Sejarah Misterius di Balik Terbakarnya Perpustakaan Alexandria


Naviri Magazine - Perpustakaan Alexandria bukan hanya perpustakaan terbesar sepanjang sejarah, tapi juga merupakan tempat yang selalu ramai dengan diskusi dan ceramah para intelektual di zamannya.

Asal usul dan sejarah

Kaisar Alexander Agung (356-323 SM) dari Makedonia, menjadi penguasa Mesir saat itu. Selain seorang raja, ia pun merupakan murid Aristoteles (384-322 SM), seorang filsuf dan pemikir terkemuka bangsa Yunani. Guna menunjang hobinya tersebut, Alexander membangun sebuah perpustakaan yang menampung puluhan ribu manuskrip filsafat dan kebudayaan.

Namun baru di tangan Dementrius Phalerius, Perpustakaan Alexandria mengalami kejayaan. Kedekatan ilmuwan sekaligus ahli politik asal Yunani itu dengan kalangan Dinasti Ptolemi menjadikan proyek penambahan manuskrip, penerjemahan dan penelitian di Perpustakaan Alexandria berkembang pesat.

Berkat bantuan dana yang tak terbatas dari kaisar-kaisar Dinasti Ptolemi, terutama Kaisar Philadelphus (283-246 SM), Perpustakaan Alexandria mendapatkan koleksinya dari berbagai upaya penerjemahan manuskrip-manuskrip kuno ke bahasa Yunani. Bahkan konon, pada masa kekuasaan Kaisar Philadelphus juga, Taurat (kitab suci agama Yahudi) diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani.

“Orang-orang Yunani menyebut hasil terjemahan itu sebagai Septuaginta,” tulis Joesoef Sou’yb, dalam Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin.

Penerjemahan tersebut merupakan proyek yang lumayan mahal. Menurut Baez, proyek itu melibatkan 72 juru tulis Yahudi, yang secara khusus ditempatkan di Pulau Pharos, untuk menyelesaikan penerjemahan selama 72 hari di bawah bimbingan langsung Phalerius.

“Setelah kerja mereka selesai, para penerjemah pulang ke Yerusalem bergelimang hadiah,” ujar Baez.

Sayang, kerja sama antara Phalerius dengan Kaisar Philadelphus berujung konflik. Terkait berbagai hal, sang pimpinan proyek kerap terlibat percekcokan dengan sang kaisar, hingga menyebabkan pengusiran Phalerius dari Alexandria.

Pembakaran Manuskrip

Dalam perkembangan selanjutnya, manuskrip-manuskrip yang berada di Perpustakaan Alexandria dikisahkan “musnah” begitu saja. Siapa yang memusnahkannya? 

Tak pernah ada jawaban pasti, hingga pada saat Perang Salib I berkecamuk (1096-1270), seorang Uskup Agung dalam Gereja Siryani bernama Gregorius Caronus (dalam literatur Arab ia dikenal sebagai Abul Faraj al Malathiyi) dalam sebuah karyanya, The History of Dynasties (diterjemahkan dari Tarikhud Duwwal/ Hikayat Sebuah Dinasti) menuduh pasukan Arab Islam pimpinan Jenderal Amr ibn Ash yang memusnahkan jutaan naskah tua koleksi Perpustakaan Alexandria.

Caronus bercerita, usai penaklukan Alexandria oleh pasukan Arab Islam pada 641 M, Jenderal Amr diminta tolong oleh Johannes Philoponus (seorang cendekiawan neoplatonism) untuk menyelamatkan jutaan manuskrip yang ada di Perpustakaan Alexandria. Merasa bukan wewenangnya, Amr ibn Ash lantas meminta saran kepada Khalifah Umar ibn Khattab di Medinah.

Apa jawab Umar? ”Andaikan karya-karya orang Yunani itu sejalan isinya dengan Al Qur’an, buat apa dipelihara? Terlebih jika semua itu tidak sesuai dengan Al Qur’an, maka itu berbahaya dan harus dimusnahkan.”

Maka, dikumpulkanlah jutaan naskah tua. Setelah terkumpul dalam bentuk tumpukan yang bergunung-gunung, Amr ibn Ash membagikannya kepada 4.000 pemandian air panas di penginapan-penginapan sepanjang pelabuhan Alexandria. 

“Begitu banyaknya manuskrip itu, hingga penginapan-penginapan tersebut bisa menggunakannya sebagai suluh setiap harinya, selama 6 bulan,” tulis lelaki Yunani, yang dalam sejarah dikenal juga sebagai Johanes Grammaticus.

Dibantah sejarawan Barat

Banyak kalangan di Barat mempercayai keterangan sejarah versi Caronus tersebut. Setidaknya, itu terjadi hingga abad ke-17. Baez menyebut nama orientalis Inggris, Edward Pococke (1604-1691), sebagai penulis Barat paling aktif menyebarkan pemikiran itu. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari hasil terjemahannya atas karya Bar Hebracus, yakni Specimen Historiae Arabum, yang terbit pada 1649.

Soal ini baru dicurigai sebagai “omong kosong”, setelah sejarawan Edward Gibbon (1737-1794) menelanjangi “kisah fantastis” Caronus sebagai “tipu-tipu murahan gaya Perang Salib”. 

Dalam Decline Fall of the Roman Empire Ed. IX (Jatuhnya Kekaisaran Romawi Jilid ke-9), Gibbon menyebut isu pembakaran jutaan manuskrip tua Perpustakaan Alexandria itu tak lebih sebagai strategi politik kubu Kristen Barat untuk menjelek-jelekan kubu Arab Islam.

Setelah Gibbon, beberapa cendekiawan Barat lainnya juga berduyun-duyun membantah fitnah sejarah versi Caronus. Tercatat nama-nama sejarawan seperti M.J.J. Marcel, Gustave Le Bone, L.B.Sedillot, Stanley Lanepoole, Alfred J.Butler, dan Le Fort, menjadi saksi bahwa apa yang ditulis Caronus merupakan kisah yang tak layak dipercaya.

Bahkan alih-alih menyalahkan pasukan Arab Islam, Gustave Le Bone justru menyebut musnahnya Perpustakaan Alexandria disebabkan ulah pasukan Julius Caesar (110-44 SM) saat menyerbu Mesir. “Bencana-bencana yang menimpa Perpustakaan Alexandria disebabkan api yang berkobar tanpa sengaja, pada saat Caesar mempertahankan dirinya.”

Setelah dibangun kembali pada era Kaisar Marcus Antonius (83-30 SM), Perpustakaan Alexandria lagi-lagi terbakar pada 263 M. Akibat terjadinya kerusuhan besar di Alexandria pada era Kaisar Gallenus (255-268), situs bersejarah itu hampir semuanya hancur, kecuali Gedung Sarapeum yang masih tersisa. 

Saat melakukan ceramah di Paris pada abad ke-19, Le Fort malah menyebut pasukan Kristen Barat yang menjadi penyebab hancurnya manuskrip-manuskrip tua itu. Soal itu langsung dibantah oleh Uskup Orleans, Msgr. Dupanloup yang balik menuduh Le Fort sebagai pemalsu data sejarah.

Namun yang jelas, saat pasukan Arab Islam memasuki Alexandria, perpustakaan itu sesungguhnya sudah lama musnah. ”Sungguh memalukan, dosa yang dibuat sendiri oleh dunia Barat hendak dikambinghitamkan kepada orang-orang Arab,” ujar Gibbon.

Selain menggali informasi sebab musabab musnahnya Perpustakaan Alexandria, para cendekiawan Barat itu juga menelanjangi kebohongan Caronus lewat kisah Johannes Philoponus. 

Menurut Le Bone, kendati tokoh Johanes Philoponus memang ada, namun sesungguhnya ia hidup di era sebelumnya. Dikatakan sejarawan Prancis itu bahwa Philoponus merupakan uskup radikal yang hidup saat terjadi Konsili Chaceldon pada 451. Dia hidup sampai masa kekuasaan Kaisar Justinianus (518-565 M).

”Bagaimana bisa seorang tokoh yang sudah lama berada dalam perut bumi dikatakan ‘bersahabat baik dengan Jenderal Amr ibn Ash di Alexandria’ pasca penaklukan bandar itu pada 641 M?” ujar Le Bone, seperti termaktub dalam La Civilisation des Arabes (Peradaban Orang-Orang Arab).

Related

History 6102242136308159426

Recent

item