Sejarah Brutal Tentara Jepang Saat Menjajah Indonesia

Sejarah Brutal Tentara Jepang Saat Menjajah Indonesia

Naviri Magazine - Indonesia punya sejarah suram terkait penjajahan. Setelah dijajah Belanda selama tiga abad, Jepang kemudian masuk ke negeri ini, membawakan janji-janji menyenangkan yang membuat rakyat Nusantara terlena. Tapi ternyata Jepang hanya mengulang penjajahan yang sebelumnya dilakukan oleh Belanda.

Meski hanya sebentar menguasai Indonesia, Jepang meninggalkan jejak hitam yang begitu melekat. Salah satunya soal kekerasan seksual terhadap para perempuan Indonesia.

Setidaknya itu penggambaran sumber-sumber sejarah, baik arsip tulisan maupun gambar soal tentara Jepang saat menduduki Indonesia. Tidak lama memang, hanya tiga tahun dari 1942-1945.

Cerita soal romusha hingga jugun ianfu sudah kesohor. Keduanya menggambarkan betapa bengisnya tentara Jepang saat itu. Padahal, awalnya mereka datang dengan segudang janji manis.

Soal kekerasan seksual terhadap perempuan, sejumlah literatur menggambarkan Jepang lebih ganas dibanding Belanda. Mereka bahkan menganggap berhubungan seksual dengan wanita pribumi sebagai bagian dari rekreasi.

"Kebijaksanaan rekreasi dari ketentaraan diatur sepenuhnya oleh Pusat Komando Tentara Jepang. Bila tentaranya sudah berada di barak-barak dan memerlukan wanita sebagai hiburan, oleh karenanya mereka mengumpulkan wanita-wanita Jawa, khususnya Batavia," tulis R P Suyono dalam buku 'Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial.

Saat itu, prostitusi secara terbuka dibenarkan oleh ketentaraan Jepang. Sebelum menyasar wanita pribumi, wanita keturunan China dan Korea yang menjadi korban pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya.

Tahun 1942, Jepang memulai praktik prostitusi secara terbuka di Semarang. Awalnya mereka hanya mengincar penduduk etnis China di sana.

"Kemudian disusul dengan mengambil wanita-wanita Indonesia, dan akhirnya menyusul gadis-gadis Indonesia di daerah lain seperti Surabaya hingga Batavia," ungkap Suyono.

Para wanita pribumi diberi janji manis oleh para tentara Jepang. Mereka kebanyakan ditawari untuk dikirim ke Saigon, menjadi perawat palang merah dan juga menimba ilmu di sana. Akan tetapi, dalam perjalanannya, wanita-wanita pribumi dijadikan sebagai penghibur.

Dikutip dari buku Jawa Shimbun, para wanita pribumi yang diiming-imingi menjadi perawat harus menyertakan foto-foto diri. Untuk lebih meyakinkan, ada anak bupati dan wedana yang dijadikan contoh. Anak-anak bangsawan itu, disebut Jepang, bersedia berangkat untuk mengikuti pendidikan.

Akibat pelacuran yang dipaksakan, banyak pembunuhan bayi yang tidak dikehendaki. Selain itu, wanita-wanita pribumi banyak yang memilih bunuh diri dibanding harus memuaskan nafsu tentara Jepang.

Sementara itu, tempat pelacuran dapat dianggap sebagai kebijaksanaan yang diterima, meskipun sudah pasti tidak aman. Oleh karena itu, mereka juga mengirim perempuan asal negeri mereka sendiri untuk jadi penghibur di Hindia-Belanda.

Mereka biasa disebut karayukisan. Kebanyakan dari mereka merupakan anak petani atau nelayan dari daerah miskin di Jepang. Merekalah yang dijadikan selir tentara atau hanya jadi pelacur di rumah bordil. Semua tergantung otoritas ketentaraan.

Di Batavia sendiri, ada 17 pelacur Jepang yang berumur 16 hingga 24 tahun kala itu. "Di Batavia juga terdapat 5 rumah pelacuran yang dikelola orang-orang Jepang. Izin tinggal mereka antara 15 bulan hingga 11 tahun," kata Sayono.

Jumlah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran pada tahun 1900: Batavia; 400 orang, Semarang: 200 orang, Surabaya: 600 orang. Marayukisan, yang terdapat di Nusantara sebelum perang, termasuk pendatang yang tidak bersih. Sebagian besar mereka datang secara ilegal dari Singapura.

Pada tahun 1905, ada 1.000 wanita Jepang masuk ke Singapura dengan harga yang tinggi. Sebab mereka dinilai lebih berpengalaman dalam melayani pria.

Pada tahun 1913, pemerintah Hindia-Belanda berusaha mengatur kehidupan moral masyarakatnya, karena menjamurnya penyakit kelamin. Mereka juga melarang orang-orang Jepang, dan memperketat pengawasan agar mereka tak menjadi pelacur di Batavia.

Jepang juga menyasar wanita Belanda

Selain wanita Asia, Jepang juga menjadikan wanita Belanda sebagai pemuas nafsu. Para tentara Jepang menyiapkan kamp tawanan untuk warga sipil Belanda sebanyak 20 lokasi di Jawa Tengah.

Kamp tawanan tersebut dimaksudkan sebagai tempat untuk mengumpulkan para wanita dan anak-anak Belanda.

Wanita-wanita Belanda hadir di Jawa Tengah secara bertahap. 100 orang pertama dengan kendaraan bus tiba di beberapa daerah seperti Ambarawa dan Simpang Lima. Menyusul kemudian 600 orang lagi dari Surabaya, yang tiba pada 23 Oktober 1943.

“Mereka harus tidur di atas tempat tidur kayu, dan siap melayani kapan pun tentara Jepang mau,” ucap Suyono.

Penjagaan kamp sangat ketat. Terdiri dari 11 serdadu Jepang di bawah pemimpin 3 bintara dan juga 45 orang prajurit Heiho.

Pemimpin militer Jepang, Letnan Jenderal Kshi, mengakui bahwa ia mengizinan para tentara Jepang untuk menyetubuhi 35 wanita Belanda dari berbagai daerah, seperti Gedangan dan Ambarawa. Di sana, mereka dipaksa untuk menjadi pelacur, diperkosa, dan diperlakukan kasar oleh tentara Jepang.

“Mereka dipaksa melayani tentara Jepang secara bergantian. Ini yang kemudian menyebabkan tingginya penyakit raja singa,” ungkapnya.

Baca juga: Kisah Indische Partij, Organisasi Politik Pertama di Hindia Belanda

Related

History 3687358469668419289

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item