Guru Bergejala Covid Nekat Masuk dan Tulari 36 Rekannya, Ganjar: Jangan Konyol!


Naviri Magazine - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menanggapi 37 kasus COVID-19 di SMAN 4 Pekalongan diduga karena guru yang sudah bergejala nekat masuk karena takut tunjangannya dipotong. Ia menilai hal itu justru konyol.

"Enggak (tidak dipotong), tapi bisa jadi sih (karena khawatir dipotong nekat masuk). Maksud saya itu nggak boleh konyol, bisa komunikasi dengan pimpinan. Gitu itu ada dinas, ada cabang dinas yang bisa disampaikan," kata Ganjar di rumah dinasnya.

"ASN nggak boleh konyol kalau kemudian sakit kemudian takut tunjangannya dipotong atau kesempatan lain berkaitan material hilang ya jangan, mesti dikomunikasikan," imbuhnya.

Ditanya soal sanksi bagi ASN yang nekat itu, Ganjar mengaku cukup sulit kecuali yang bersangkutan sengaja melanggar protokol kesehatan atau melanggar aturan tidak berpergian.

"Agak sulit sanksi apa kecuali dia sengaja ya, dia nekat tiap hari tidak pakai masker atau dia nekat kemarin kan ada larangan bepergian kemudian nekat berpergian itu baru kita kenai sanksi. Kalau ini kita tidak tahu ketularannya dimana wong kita tidak pernah tahu kok. Jadi ini yang tidak mudah melakukan tracing dan mereka punya integritas. Satu-satunya ya ditutup (sementara) saja (sekolahannya) kemudian tidak beraktifitas dan tidak menulari," jelasnya.

Ganjar menegaskan peristiwa di SMAN 4 Pekalongan itu menjadi bahan untuk mereview karena meski aturan di instansi ketat, saat orang berada di luar kantor tidak terpantau sehingga ada kemungkinan penularan terjadi di luar kantor.

"Kita minta lakukan review, penting kiranya memberikan laporan pergerakan ASN itu selama seminggu kemana saja sehingga bisa kita pakai sebagai acuan kalau terjadi sesuatu bisa lakukan pelacakan dengan cepat," papar Ganjar Pranowo.

Untuk diketahui, seorang guru di SMAN 4 Pekalongan mengalami Anosmia (hilang penciuman) yang merupakan salah satu gejala COVID-19. Ternyata guru itu positif dan menulari 36 guru lainnya.

"Berdasarkan hasil epistemologi kasusnya awalnya informasi kepala sekolah, ada guru yang memang pada saat itu ada yang akut bergejala anosmia (hilang penciuman), merasa dia itu anosmia tapi kok masuk," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto kepada wartawan.

Slamet mengungkap Kepala SMAN 4 Pekalongan sempat mempertanyakan keputusan guru itu tetap masuk meski sakit. Ternyata guru tersebut beralasan agar tunjangan pokok pegawainya tak dipotong karena tak masuk kerja.

Related

News 913481100557669642

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item