Persaingan Bisnis Mi Instan di Indonesia

Persaingan Bisnis Mi Instan di Indonesia

Naviri.Org - Persaingan bisnis terjadi di mana-mana, pada produk apa saja, termasuk produk makanan. Lebih spesifik, produk mi instan. Sebagai makanan praktis yang populer, mi instan adalah makanan yang dikonsumsi jutaan orang, khususnya di Indonesia. Setiap  hari, ada jutaan orang yang menikmati mi instan, dengan berbagai alasan dan latar belakang.

Dengan banyaknya kebutuhan mi instan di pasar, produsen mi instan pun saling bersaing untuk merebut hati konsumen. Dalam hal itu, Indonesia adalah pasar yang benar-benar diperebutkan oleh para produsen mi instan, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Karenanya, di pasaran, kita pun kerap mendapati aneka mi instan dengan berbagai merek. Dari Indomie yang sudah sangat terkenal, sampai merek-merek lain yang mungkin baru kita tahu.

Sampai saat ini, pemimpin pasar mi instan di Indonesia masih dipegang oleh Grup Salim melalui PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Indonesia-investments.com mencatat Indofood menguasai 72 persen pangsa pasar mi instan Indonesia. Wings Group dengan produk andalannya, Mie Sedaap berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 14,9 persen.

Indofood memang masih berjaya. Namun, pangsa pasarnya secara perlahan tergerus oleh pesaing-pesaing baru. Berdasarkan laporan datacon.co.id, Indofood sempat menguasai 90 persen pangsa pasar mi instan pada 2009. Namun, angkanya terus susut hingga kini menjadi hanya 72 persen.

Salah satu pesaing utama Indofood adalah produk Wings Food. Namun, perjuangan Wings Food untuk meraih pangsa pasar juga tidak mudah. Sejak Mie Sedaap diluncurkan pada 2003, baru pada 2011 Wings Food bisa merebut pangsa pasar dengan jumlah yang cukup berarti.

Berdasarkan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR), Wings Food mengalahkan Indofood. Selama periode 2003 – 2013, CAGR pendapatan Indofood hanya 10 persen per tahun. Sementara Wings mencatatkan pertumbuhan lebih signifikan hingga 26 persen. Pemain lain rata-rata hanya tumbuh 7 persen.

Conscience Food (CSF) membuntuti di posisi ketiga setelah Indofood dan Wings Food. CSF yang berbasis di Sumatera Utara melalui produk Alhami, Santremie, Alimi, dan Maitri, menguasai pangsa pasar 2,7 persen. CSF memasarkan produk mereka ke Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan, dengan penjualan masih di bawah 1 miliar bungkus per tahun.

Jurus bertahan

Munculnya pesaing-pesaing baru tentu saja membuat Indofood ketar-ketir. Pasalnya, mi instan memberikan kontribusi besar pada pendapatan perusahaan. Pada 2015, mi instan memberikan sumbangan hingga 65 persen dari total pendapatan Indofood yang mencapai Rp31,74 triliun.

Indofood mencoba untuk mempertahankan pangsa pasarnya dengan mengeluarkan produk-produk barunya. Indofood tercatat mengeluarkan 19 produk mi instan yang terdiri dari berbagai rasa termasuk mi goreng. Untuk menggaet fans berat Indomie Goreng, Indofood bahkan mengeluarkan varian Chitato rasa Indomie Goreng. Varian baru ini terbukti sukses menggaet para fans Indomie Goreng.

Terbaru, Indofood mengeluarkan produk mi kuah tanpa kuah. Varian ini merupakan modifikasi dari mi kuah. Produk ini juga mendapatkan sambutan yang cukup baik. Sementara Wings Food juga mencoba mempertahankan pangsa pasarnya dengan produk-produk baru.

Pemain-pemain baru terus bermunculan. Awal tahun, Grup Mayora masuk dalam kancah makanan cepat saji ini dengan meluncurkan produk mi instan merek "Bakmi Mewah". Kehadiran Mayora yang selama ini lebih banyak memproduksi biskuit membuat persaingan pasar mi instan di Indonesia makin sengit. Saat ini tercatat ada delapan produsen mi instan di Indonesia, antara lain Indofood, Wings Food, CSF, ABC, Jakarama Tama, Medco Group, Nissin, dan Delifood.

Meski demikian, Indofood masih menjadi pemain utama pasar mi instan Indonesia. Salah satu keunggulan dari Indofood adalah jalur distribusi yang sudah mumpuni. Mereka sudah mampu masuk ke pasar-pasar ritel hingga pelosok tanah air. Dari warung kecil hingga supermarket besar, semua sudah bisa ditembus. Indomie juga sudah menjadi nama generik dari warung-warung penjual mi instan di pinggir jalan. Meski yang dijual tak hanya produk Indomie, tetap saja nama yang digunakan adalah Warung Indomie.

Tak hanya itu, konsistensi cita rasa dan varian-varian baru membuat masyarakat masih sulit berpaling dari produk mi instan kedua produsen tersebut. Chitato rasa Indomie Goreng adalah salah satu contoh bagaimana masyarakat masih sangat mendamba rasa khas dari Indomie Goreng. Karena itu, produk berbeda dengan rasa yang sama pun menjadi buruan. Ketika awal diluncurkan, Chitato rasa Indomie Goreng ini sempat langka di pasaran. Para penggemarnya pun terpaksa berburu ke penjual-penjual online.

Keunggulan itu dipadukan dengan agresivitas iklan di media massa. Nielsen mencatat, belanja iklan Indofood dan Wings Food sangat besar hingga kuartal I-2015. Indofood membelanjakan Rp 241,2 miliar, Wings mengekor dengan angka Rp 226,1 miliar.

Para produsen mi instan berusaha keras mempertahankan tahtanya di Indonesia. Mereka tak mau pangsa pasarnya dicuri oleh para pemain-pemain baru. Sementara para pemain baru industri mi instan harus berusaha keras merebut pangsa pasar.

Baca juga: Negara-negara yang Kecanduan Mi Instan

Related

Food 6229172761361764534

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item