Memahami Bahaya Alkohol bagi Kesehatan Liver, Menurut Penjelasan Dokter (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Memahami Bahaya Alkohol bagi Kesehatan Liver, Menurut Penjelasan Dokter - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Seperti banyak penyebab lain kerusakan liver, termasuk cacat bawaan dan infeksi seperti hepatitis B dan hepatitis C. "Ketika kamu punya hepatitis C dan minum alkohol, bahaya banget bagi liver," ujar Flamm. "Liver kita akan kewalahan. Orang-orang akan sakit lebih parah dan lebih cepat."

Jadi apa tanda-tandanya? Sayangnya, ketika liver kita sakit untuk pertama kalinya, kita tidak akan merasakan gejala apapun. "Saya punya pasien yang mengidap sirosis yang masih bisa lari maraton di Chicago," ujar Flamm. "Kita sering terkecoh. Orang-orang dengan penyakit liver akut kadang merasa baik-baik saja."

Biasanya, pertanda paling awal adalah kelelahan. Pertanda ini membingungkan karena tidak spesifik. Dengan kata lain, bisa saja kita kelelahan karena penyakit liver atau karena kita kurang tidur, ujar Flamm. Ketika kita sudah mengalami gagal liver, kulit dan mata kita akan menguning, disebut penyakit kuning. Urin kita akan lebih gelap. 

Nah, karena liver kita berhenti membersihkan racun dari darah, otak kita akan terkena dampaknya. Kita akan sering kebingungan. Mungkin juga kita muntah darah—disebabkan oleh pembengkakan pembuluh darah yang pecah di esofagus dan perut—atau mengembangkan pembengkakan parah di usus atau kaki. Hal-hal ini, khususnya, adalah pertanda yang sangat buruk, menurut Flamm.

Jika kamu merasakan sakit dan dokter kita bilang "periksa lab," dia mungkin sedang memeriksa fungsi liver kita di samping tingkat kolesterol dan gula darah, menurut Flamm. Seperangkat tes disebut liver panel memeriksa sebaik apa fungsi liver kita dengan melihat senyawa-senyawa seperti enzim, protein, dan bilirubin.

Kita bisa meminta tes-tes ini secara spesifik jika khawatir dengan kesehatan liver. Tapi begini masalahnya, menurut Flamm, kalau kita terbiasa minum alkohol dalam dosis banyak lalu menguranginya, tes-tes tersebut terlihat normal, kalaupun sebetulnya liver kita rusak. 

"Tes darah liver terkadang bisa mengecoh sehingga kita kira tidak punya masalah liver, padahal sebenarnya ada," ujar Flamm.

Jadi sebaiknya kita jujur saja dengan dokter kita tentang kebiasaan kita minum alkohol. "Dalam banyak kasus, penyakit liver memiliki kaitan dengan kadar alkohol ringan memiliki prognosis yang baik," ujar Winters. "Tapi doktermu mesti jadi rekanmu. Tidak boleh ada judgment apapun."

Misalkan kita sangat sakit—misalnya, kita tidak mengurangi konsumsi alkohol hingga usia 30 tahun, dan punya komplikasi atau mengalami kelelahan dan penyakit kuning—doktermu mungkin akan melakukan tes-tes tambahan, ujar Winters. 

Tes-tes ini termasuk tes darah untuk memeriksa jaringan yang rusak, atau seperti CT scan atau MRI. Sebuah mesin bernama FibroScan, mirip dengan ultrasound, juga dapat menunjukkan seberapa rusaknya liver kita. 

Kita bahkan bisa minta biopsi—di mana dokter kita memeriksa irisan kecil liver kita di bawah mikroskop—untuk menginspeksinya hingga level jaringan. "Tapi tidak ada yang mau melakukan biopsi kecuali ada kecurigaan besar," ujar Flamm.

Tidak ada obat-obatan yang bisa mengobati penyakit liver kronis, ujar Flamm. Beberapa obat-obatan dapat meredakan gejala sirosis, seperti pembengkakan, pendarahan, atau kebingungan. Namun pada akhirnya, satu-satunya obat adalah berhenti mengonsumsi alkohol. 

"Kalau kamu berusia 30an atau 40an dan kamu sudah punya penyakit liver kronis, kamu harus berhenti minum alkohol," ujar Flamm. Kalau sudah begitu, tidak bisa lagi minum alkohol karena alasan "sekali-sekali." "Kalau kamu melanggar itu, bakal parah banget."

Menurut Flamm, "turun kelas" dari alkohol keras ke bir atau wine juga bukan pilihan baik. Kita akan mendapatkan dosis alkohol yang sama dari sekaleng bir atau segelas wine, dengan satu shot alkohol keras. Jika kamu gemuk dan memiliki liver gemuk, di samping kerusakan liver karena alkohol, diet penurun berat badan bisa membantu. 

Olahraga selalu baik, karena bisa membantu menurunkan berat badan dan level kolesterol, penyebab lain ketegangan liver, ujar Winters. Namun tidak ada bukti yang bilang bahwa diet tertentu dapat membantu, ujar Flamm.

Dan kalau kita, seperti banyak orang lainnya, bisa melalui masa muda dan tua dengan liver yang berfungsi baik, selamat!

Related

Health 4727162157045937863

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item