Sejarah, Asal Usul, dan Perkembangan Video Games

 Sejarah, Asal Usul, dan Perkembangan Video Games

Naviri.Org - Video games atau gim video adalah permainan yang sangat populer di dunia, dimainkan di berbagai negara, dan digemari anak-anak sampai orang dewasa, pria maupun wanita. Video games jelas penemuan penting dalam peradaban manusia, karena permainan ini memiliki pengaruh yang sangat besar, sekaligus melahirkan perusahaan-perusahaan dengan keuntungan miliaran dolar.

Sebagai permainan, video games memang menarik. Kita menatap layar permainan, tapi tidak secara pasif. Kita ikut berperan menggerakkan permainan di dalamnya, bahkan kemampuan kita dalam hal itu akan ikut menentukan jalannya permainan yang kita saksikan. Karenanya, video games satu tingkat di atas kesenangan menonton televisi atau film, yang hanya membuat penonton duduk pasif.

Bagaimana sejarah dan asal usul lahirnya video games di dunia?

Kelahiran video games jelas tak bisa dilepaskan dari teknologi monitor, karena permainan ini didukung olehnya. Aspek visual menjadi konsentrasi pertama pada awal-awal pengembangan gim video. Mereka mulai mewarnai piksel-piksel yang pada mulanya monokrom. Indy 4 (Atari, 1976) dan Car Polo (Exidy, 1977) adalah percobaan perdana.

1980 menjadi awal kebangkitan gim yang dioperasikan dengan koin, gim arkade. Mesin ini pelan-pelan menggantikan budaya nonton acara televisi di Amerika Serikat dan Jepang. Gemerincing koin, ujung-ujung jemari yang berkeringat, dan tangan-tangan yang kesemutan menjadi paket keahlian yang perlu diasah untuk mengalahkan musuh-musuh artifisial.

Penambang koin terbesar saat itu adalah Atari, perusahaan gim yang menjadi megabintang setelah melahirkan Pong. Atari juga menemukan gim lain seperti Tank (1972), Asteroids dan Lunar Lander (1979).

Pada 1977, Atari mengembangkan teknologi gim yang bisa dimainkan di rumah dengan cara menghubungkannya ke televisi. Dua tahun sebelumnya, Magnafox memulai teknologi ini lebih dulu, tapi gagal karena terlalu rumit.

Atari menciptakan mesin yang lebih sederhana: pemain bisa bermain beberapa gim dengan mesin yang sama. Atari Video Computer System 2600 mengizinkan pemain menukar-nukar cartridge untuk bisa memainkan gim yang berbeda-beda. Teknologi ini membuat Atari semakin sukses secara komersial dan tak tertandingi. Kesuksesan Atari membuat semua orang tertarik menggeluti bisnis yang sama, tetapi tak seorang pun berani bermimpi mengalahkan Atari (How Nintendo Conquered America, 2011).

Di belahan dunia lain, perusahaan start-up bernama Nintendo sudah sukses lebih dulu dengan permainan kartu. Kejayaan gim arkade membuat mereka berpikir: jika orang lain bisa membuat gim, kami juga mampu.

Setelah sukses dengan Game & Watch (mesin arkade seukuran kalkulator), Nintendo memutuskan untuk memakai jurus Atari dengan menciptakan perangkat gim rumahan yang bisa dimainkan di televisi sambil bermalas-malasan.

Pada 1985, setelah melewati dan mencoba pelbagai strategi bisnis dan bertahan dari erupsi gunung St. Helens, Nintendo menciptakan gim video rumahan dengan sistem baru: mengganti joystik dengan pad controller, membuat gim arkade autentik yang dimainkan khusus di gim video rumahan, dan menjual mesin gim dengan harga terjangkau. Sistem itu dikenal dengan Nintendo Entertainment System (NES).

Sega segera muncul jadi pesaing mereka. Menyadari aspek penting gim akan lebih seru jika gambar tidak hanya bisa maju dan mundur atau bergerak ke kanan dan kiri, Sega mencuatkan gagasan bagaimana kalau sudut pandangnya diubah dan diberi dimensi agar terasa hidup? Bagaimana kalau objek dalam gim sanggup bergerak secara diagonal?

Dan begitulah cara mereka menemukan gim isometrik yang memungkinkan gamer bisa bermain peran sebagai pembalap motor, merasakan sensasi kecepatan tanpa perlu takut mati (Supercade: A Visual History of the Video Game Era, 2001).

Di sudut lain, Sony sedang menunggu waktu untuk tampil.

Pada mulanya, Sony membuat perangkat keras pengolah suara untuk konsol SNES keluaran Nintendo. Sony menciptakan sebuah chip ajaib yang terdiri dari dua unit terintegrasi: pengolah suara SPC-700 dan sebuah mikroprosesor DSP 16 bit, menghasilkan suara yang terdengar megah.

Nintendo memasang CPU Ricoh 5A22 yang mendukung efek 3D dan sistem grafis Mode 7 Nintendo pada SNES, membuat gim konsol itu mudah memuncaki pasar penjualan. Pencipta chip tersebut adalah Ken Kutaragi, Sang Bapak PlayStation.

PlayStation (PS) dilepas di pasar Jepang pada 3 Desember 1994, dan menghantam pasar konsol. PS bukan hanya menawarkan grafik yang mengagumkan, ia juga menawarkan gameplay yang mengasyikkan. PS menyediakan dunia virtual yang semula hanya ada di mesin-mesin arkade. PS adalah apa yang tidak pernah dibayangkan anak-anak, dan para pesaingnya, saat itu.

Medium CD lebih murah ketimbang cartridge Nintendo. Beberapa konsol sudah mencangkok grafis 3D, tetapi PS memperkenalkannya di Indonesia. Fitur lain yang ditawarkan, dan rasanya membuat siapa pun norak saat itu, adalah controller-nya. Ada dua jenis yang ditawarkan: D-pad standar dan Dual Analog Controller. Dua bulatan yang berfungsi sebagai pengontrol arah memudahkan pemain menyetir mobil hingga menggocek lawan saat sedang bermain gim sepakbola.

Belum puas sampai di situ, PS kemudian meluncurkan fitur DualShock, efek getar, yang memberi kesan pemain "mengalami" gim yang sedang dimainkan. Stik akan bergetar tiap memasuki bagian-bagian seram di gim survival horror Silent Hill (Konami, 1999). Dengan segala tawaran itu, PS masuk Indonesia dan mudah melebur menjadi budaya baru. Semakin populer setelah muncul rental-rental yang menyewakan jasa bermain PS per jam.

Sejak itu, dunia video games alias gim video terus mengalami perkembangan, hingga seperti yang sekarang kita kenal.

Baca juga: Ken Kutaragi, Tokoh di Balik Lahirnya PlayStation

Related

Technology 3079432156390910178

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item