ke internet, hingga bisa diakses publik secara bebas. Biasanya, dalam hal ini, pihak pria yang sengaja membocorkan video tersebut, sebagai “balas dendam” pada pasangan wanitanya, mungkin karena sakit hati akibat diputus, atau karena latar belakang lain.

Setidaknya, hal semacam itu dialami oleh seorang perempuan berusia 30 tahun dari Harlem, New York, yang pada awal tahun 2017 meminta perusahaan mesin pencari Google, Yahoo, dan Bing, untuk menghapus namanya dari produk masing-masing.

Perempuan yang tidak disebut namanya ini sudah putus dengan mantan pacarnya selama hampir setahun. Hubungan itu tidak berakhir baik, karena si pria menyebar video erotis yang dibuat saat keduanya masih berpacaran.

Si perempuan tidak senang dengan tindakan tersebut. Tapi apa daya, nama dan videonya sudah tersebar ke mana-mana. Dengan mengetik nama yang tepat di mesin pencari Google, segala informasi tentangnya akan terpampang. Hal macam ini mungkin berpengaruh ke nama baik seseorang.

Karenanya, korban dengan pengacaranya mengajukan gugatan kepada tiga perusahaan mesin pencari. Darius Maxwell Fisher, bos dari sebuah perusahaan manajemen reputasi, berkata bahwa pihaknya tidak meminta agar nama kliennya dihapus sepenuhnya dari hasil mesin pencari, melainkan untuk menginduksi kata-kata yang membentuk namanya.

Google, Yahoo, dan Bing, sebenarnya telah memiliki mekanisme tersendiri soal revenge porn atau menyebar konten pornografi untuk balas dendam.

Google, sebagai raja mesin pencari konten di Internet, sejatinya bisa menghapus hasil penelusuran tersebut jika diminta. Sayang, mereka masih kesulitan untuk menghapus informasi tertentu, seperti misalnya foto, tautan profil, atau laman web. Itu sebabnya mereka menyarankan menghubungi sumber situs penayang informasi tersebut, yang bisa menghapusnya.

Jika mengontak satu per satu situs web penyaji informasi dirasa merepotkan, sebenarnya ada cara lain yang bisa ditempuh, tetapi harus menyiapkan dana yang lumayan besar. Apalagi kalau bukan memakai "jasa perusahaan penghapus informasi dari Internet."

Di China, dilaporkan sudah ada 30 perusahaan yang menawarkan layanan seperti itu. Dua perusahaan yang sudah terkenal antara lain Yage Times dan Taobao. Dengan membayar sekitar 13.000 yuan atau Rp 26,6 juta, pengguna dijamin namanya bakal bersih dan terbebas dari informasi negatif di Internet.

Selain itu, ada juga Abine asal AS, dengan layanannya yang dinamakan DeleteMe. Jika berlangganan selama satu tahun dengan harga sekitar 130 dolar AS, Abine mampu menemukan dan menghapus semua informasi pribadimu.

Di Indonesia, dilaporkan sudah ada sejumlah perusahaan yang menyediakan jasa ini, namun mereka belum secara terang mempromosikan jasanya. Bisnis ini masih berjalan di bawah tanah, dan sudah ada sejumlah warga yang memakai jasa mereka.

Jika hendak menutupi citra negatif di Internet secara alamiah, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menambah konten rekam jejak positif secara terus-menerus. Jika langkah ini dilakukan secara konsisten, data lama yang buruk dapat perlahan tertutupi oleh informasi baru yang positif.

Baca juga: Memerangi Pornografi, Kominfo Menyiapkan Mesin Canggih

Related

Internet 6509722894271561593

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item