5 Kisah Kehidupan Polisi yang Menyentuh Hati

  5 Kisah Kehidupan Polisi yang Menyentuh Hati

Naviri Magazine - Ada stigma yang kurang baik menyangkut kepolisian kita, khususnya karena adanya oknum-oknum polisi tak bertanggung jawab yang mencoreng institusi kepolisian. Gara-gara oknum-oknum itu pula, masyarakat pun jadi seperti menggenalisir semua polisi tidak baik. Padahal, tentu saja, masih banyak polisi yang baik dan jujur di antara yang sedikit yang mungkin buruk.

Seperti lima polisi berikut ini. Mereka berprofesi sebagai polisi, aktif berdinas di kepolisian, namun menjalani kehidupan dengan baik, jujur, bahkan bermanfaat bagi sesama. Inilah lima kisah kehidupan polisi yang akan menyentuh hati kita.
 
Aiptu Ruslan, bekerja sambilan jadi tukang sol sepatu

Berita tentang Aiptu Ruslan pernah bikin heboh netizen, dan mendapatkan apresiasi luar biasa. Aiptu Ruslan, yang sehari-hari bekerja di Polsek Pidie di Aceh, ternyata punya pekerjaan sambilan yang unik. Dia menjadi tukang sol sepatu ketika jam dinasnya usai.

Aiptu Ruslan menempati salah satu sudut pasar, di dekat tempat tinggalnya. Di sana ia bergulat dengan sepatu-sepatu pelanggan yang butuh reparasi. Tentang pekerjaannya itu, Aiptu Ruslan hanya tersenyum ketika ditanya ‘kenapa’.

Dengan santai dia menjawab, “Mencari rezeki itu yang penting halal.”

Selain giat, Aiptu Ruslan juga dikenal sebagai pribadi yang jujur dan sederhana. Sebagai polisi, tugasnya adalah memberikan penyuluhan kepada warga yang ada di desa-desa. Jujur dan apa adanya, Aiptu Ruslan patut jadi contoh.

Polwan yang “nyambi” jadi tukang tambal ban

Sama seperti Aiptu Ruslan, seorang polwan bernama Bripda Eka juga pernah bikin heboh gara-gara pekerjaan sampingan yang dimilikinya. Polwan ini bekerja sambilan sebagai tukang tambal ban. Sungguh hal yang kontras sebenarnya, apalagi ia seorang wanita. Namun, cerita di balik itu akan membuat kita terkesima.

Bripda Eka terlahir di keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban, dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Melihat kondisi keluarga, Bripda Eka pun tak berpikir banyak selain membantu apa yang ia bisa lakukan. Ia pun bergelut dengan ban-ban berlubang milik pelanggan. Bahkan kadang ia bekerja sendirian ketika sang ayah sakit. Salut dengan polwan satu ini!

Brigadir Wawan, jadi tukang bakso demi anak

Jadi tukang bakso sebenarnya bukan sesuatu yang diinginkan Brigadir Wawan. Namun, jika tidak melakukannya, ia takut nasib sang anak tidak akan lebih baik. Ya, sang brigadir membutuhkan uang untuk biaya pengobatan buah hatinya. Profesi ini dijalaninya sudah beberapa lama, dan hasilnya lumayan meski ia kerap mendengarkan selentingan yang tidak menyenangkan.

Brigadir Wawan menjalani profesi keduanya itu ketika usai berdinas di kepolisian, biasanya di sore hari. Sementara sang istri berjualan sejak pagi.

“Gaji saya cuma Rp 2,4 juta sebulan. Tidak cukup untuk membeli obat. Saya setidaknya butuh Rp 3 jutaan,” ungkap Brigadir Wawan ketika ditanya kenapa sampai harus berjualan bakso.

Sungguh potret polisi yang jarang sekali. Harusnya, ini bisa membuka mata kita untuk tidak selalu menuduh yang buruk-buruk pada kepolisian.

Kompol Kasdi, meluangkan waktu jadi guru ngaji

Memberantas kejahatan memang wajib, namun tak kalah penting adalah memberikan pendidikan agama untuk anak-anak. Dua hal inilah yang dilakukan seorang polisi bernama Kompol Kasdi. Pagi hari menegakkan keadilan, sore hari mengajar agama dengan menjadi guru ngaji anak-anak.

Polisi yang bekerja di Polres Kutai Barat ini sudah dua tahun lebih menjadi guru agama, dan melakukannya secara cuma-cuma demi agar anak-anak bisa mengenal agama dan bisa baca Al-Qur’an.

Awalnya memang susah, karena anak-anak sudah lekat dengan image polisi yang seram. Namun, berkat pendekatan halus serta sikap lemah lembut, akhirnya sang Kompol bisa memenangkan hati anak-anak.

Aiptu Jaelani, polisi yang jadi guru honorer gratis

Polisi satu ini pantas diberi penghargaan pahlawan tanpa tanda jasa, plus pengayom masyarakat. Aiptu Jaelani menjalankan profesinya sebagai polisi, dan menjadi seorang guru. Ya, guru, lebih tepatnya guru honorer.

Menjadi guru mungkin bukan pekerjaan utamanya, namun Aiptu Jaelani benar-benar serius menjalaninya. Bukan demi tambahan gaji, ia hanya ingin anak-anak yang ada di sekolah yang dibangunnya secara swadaya bersama masyarakat setempat bisa mendapatkan pendidikan yang baik.

Aiptu Jaelani menjalani aktivitas itu di sela-sela waktu berdinas. Satu atau dua jam sehari. Bahkan ia bisa full time ketika sedang libur. Satu hal lagi, sang Aiptu tidak menerima gaji apa pun dari kegiatan ini. Ia murni melakukan demi anak-anak dan dunia pendidikan.

Baca juga: Maria Kotikova, Polisi Tercantik di Rusia

Related

World's Fact 2949139898382814066

Recent

item