Apa itu Islamofobia yang Disebut Mahfud dan Direspons Abu Janda?

Apa itu Islamofobia yang Disebut Mahfud dan Direspons Abu Janda?

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyatakan bahwa pemerintah tidak pernah menebar narasi Islamofobia.

Mahfud berguyon Islamofobia justru dilontarkan aktivis media sosial Permadi Arya alias Abu Janda.

"Yang mengatakan itu Abu Janda, bilang ke ini lalu dibilang Islamofobia, dia yang phobia. Pemerintah kan tidak. Kalau hanya orang mengatakan 'hei, kamu kok bercadar, itu kearab-araban, lalu dibilang fobia, lho yang bilang bukan pemerintah. Bukan kebijakan negara," kata Mahfud, Selasa (26/7).

Lalu, apa sebenarnya Islamofobia?

Melansir Kamus Besar Bahasa Indonesia, Islamofobia diartikan sebagai fobia terhadap Islam atau penganut Islam.

Dalam Buletin Psikologi berjudul Islamophobia dan Strategi Mengatasi, yang ditulis oleh Moordiningsih, dijelaskan bahwa Islamofobia adalah bentuk ketakutan berupa kecemasan yang dialami seseorang maupun kelompok sosial terhadap Islam dan orang-orang Muslim.

Ketakutan itu bersumber dari pandangan yang tertutup tentang Islam disertai prasangka bahwa Islam sebagai agama yang "inferior" tidak pantas untuk berpengaruh terhadap nilai-nilai yang telah ada di masyarakat.

Melansir website Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik UMY, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan Islamofobia adalah pandangan dan sikap yang mengandung prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan orang-orang Islam.

Istilah ini sudah lama berkembang di Barat. Menurutnya istilah tersebut menguat menjadi pandangan global setelah tragedi serangan teroris 11 September 2001.

Pelaku teror dalam peristiwa tersebut beragama Islam. Sejak itu berkembang Islamofobia yang mendiskriminasi umat Islam bukan hanya dalam hal beragama, tetapi dalam aspek kehidupan lain di ruang publik.

Islamofobia, menurutnya, semakin menguat dan memperoleh tempat dalam multikulturalisme yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan toleransi sebagai ideologi dunia yang saat ini dominan.

Menurut Haidir, baik di ranah global maupun di Tanah Air, kecenderungan alergi dan anti Islam itu bercampur aduk dengan berbagai masalah yang tidak sederhana. Termasuk terkait dengan kontestasi politik aliran.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin beberapa waktu lalu mengatakan tren Islamofobia saat ini mulai meningkat di berbagai belahan dunia.

Ia menjelaskan peningkatan tren Islamofobia ditunjukkan dengan serangan dan pelcehan terhadap Muslim di Amerika Serikat dan Eropa yang terus bertambah setiap tahunnya.

Pelcehan terhadap orang Islam di AS pada 2016, kata dia, meningkat 36 persen jika dibandingkan tahun 2001.

Pengalaman yang sama juga terjadi di Eropa, pada tahun 2017, rata-rata 1 dari 3 Muslim yang disurvei mengalami diskriminasi dan prasangka buruk (prejudice).

"Jika diteliti lebih dalam, sumber utama dari kebencian terhadap Islam adalah ketidaktahuan atau ketidakpahaman terhadap apa Islam itu," kata Ma'ruf beberapa waktu lalu.

Related

News 5709803651181599518

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item