Riset: Orang-orang Cerdas Ternyata Para Pemalas

Riset: Orang-orang Cerdas Ternyata Para Pemalas

Naviri.Org - Orang yang suka duduk-duduk diam tanpa banyak gerak mungkin tampak seperti pemalas, dan bisa jadi kita pun akan menyebut mereka pemalas. Biasanya, kepada orang-orang semacam itu, kita berpikir, “Kenapa mereka tidak melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat?”

Tetapi, ternyata, orang-orang yang tampak seperti pemalas itu rata-rata justru memiliki kecerdasan yang lebih baik dibanding orang-orang yang tampak aktif bergerak dan beraktivitas. Kenyataan yang mungkin mengejutkan itu terungkap dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology dari Florida Gulf Coast University.

Studi itu menyebutkan, mereka yang minim melakukan aktivitas fisik lebih cenderung memiliki kecerdasan yang lebih, dibanding mereka yang memilih gemar melakukan aktivitas fisik.

Apa hubungan kemalasan dengan kecenderungan seseorang menjadi cerdas? Mari kita simak hasil penelitian tersebut.

Penelitian dilakukan terhadap 60 partisipan dari kalangan mahasiswa, yang mewakili kelompok pemikir dan non pemikir. Kemudian dilakukan pemantauan selama tujuh hari untuk mengetahui tingkat aktivitas dan pergerakan lewat perangkat aktigrafi yang dipakai di pergelangan tangan mereka untuk mengukur kegiatan motorik kasar para partisipan.

Selain memantau aktivitas motorik, juga dilakukan beberapa pertanyaan menggunakan skala NFC (Need For Cognition). Pengertian kognisi, menurut English Oxford Living Dictionaries, adalah tindakan mental atau proses memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui berpikir, bereksperimen, dan kesadaran, melalui indra. Rangkaian pertanyaan ini terdiri dari 18 soal. Dari pertanyaan yang disodorkan, dapat diketahui pilihan peserta dari poin 9 yang menunjukkan sangat setuju hingga 4 yang berarti sangat tidak setuju.

Hasilnya, dari skala NFC, 30 peserta menyatakan keinginannya yang sangat kuat untuk berpikir, dan sisanya cenderung menghindari pikiran berat. Sedangkan dari pengukuran aktivitas, mereka yang memiliki kecenderungan kuat di NFC menunjukkan tingkat aktivitas luar ruangan yang rendah.

Sebaliknya, mereka yang memilih untuk menghindari berpikir menunjukkan tingginya tingkat aktivitas luar ruangan. Periode aktivitas yang kuat dari dua kubu mahasiswa ini tercatat berlangsung selama hari Senin sampai Jumat.

Melalui hasil tersebut, para peneliti kemudian berteori bahwa kalangan non pemikir lebih memungkinkan untuk merasa bosan dengan kegiatan duduk, bermalas-malasan di satu tempat dan merenungkan kehidupan dan pemikiran abstrak lainnya. Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada kegiatan fisik seperti olahraga dan sejenisnya.

Para pemikir lebih cenderung memikirkan hal-hak yang rumit, kompleks, dan menantang. Akibatnya, mereka menghabiskan cukup waktu untuk mengungkapkan gumpalan-gumpalan refleksi, ide, introspeksi, yang menambah wawasan dan kecerdasannya.

Ada catatan di akhir penelitian ini bahwa penelitian hanya melibatkan sampel 60 orang responden. Hasilnya boleh jadi tidak bisa menggeneralisir lapisan masyarakat dan budaya lain. Juga temuan bahwa di saat akhir pekan, perbedaan antara keduanya cenderung minim dan nyaris tidak ada, dan belum dijelaskan penyebabnya.

Tood McElroy, selaku peneliti dari Florida Gulf Coast University, juga menuturkan, bagaimana pun hanya mengandalkan kegiatan fisik tidak cukup. Perlu saatnya meningkatkan aktivitas otak lainnya yang terkait hal-hal di masa mendatang. Juga sebaliknya, orang yang kurang aktif secara fisik, tidak peduli seberapa pintar mereka, harus mulai berpikir untuk meningkatkan aktivitas demi kesehatan fisik dirinya sendiri.

Jadi, apakah Anda orang yang termasuk berpikir dan percaya dengan riset ini, lalu merasa cerdas sehingga bermalas-malasan?

Baca juga: Mengapa Stephen Hawking Tidak Mendapat Hadiah Nobel? 

Related

Insight 32400784019392150

Recent

item