Curhat Pekerja: Ekonomi Tumbuh Saja Sulit Dapat Pekerjaan, Bagaimana Jika Resesi?

Curhat Pekerja: Ekonomi Tumbuh Saja Sulit Dapat Pekerjaan, Bagaimana Jika Resesi? naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Tahun ini diprediksi akan menjadi tahun yang berat bagi Indonesia. Indonesia diprediksi akan terjerembab ke jurang resesi. Artinya, aktivitas ekonomi dan bisnis akan semakin melambat.

Perlambatan ekonomi kali ini merupakan suatu hal yang tak bisa dihindari, setelah badai pandemi COVID-19 terus menunjukkan pengaruhnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2020 minus 5,32 persen (year on year). 

Angka tersebut jauh merosot dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang tumbuh 2,97 persen (yoy) maupun dibandingkan kuartal II 2019 yang mampu tumbuh 5,05 persen (yoy).

Perlambatan ekonomi ini dapat dilihat dari cerita Rahadian. Pria 29 tahun ini mengaku kesulitan mencari pekerjaan, setelah resign pada akhir Juli lalu. Ia terpaksa resign dari kantor lamanya setelah banyaknya perubahan yang terjadi. 

“Arah kantor juga belum juga menemui titik terang mau dibawa seperti apa, perubahan konsep dan sebagainya kerap terjadi. Wajar sih sebagai kantor baru. Saya saja yang tidak cocok dan untuk menghindari dampak ke kesehatan, jadi saya memutuskan untuk resign saja deh,” katanya. 

Sejauh ini, ia aktif untuk melamar di berbagai perusahaan media maupun non-media. Berbekal enam tahun pengalaman di industri media, ternyata tak cukup membantu untuk mendapat pekerjaan secara cepat. Berkali-kali Rahadian mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan namun jodoh pekerjaan tak kunjung tiba. 

Ia mengakui jika pandemi ini membuat perusahaan-perusahaan harus memutar otak untuk menerima pekerja baru.

“Saya sih enggak ambil pusing ya. Dalam arti, saya paham kondisi sekarang kan juga lagi begini. Serba sulit. Jadi ya wajar kalo saya juga agak sulit dapat pelabuhan baru nih. Tapi yakin ke depannya ada jodohnya sama salah satu perusahaan. Baik media atau non-media. Amiin,” harapnya.

Hal serupa dirasakan oleh Feby, mantan pekerja di salah satu perusahaan swasta. Ia mengakui jika memperoleh pekerjaan di tengah pandemi sangat sulit.

Feby mengungkapkan kisahnya pada awal Maret lalu yang hampir diterima bekerja di salah satu perusahaan media. Pada saat itu, Ia telah menyelesaikan seluruh proses seleksi hingga kesepakatan gaji dan kontrak kerja. Ia pun berharap dapat segera bekerja.

Namun karena ada kabar pertama kali virus corona menjangkit, warga Depok ini tak jadi bekerja.

“Dua hari kemudian dihubungi lagi sama HRD-nya. HRD-nya minta maaf karena ada virus COVID-19 untuk gabung (bekerja) ditunda sampai waktu yang belum ditentukan,” tuturnya. 

Akhirnya, Feby memutuskan untuk beralih menjadi penjual online. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa produk yang ia jual seperti masker hingga produk kecantikan. 

Sebelumnya, Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, anjloknya ekonomi nasional pada enam bulan pertama ini akan menyebabkan angka pengangguran bertambah dari data pemerintah saat ini yang berada di angka 10 orang. 

"Akan bertambah banyak lagi, estimasi bisa di atas 15 juta orang," kata dia.

Sejak wabah corona masuk ke Indonesia, pemerintah kerap memperbaharui data pengangguran. Terakhir, pada 28 Juli 2020 lalu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengatakan jumlah pengangguran di Indonesia bertambah sebanyak 3,7 juta orang.

"Angka pengangguran hari ini cukup lumayan kenaikannya, sekitar 3,7 juta orang dalam hitungan Bappenas," ujar Suharso dalam konferensi pers online usai mengikuti rapat terbatas di Istana Negara. 

Jumlah tersebut, menurut Suharso, melonjak 50 persen dari jumlah pengangguran yang tercatat di Bappenas saat ini, yakni sebanyak 7 juta orang. Sehingga totalnya mencapai 10 juta orang.

Jika kuartal III 2020 minus lagi, Indonesia akan masuk jurang resesi. Meningkatnya pengangguran juga akan berdampak pada bertambahnya jumlah kemiskinan.

Related

News 4973294760162729381

Recent

item