Kisah Mariah al-Qibthiyah, Istri Nabi Muhammad yang Kecantikannya Sangat Terkenal (Bagian 1)


Naviri Magazine - Mariah binti Syama’un atau Mariah orang Koptik adalah seorang budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada nabi Islam Muhammad pada tahun 628. 

Menurut sebagian tokoh Islam, ia juga merupakan istri Muhammad, dan "Ibu Orang-orang Beriman" (Ummul Mukminin), sumber lain seperti Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ia hanya seorang selir. 

Ia merupakan ibu dari putra Muhammad yang bernama Ibrahim, yang meninggal ketika masih kecil. Saudaranya, Sirin, juga turut dikirimkan pula; dan Muhammad kemudian memberikannya kepada penyair muslim Hasan bin Tsabit. 

Mariah tidak pernah menikah lagi setelah kematian Muhammad pada tahun 632, dan ia meninggal lima tahun kemudian. Hari kelahirannya sampai saat ini tidak diketahui. Juga, tidak ada sumber-sumber kuat yang menyebutkan usianya.

Tahun pengutusan

Pada tahun 6 SH (627 – 628 M), Muhammad disebut menulis surat kepada para penguasa Timur Tengah, yang membahas ajaran Islam dan mengajak mereka untuk bergabung. Isi sebagian surat-surat itu tertulis dalam kitab Tarikh at-Tabari karya Muhammad bin Jarir at-Tabari, yang diriwayatkan 250 tahun setelah peristiwa tersebut. 

Tabari menulis bahwa seorang utusan dikirim kepada penguasa Mesir, Al-Muqawqis. Catatan dalam edisi State University of New York karya Tabari menjelaskan bahwa hal tersebut tampak sama dengan versi Koresh dari Kaukasus, yang merupakan Partiark Bizantium dari Alexandria. 

Catatan tersebut menambahkan bahwa Koresh tidak menjadi Patriark hingga tahun 631, dan sebuah laporan yang menyatakan bahwa ia ditempatkan di Mesir tiga hingga empat tahun lebih awal masih dipertanyakan.

Tabari, walaupun begitu, menceritakan kedatangan Mariah dari Mesir sbb.:

Pada tahun ini, Hatib b. Abi Balta'ah kembali dari Al-Muqawqis membawa Mariah dan saudaranya, Sirin, bagal betinanya, Duldul, dan keledainya, Ya'fur, dan pakaian-pakaian. Bersama dua wanita Al-Muqawqis, telah dikirimkan kepadanya seorang kasim, dan surat tersebut ada padanya. 

Hatib telah mengajaknya masuk Islam sebelum akhirnya tiba bersama mereka, dan begitu pula Mariah saudaranya. Rasulullah menempatkan mereka untuk sementara dengan Ummu Sulaym binti Milhan. Mariah sangat cantik. Nabi mengirim saudaranya Sirin kepada Hassan bin Tsabit, dan ia melahirkan 'Abdul Rahman bin Hassan.

Dari Mesir ke Yastrib

Rasulullah mengirim surat kepada Muqawqis melalui Hatib bin Balta'ah, menyeru penguasa itu agar memeluk Islam. Al-Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah ia menolak memeluk Islam, justru ia mengirimkan Mariah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. 

Di tengah perjalanan, Hatib merasakan kesedihan hati Mariah karena harus meninggalkan kampung halamannya. Hatib menghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka memeluk Islam. Mereka pun menerima ajakan tersebut.

Rasulullah telah menerima kabar penolakan Muqawqis dan hadiahnya. Ia mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir itu, sehingga Rasulullah menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man, yang terletak di sebelah masjid.

Pernikahan dengan Muhammad

Banyak sumber Muslim mengatakan bahwa Muhammad kemudian memerdekakan dan menikahi Mariah, namun tidak jelas apakah ini fakta historis atau apologi. Budak tidak secara otomatis merdeka karena masuk Islam, sehingga tidak begitu jelas apakah Mariah dimerdekakan atau tidak.

Muhammad tinggal dalam rumah bata lumpur dekat dengan masjid Madinah, dan setiap istrinya memiliki ruang tersendiri dalam rumah bata itu, yang dibangun dalam bentuk barisan yang dekat dengan ruangannya. 

Mariah walau begitu tetap ditempatkann di rumah di tepi Madinah. Mariah juga tidak dikategorikan sebagai istri dalam beberapa sumber paling awal, seperti dalam catatan Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Ishaq. 

Sumber-sumber Muslim sepakat bahwa ia mendapatkan kehormatan yang sama sebagai istri Muhammad, dengan anggapan bahwa ia juga mendapat gelar yang sama seperti istri-istri Muhammad lainnya, yaitu "Ibu orang-orang Mu'min."

Mariah melahirkan seorang putra, yaitu Ibrahim bin Muhammad. Selain Mariah, hanya Khadijah istri Muhammad yang telah memberikannya anak. Ibrahim meninggal ketika masih dalam masa pertumbuhan. 

Perhatian Muhammad terhadap Mariah diyakini menyebabkan kecemburuan di antara istri-istri yang lain, hingga turunnya surah ke-66 dalam Al-Qur'an. Berikut bagian surah tersebut:

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). 

“Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’. 

“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hatimu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. 

“Jika Nabi menceraikanmu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

Sebagian penulis Barat, seperti Gilchrist dan Rodinson, merasa bahwa "kisah sang kekasih" merupakan versi yang telah mengalami pengurangan terhadap kisah Mariah.

Baca lanjutannya: Kisah Mariah al-Qibthiyah, Istri Nabi Muhammad yang Kecantikannya Sangat Terkenal (Bagian 2)

Related

Moslem World 8958816836435547631

Recent

item