Mewaspadai Penyakit Maag, Terdengar Ringan tapi Sebenarnya Mematikan


Naviri Magazine - Penyakit atau kondisi maag sudah tak asing di telinga orang Indonesia. Gastritis, atau biasa dikenal dengan sakit maag, seringkali disepelekan dan tak ditangani dengan serius. Bahkan beberapa pasien kemudian datang dengan kondisi yang bertambah parah, akibat tak mendapat pengobatan dengan baik.

Di seluruh dunia, kejadian gastritis menimpa sebanyak 1,8-2,1 juta orang setiap tahun. Menurut WHO (2007), banyak negara di dunia mendapatkan persentase angka kejadian gastritis yang besar. 

Inggris misalnya, sebanyak 22 persen masyarakatnya menderita penyakit ini, sementara China memiliki tingkat kejadian sebanyak 31 persen, Jepang 14,5 persen, Kanada 35 persen, dan Perancis 29,5 persen. Di Indonesia, gastritis diderita kurang lebih 40,8 persen masyarakat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, kejadian gastritis di beberapa kota Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi. Di Kota Medan, misalnya, angka kejadian gastritis mencapai 91,6 persen, disusul Jakarta 50 persen, Denpasar 46 persen, Bandung 35,3 persen, Palembang 32,5 persen, Aceh 31,7 persen, Surabaya 31,2 persen, dan 31,2 persen di Pontianak.

Dalam hitungan per 100 ribu orang, gastritis dan duodenitis di Indonesia memengaruhi kematian 4 dari 12 orang. Penyakit ini juga memengaruhi kesehatan masyarakat sebanyak 41 persen. 

Pada 2013, kematian akibat penyakit ini, yang menyasar perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki. Pada hitungan per 100 ribu wanita, terdapat 15,3 kematian, sedang untuk pria memakan korban sebanyak 12 per 100 ribu laki-laki.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ari Fahrial Syam, dari RSI Jakarta, membenarkan tingginya tingkat kejadian penyakit gastritis di Indonesia. Menurut penelitiannya, angka kejadian gastritis di DKI Jakarta saja mencapai 40 persen. 

Sayangnya, meski angka kejadiannya tinggi, gastritis seringkali dianggap penyakit yang tidak berbahaya. Padahal, penyakit ini dapat menginfeksi dan membuat luka tak hanya di lambung, tetapi juga kerongkongan, usus 12 jari, empedu, atau pankreas.

“Bisa juga berkembang menjadi kanker perut, karena infeksi bakteri helicobacter pylori. Di Indonesia, kasus ini prevalensinya sekitar 20 persen, satu dari lima orang yang terkena maag, terinfeksi bakteri ini,” katanya.

Ia menganjurkan, pasien terindikasi gastritis untuk tidak menyepelekan. Jika gejala seperti nyeri di ulu hati, perut terasa kenyang, dan mual, pasien bisa mengonsumsi antasida yang dijual di pasaran. Namun, jika sakit berlanjut hingga 2-3 hari, maka perlu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

“Ini banyak orang yang meninggal karena sakit di dada sebelah kiri, bilangnya angin duduk, ya karena itu,” kata Ari.

Related

Health 6521217235860701460

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item