Untuk Orang Tua, Ini Tips Mengajarkan Nilai Uang pada Anak (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Untuk Orang Tua, Ini Tips Mengajarkan Nilai Uang pada Anak - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Dalam mengelola anggaran keluarga, selalulah untuk menanyakan pada diri sendiri tentang apa-apa saja yang penting, apa saja yang tidak penting, dan apa saja yang bisa ditunda. Setiap kali ingin membeli sesuatu, tanyakanlah pada diri sendiri pertanyaan, “Apakah ini memang benar-benar dibutuhkan? Benarkah ini diperlukan keluarga? Apakah ada uang yang tersedia untuk hal ini?” 

Apabila jawabannya adalah ‘ya’, kita masih bisa mencoba menanyakan pada diri sendiri, “Apakah mungkin kita bisa mendapatkan hal ini dengan harga yang lebih murah?”

Yang ditekankan dalam hal ini adalah bahwa kita dapat menggunakan anggaran keluarga dengan baik dan dengan semaksimal mungkin menggunakan skala prioritas. Tidak perlu tergoda dengan banyaknya penawaran yang mungkin ada atau yang mungkin kita temui saat berbelanja. 

Karena meskipun penawaran-penawaran itu mungkin nampak menggiurkan, seringkali itu hanya akan memboroskan anggaran belanja keluarga kita. Kita hidup tidak berdasarkan penawaran-penawaran yang menggiurkan, kita hidup berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang memang harus dilakukan.

Memahami kebutuhan masing-masing

Adanya rasa saling terbuka dan saling percaya di antara suami-istri dalam pengelolaan dan penggunaan anggaran keluarga ini juga meliputi pada kebutuhan-kebutuhan yang bisa disebut sebagai kebutuhan pribadi. Kita memerlukan kepercayaan dan keterbukaan dalam hal ini karena keputusan yang sepihak seringkali mendatangkan kekecewaan bagi pihak yang lainnya.

Misalnya, istri bisa saja berpikir bahwa dia dapat menggunakan sejumlah uang tertentu dari anggaran keluarga untuk membeli perhiasan bagi dirinya. Meskipun tentu saja itu tujuan yang positif, namun alangkah lebih baiknya kalau sebelumnya menyatakannya secara terbuka kepada pihak suami agar keputusan itu bisa menjadi keputusan bersama dan bukan hanya sekedar keputusan sepihak. 

Dan kalau kemudian keputusan yang dihasilkan adalah negatif (suami tidak mengijinkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu), maka istri pun tidak perlu memaksa melakukannya.

Namun suami juga tidak bisa melarang untuk hal-hal lain semacam itu yang bersifat masuk akal atau rasional. Misalnya istri memerlukan sejumlah dana tertentu untuk membeli peralatan rias. Meskipun ini terkesan sebagai kebutuhan pribadi, toh hasilnya juga menyenangkan suami kalau sang istri tampil lebih cantik. 

Begitu pula kalau sewaktu-waktu suami membutuhkan anggaran untuk membeli peralatan kerja, istri juga tidak layak untuk keberatan, karena meski itu terkesan sebagai kebutuhan pribadi, namun hasilnya akan dinikmati bersama.

Peduli dan saling mengingatkan

Setelah keterbukaan dan saling kepercayaan terbentuk antara suami-istri, maka langkah selanjutnya adalah kepedulian dan tanggung jawab untuk saling mengingatkan. 

Dalam membelanjakan anggaran keluarga ini, bisa saja salah satu di antara suami atau istri ini terkadang masih suka memanjakan selera konsumtifnya. Mungkin suami membeli akuarium yang lebih besar untuk kesenangan hobinya memelihara ikan, atau mungkin pula istri menambah koleksi gelas-gelas cantik yang sesungguhnya tak pernah digunakan.

Ketika hal semacam itu terjadi, maka masing-masing dari suami ataupun istri memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan bahwa hal-hal semacam itu hanya akan memboroskan anggaran keluarga yang mereka punya.

Mungkin si suami atau si istri memanjakan selera konsumtifnya itu dengan cara kredit dan berargumentasi bahwa uang yang digunakan untuk itu bukanlah jumlah yang besar dalam tiap bulannya karena mereka dapat mencicil harganya, namun ingatlkanlah bahwa jumlah yang sedikit itu bagaimanapun juga mengurangi jumlah anggaran yang ada, dan sesuatu yang sedikit itu pun lama-lama menjadi tidak sedikit lagi.

Pendeknya, dibutuhkan rasa saling peduli untuk memahami bahwa ketika sudah berkeluarga, maka kebutuhan yang menjadi prioritas adalah kebutuhan keluarga dan bukan kebutuhan pribadi sebagaimana dulu ketika masih belum berkeluarga.

Related

Tips 199413567996702841

Recent

item