Apakah Tubuh Mengeluarkan Racun Lewat Keringat? Ini Penjelasannya


Naviri Magazine - Dunia modern secara umum adalah tempat yang beracun banget. Tanpa henti kita dikelilingi limbah perindustrian. Polusi bisa ditemukan di dalam air, di tanah, dan di tubuh kita, dan sebagian besar dari kita terus berusaha mencari cara untuk mengimbangi kerusakan yang kita tmbulkan. Banyak orang ingin mencapai kemurnian—kemurnian yang dijanjikan sauna infrared dan teh detoks.

Tapi memangnya kita perlu itu semua?

“Konsep dasar ‘detoks’ itu salah, karena proses-proses alami yang terjadi di tubuh kita, terutama fungsi hati dan ginjal, membersihkan tubuh kita lebih baik ketimbang aktivitas ekstrinsik atau zat apa pun,” kata Morton Tavel, mantan profesor kedokteran di Universitas Indiana.

Tavel bercerita bahwa “gagasan ‘detoks’ atau ‘membersihkan’ tubuh dari zat-zat ‘berbahaya’ sudah ada selama berabad-abad, dan kembali hadir untuk menghantui dunia modern.” Ide di balik rencana “pembersihan” adalah menghapus zat tak dikenal dari tubuh, yang biasanya tidak disebutkan secara jelas.

Kalian tidak perlu melakukan diet detoksifikasi khusus untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Tubuh kalian akan melakukannya sendiri. Bagaimana dengan berkeringat? Kita harus berkeringat supaya bisa mengeluarkan racun, kan?

“Berkeringat adalah fungsi tubuh normal yang dapat mengatur suhu tubuh. Keringat tidak berfungsi untuk mengeluarkan racun,” tutur Tsippora Shainhouse, dokter kulit di Los Angeles. 

Keringat ada dua macam, katanya: “Keringat saat kepanasan, sebagian besar muncul dari kelenjar ekrin di seluruh tubuh. Ini adalah respons terhadap suhu tubuh yang tinggi. Kalian berkeringat untuk mendinginkan tubuh. Keringat seperti ini akan muncul ketika kalian sedang demam, kepanasan, dan berolahraga.”

Jenis pertama adalah sistem pengontrol suhu cerdas yang digunakan tubuh, agar kalian tidak mati karena serangan panas saat hot yoga. Menurut Shainhouse, jenis keringat kedua disebut stress sweating. 

“‘Keringat sres’ adalah respons sistem saraf simpatik terhadap adrenalin, hormon yang muncul saat kita gugup, cemas, dan bersemangat. Ini adalah bagian dari respons bawaan fight-or-flight kita,” katanya. 

Jenis keringat ini lebih berkaitan dengan kelenjar apokrin yang ditemukan di ketiak, areola/puting susu, alat kelamin, telapak tangan, telapak kaki, dan bagian dalam telinga. Kelenjar ini mengandung asam lemak yang menghasilkan bau keringat, bersama dengan bakteri dan hal-hal lain di dalam dan kulitmu.

Jenis kedua ini adalah keringat kotor yang tidak sedap. Shainhouse berujar bahwa keringat ini adalah sisa adrenalin yang dilepaskan ke dalam tubuh, bukan untuk mengeluarkan racun.

“Sebagian besar ‘racun’ yang menjadi perhatian orang adalah pestisida, dan residu dari plastik atau polusi udara,” kata Tsippora. “Racun ini cenderung larut dalam lemak, bukan air. Karena itu, tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah yang signifikan, mengingat keringat itu 99 persen air.” 

Itu berarti keringat tidak berfungsi untuk mendetoksifikasi, karena sebagian besar racun tidak bisa dikeluarkan lewat keringat, tidak peduli kalian habis mandi air panas sekalipun.

Lalu, kenapa keringat bisa berbeda setiap harinya? Bukankah keringat bau berarti zat-zat beracun keluar dari tubuh? Shainhouse menegaskan kalau anggapan itu salah.

“Ada makanan tertentu, yang apabila dicerna menyebabkan keringat jadi bau. Makanan-makanan ini biasanya mengandung senyawa sulfur: brokoli, kubis, kembang kol, serta bawang putih dan bawang merah,” katanya. 

“Sebagian besar sisa-sisa ini dimetabolisme dan dipecah dalam usus dan hati, tapi beberapa molekul, seperti allyl methyl sulfide, diserap ke dalam aliran darah dan dilepaskan melalui paru-paru—dengan bernapas, pori-pori, dan berkeringat.”

Bau yang kalian cium itu pada dasarnya adalah molekul yang dilepaskan melalui pori-pori, dan ini tidak sama dengan racun, karena apa pun itu sudah diproses oleh tubuh.

Lalu, bagaimana caranya kita mengeluarkan racun kalau bukan dari keringat? Sains menunjukkan kalau kalian tidak perlu melakukan apa pun. 

“Hanya rumor. Jangan langsung percaya,” kata Cale Parkyn, seorang fisioterapis di Alberta. “Program nutrisi atau ‘detoksifikasi’ tubuh adalah cara industri untuk menciptakan dan memasarkan ketakutan. Kenyataannya, tubuh sangat cerdas dalam mengatur racun, bakteri, dan virus.”

Tubuh orang dengan tingkat stres tinggi, kelelahan kronis, atau masalah autoimun, mungkin kurang mampu mengatur toksin, tetapi tubuh yang sehat akan mengeluarkan racun dengan sendirinya.

Dengan kata lain, tubuh adalah mesin cerdas. Kalian tak perlu lagi menghabiskan uang untuk detoksifikasi. Tetaplah terhidrasi, dan biarkan tubuh memprosesnya sendiri.

Related

Health 1742472350610722355

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

Banner BlogPartner Backlink.co.id
item