Cuma Duduk dan Asyik Main Games, Bocah Ini Digaji Rp 23 Juta per Bulan

Cuma Duduk dan Asyik Main Games, Bocah Ini Digaji Rp 23 Juta per Bulan, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Dengan pamor yang melesat naik, game online sudah masuk ke dalam kompetisi olahraga atau dikenal eSports.

Walaupun, masih kerap dipandang sebelah mata, siapa sangka para atlet eSport bisa menghasilkan uang hingga miliaran rupiah.

Seperti halnya yang terjadi pada Brizio Adi Putra yang memiliki pekerjaan sebagai atlet eSport dari Indonesia. Pria yang dikenal dengan nama panggung Hyde selalu duduk manis di kursinya untuk bertanding selama 10-12 jam.

Tidak seperti banyak rekan lulusannya di Indonesia yang bekerja balik meja, Brizio adalah gamers profesional berusia 23 tahun yang sibuk bertempur di dunia virtual.

"Jika saya memulai pekerjaan kantoran setelah lulus kuliah, saya kira penghasilan saya akan lebih kecil daripada (penghasilan saya) sekarang," katanya.

Kini, eSport telah menjadi karier yang serius bagi banyak anak muda Asia Tenggara.

Layaknya atlet profesional

Bermain game bukan lagi sekadar hobi. Seperti atlet profesional, pemain diberikan aturan latihan yang ketat untuk diikuti, termasuk antara 10 dan 12 jam permainan dan diskusi taktis setiap hari.

Kesehatan fisik dan mental mereka diawasi dengan ketat. Tidak jarang tim memastikan pemainnya mendapatkan latihan fisik yang cukup dan memperhatikan pola makan mereka.

Selain itu, mereka tidak ingin para petarung mereka menjadi korban stres, obesitas, dan diabetes yang baru-baru ini mengakhiri karir pemain top dari China Jian Uzi Zihao.

Tim tinggal bersama di rumah permainan bergaya asrama, diawasi dengan ketat oleh manajer dan pelatih, untuk membangun hubungan dan kerja tim selama musim permainan.

Bukan hal tabu, minat Asia Tenggara untuk esports telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa. Menurut firma riset pasar game Newzoo, kawasan itu diharapkan menghasilkan pendapatan game sebesar US$ 4,3 miliar (Rp 63 triliun) tahun lalu, meningkat 13,9 persen dari tahun sebelumnya.

Pada Juli tahun lalu, perusahaan China Moonton, penerbit game seluler yang sangat populer yakni Mobile Legends: Bang Bang, mendirikan liga waralaba esports pertama di Indonesia dengan hadiah total ratusan miliar.

Olahraga ini menjadi sangat populer bahkan perusahaan non-teknologi pun ikut andil. Seperti, sebuah merek sampo Clear Men adalah sponsor resmi untuk Seri Kejuaraan Vietnam kompetisi League of Legends teratas di negara itu tahun lalu.

Gaji seorang gamers

Pemasukan besar berasal sponsor perusahaan. Dan, pada gilirannya, ini memungkinkan para pemain seperti Brizio, yang bermain untuk klub Indonesia BOOM Esports bisa mendapatkan gaji yang layak.

Sebagai pemain profesional, ia menerima gaji pokok sebesar US$ 1.200 (Rp 17 juta) hingga US$ 1.600 (Rp 23 juta) sebulan. Sekitar 30 hingga 40 persen di antaranya digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Tentunya nilai tersebut, lebih tinggi dari gaji awal rata-rata untuk lulusan baru Indonesia, menurut survei oleh agen tenaga kerja Malaysia, JobStreet yakni sekitar US $ 225 (Rp 3,3 juta) sebulan.

"Beberapa pemain top di Indonesia dapat memperoleh hingga US$ 4.000 hingga US$ 5.000, yang merupakan standar di sini," kata Gary Ongko, pendiri dan kepala eksekutif BOOM Esports.

"Kami menjelaskan kepada orang tua bahwa anak mereka bisa menjadi pemain top yang bisa menghasilkan lebih banyak, dan saya tidak pernah melihat ada orang tua yang akhirnya berubah pikiran," papar dia seperti dilansir dari AsiaOne.

Pemain esports asal Vietnam Le Yoshino Trung Kien menghadapi perlawanan dari orang tuanya, yang ingin dia mengambil jalan yang lebih tradisional menuju kesuksesan.

Dia putus sekolah ketika dia berusia 15 tahun untuk bermain game dengan serius dan bergabung dengan tim profesional pada usia 18 tahun. Saat ini, ia adalah pemain League of Legends yanh berusia 20 tahun dan tinggal di Kota Ho Chi Minh dengan gaji yang besar mewakili Team Flash.

"Saya telah menabung sejumlah uang setiap bulan sejak saya memulai karir saya, berharap dapat membangun kembali rumah saya di Hanoi. Tahun lalu, akhirnya saya melakukannya dan sekarang keluarga saya tinggal di tempat yang sedikit lebih baik," kata Le, yang menolak untuk mengungkapkan penghasilannya.

Ivan Yeo, kepala eksekutif dan salah satu pendiri EVOS Esports, yang memiliki tim yang berkompetisi di lima negara Asia Tenggara, mengatakan bahwa esports memberikan kesempatan yang lebih baik kepada pemain muda untuk menjadi yang terbaik dalam sesuatu yang mereka sukai.

Related

Career 4065318851450453109

Recent

item