Masa Depan Bisnis Media Online di Indonesia

Masa Depan Bisnis Media Online di Indonesia

Naviri.Org - Pengguna internet di Indonesia terus naik dari waktu ke waktu, dan jumlahnya semakin membesar. Itu tentu realitas yang positif, karena artinya makin banyak orang Indonesia yang makin melek teknologi. Dengan terhubung ke internet, setidaknya bisa diharapkan masyarakat Indonesia akan semakin cerdas dan berwawasan, karena dapat mengakses beragam berita dan informasi melalui media-media online di internet.

Yang masih jadi pertanyaan, bagaimana masa depan media online di Indonesia?

Pertanyaan itu patut diajukan, karena bagaimana pun media online membutuhkan sokongan dana agar dapat terus melangsungkan bisnisnya. Dalam hal itu, iklan adalah salah satu upaya media online untuk mendapatkan pemasukan, sehingga dapat bertahan. Yang menjadi masalah, porsi iklan yang diperoleh media online, khususnya di Indonesia, tergolong sangat kecil.

Tahun lalu, menurut riset terbaru Nielsen tentang profil pembaca Indonesia pada Desember 2017, media online punya lebih banyak pembaca. Sekitar 6 juta orang membaca berita setiap hari lewat media online, hanya 4,5 juta orang yang membaca berita media cetak. Hanya 1,1 juta yang membaca keduanya.

Namun, ternyata, perpindahan pembaca ke media online tak menjamin pendapatan kue iklan juga jadi tambang emas. Dalam riset tersebut, Nielsen memang tak mendata jumlah belanja iklan di media online, tapi sejumlah riset menyebut belanja iklan digital di Indonesia memang terus tumbuh, tapi tidak signifikan.

Big Mobile, perusahaan periklanan asal Australia, menyebut kue iklan digital di Indonesia cuma 17 persen dari total keseluruhan belanja iklan, atau sebesar 2,8 juta dolar AS, tahun lalu. Data Statista juga mengamini pertumbuhan iklan digital tersebut. Diprediksi segmen terbesarnya adalah “search engine advertising dan sosial media” yang angkanya sampai 888 juta dolar AS selama 2018. Artinya, didominasi dua perusahaan raksasa: Facebook dan Google; bukan media online.

Angka yang didapatkan media online memang sangat kecil dibandingkan yang diperoleh televisi atau media cetak. Meski ada banyak orang yang bilang bahwa masa depan ada di internet, belum ada riset yang kredibel dan terbuka untuk pasar Indonesia tentang berapa kue yang didapatkan media-media online.

Para sumber dari kalangan media yang punya pengaruh dalam langkah bisnis perusahaannya sepakat bahwa iklan digital yang diperoleh media online mereka masih minim.

Bukan cuma dibagi dengan dua raksasa macam Facebook dan Google, media-media online juga harus bersaing dengan influencer di media sosial untuk merebut kue iklan itu.

Ekosistem itu yang membuat bisnis media baru susah berkembang apalagi bertahan, tulis Ross Tapsell, peneliti media Indonesia asal Australia dalam Media Power in Indonesia (2017). Menurutnya, sokongan bentuk bisnis yang stabil masih jadi masalah besar bagi pelaku bisnis media, apalagi jika tidak tergolong ke dalam konglomerasi media di Indonesia.

“Banyak media cetak di Indonesia terpaksa menjual (medianya) kepada konglomerat digital. Beberapa contoh awal termasuk Suara Pembaruan (Riady Group) dan Surabaya Pos (Bakrie Group). Banyak koran independen di daerah juga dijual. Beberapa lain terpaksa tutup, misalnya, salah satu harian tertua, Sinar Harapan yang basisnya di Jakarta, didirikan pada 1961,” tulis Tapsell, dosen Australian National University.

Konglomerat media yang dimaksud Tapsell adalah delapan perusahaan media yang bukan cuma berhasil melanggengkan bisnisnya, melainkan juga berkembang sebagai konglomerat digital.

Disebut demikian karena mereka tak cuma punya koran, tapi juga stasiun televisi, radio, media online, dan bahkan infrastruktur sendiri seperti satelit. Infrastruktur ini yang menurut Tapsell akan memberikan kuasa kepada perusahaan-perusahaan tersebut untuk memengaruhi media-media kecil yang modalnya kalah saing.

Delapan perusahaan ini adalah CT Corp milik Chairul Tanjung; Global Mediacom milik Hary Tanoesoedibjo; EMTEK milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja; Visi Media Asia milik Bakrie Group; Media Group milik Surya Paloh; Berita satu Media Holding milik Keluarga Riady; Jawa Pos milik Dahlan Iskan; dan Kompas Gramedia milik Jakoeb Oetama.

Upaya bertahan lewat bisnis non-media

Tak cuma mengembangkan bisnis medianya, delapan konglomerat media tersebut mengembangkan bentuk bisnis lain, yang akhirnya saling menyokong satu sama lain. Misalnya koran terbesar di Indonesia, Kompas. Di dalam naungan Kompas Gramedia Group, perusahaan yang beralamat di Palmerah ini sudah lebih dulu mengembangkan Gramedia, penerbitan buku yang mendominasi pasar Indonesia.

Ia juga punya beberapa anak perusahaan atau bisnis unit lain di luar media, toko buku, dan percetakan, misalnya: hotel, lembaga pendidikan, bentara budaya, penyelenggara acara, stasiun televisi, hingga universitas.

Jauh sebelum ada perubahan tabiat pembaca yang meninggalkan media cetak menuju media online, mereka yang termasuk dalam konglomerasi media ini memang sudah punya bentuk bisnis yang stabil. Hal ini, menurut Tapsell, jadi salah satu faktor sejumlah media cetak besar tetap bisa berdiri setelah terpaan gelombang internet.

Beberapa media nasional lain yang tak terkait garis lurus konglomerasi media juga punya strategi serupa. Misalnya, The Jakarta Post. Selain koran yang disirkulasikan, satu-satunya harian Indonesia berbahasa Inggris yang selamat dari krisis keuangan 1997 ini punya usaha pelatihan menulis dan penerjemahan bahasa Inggris.

Bisnis Indonesia pun demikian. Meski punya basis pelanggan yang kuat berkat segmentasi pembaca yang spesifik (sekitar 97 persen dari total sirkulasi), ia juga punya anak-anak perusahaan yang di antaranya bergerak di sektor penyelenggara acara, percetakan, dan learning center.

Dari sebelas unit usaha yang dimiliki PT Tempo Inti Media Tbk, perusahaan yang menaungi majalah Tempo, media bukan satu-satunya bisnis mereka. Ada juga percetakan, properti, lembaga pelatihan, penyelenggara acara, dan penerbitan.

Baca juga: Masa Depan Bisnis Media Online di Indonesia

Related

Internet 3837775414363165393

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item