Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Topeng Anonymous yang Terkenal di Dunia (Bagian 1)


Naviri Magazine - Topeng Anonymous barangkali topeng paling terkenal di dunia saat ini, karena dipakai atau dikenakan orang-orang dari lintas negara, khususnya saat melakukan demonstrasi. Topeng itu juga menjadi simbol para hacker yang menyebut diri mereka “Anonymous”. Karenanya, topeng berwarna putih dengan ekspresi menyeringai itu pun dikenal dengan nama Topeng Anonymous.

Sebenarnya, bagaimana asal usul topeng itu hingga sangat terkenal, dan seolah menjadi simbol perlawanan?

Topeng Anonymous sebenarnya mengambil wajah Guy Fawkes, dan simbol perlawanan yang hadir bersama topeng itu berasal dari perayaan Guy Fawkles Day. Berdasarkan sejarah, Guy Fawkes Day dirayakan untuk memperingati kegagalan komplotan Katolik meledakkan gedung parlemen Inggris.

Setiap 5 November malam, orang-orang Inggris menyalakan kembang api. Saat kilauan percikan api menari-nari di langit, anak-anak dengan berbagai kostum berarak-arakan di jalan. Tentu, ini bukan perayaan tahun baru. Pada hari itu orang-orang di negeri Elizabeth memperingati Hari Guy Fawkes.

Hari tersebut dikenang sebagai hari ketika, pada 1605, Guy Fawkes ketahuan bersembunyi di ruang bawah tanah gedung parlemen Inggris. Laki-laki kelahiran 13 April 1570 tersebut ditangkap basah sedang mencoba menyulut bubuk mesiu yang akan meledakkan gedung serta orang-orang yang berada di dalamnya, termasuk Raja Inggris James I.

Asal usul dan sejarah 

"Pemimpin berganti, penderitaan abadi" adalah kalimat yang cocok untuk menggambarkan kehidupan orang-orang Katolik pada abad ke-16 dan ke-17 di Inggris. Hal tersebut bermula pada masa Henry VII menjadi raja Inggris. Sekitar 1533, dia memutus hubungan Inggris dengan Katolik Roma dan mendaulatkan diri sebagai Kepala Gereja Inggris.

Setelah itu, selama empat tahun, menteri utama raja Thomas Cromwell memerintahkan pemberhentian operasi 800 biara Katolik. Tanah dan harta kekayaan mereka pun diambil untuk kerajaan.

Lalu pada 1558, Henry VII wafat, takhta Kerajaan Inggris pun diwariskan kepada putrinya, Elizabeth I. Saat berkuasa, Elizabeth I meneruskan tradisi memberikan hukuman berat bagi siapa pun yang diketahui mempraktikkan iman Katolik.

Salah satunya adalah menaikkan denda bagi mereka yang tidak menghadiri kebaktian Gereja Inggris. Pada 1559 denda tersebut sebesar 12 pence. Sedangkan pada 1581, denda itu naik menjadi 20 pound.

Pada Maret 1603, Ratu Elizabeth I meninggal. James I dari Skotlandia naik takhta menjadi Raja Inggris. Meski James adalah Protestan, dia putra seorang Katolik, yakni Ratu Mary dari Skotlandia. Orang-orang Katolik di Inggris berharap James I akan lebih bersimpati kepada penderitaan mereka.

Namun harapan itu pupus. Dari Januari sampai Februari 1604, James I memerintahkan para pemimpin orang-orang Katolik untuk meninggalkan Inggris. Dia pun melanjutkan praktik mendenda orang-orang Katolik yang tidak menghadiri kebaktian Gereja Inggris. James I juga memerintahkan para pemimpin keagamaan Katolik untuk angkat kaki dari Inggris.

Dalam kondisi tersebut, orang-orang Katolik di Inggris berupaya melancarkan pemberontakan kepada para penguasa Inggris. Pada Februari 1604, tiga orang Katolik yakni Robert Catesby, Thomas Wintour, dan John Wright bertemu di London dan mulai menyusun rencana untuk menjatuhkan kekuasaan James I.

Setelah itu, Wintour pergi ke Flanders, wilayah di selatan pulau Inggris yang saat itu dikuasai Spanyol. Di sana, Wintour hendak merayu Spanyol agar mau mendukung langkah para komplotan menumbangkan rezim James I.

Kabar buruknya, pihak Spanyol menolak permintaan Wintour dengan dalih menjalin perdamaian dengan Inggris setelah bertahun-tahun bermusuhan. Meski tidak berhasil menggaet Spanyol, kabar baiknya, Wintour bertemu dengan seorang ahli bahan ledak bernama Guy Fawkes.

Tak lama kemudian, pada 20 Mei 1604, Robert Catesby, Thomas Wintour, John Wright, Guy Fawkes, dan Thomas Percy bertemu di Duck and Drake Inn. Di pub tersebut, dipimpin oleh Catesby, pengeboman gedung parlemen direncanakan.

Kebetulan pemerintahan Inggris berencana meresmikan gedung parlemen pada 5 November 1605. Jika saja bom diledakkan di sana, tidak hanya gedung parlemen yang hancur, tetapi hadirin yang terdiri dari Raja dan aparat negara Inggris ikut mati bersamanya.

Komplotan Catesby juga diuntungkan pengangkatan Thomas Percy sebagai pengawal kerajaan. Dia mendapat kesempatan tinggal di sebuah rumah yang tidak jauh dari gedung parlemen. Dari rumah Percy itu, mereka menggali terowongan menuju ruang bawah tanah gedung parlemen dan mulai memindahkan 36 barel bubuk mesiu ke dalamnya.

Malam yang dinanti pun tiba.

Fawkes telah berada di posisinya sejak malam sebelumnya, dipersenjatai dengan sebuah korek api redam suara dan sebuah jam yang diberikan oleh Percy.

Namun, komplotan Catesby tidak semujur sebelumnya. Fawkes ditangkap oleh Sir Thomas Knyvet yang dititahkan Raja James I menelusuri ruang bawah tanah gedung parlemen. Bersamaan dengan ditemukannya Fawkes, Knyvet juga menemukan tong berisi mesiu yang tersembunyi di bawah tumpukan kayu bakar dan batu bara.

“Tadi malam ruang Upper House of Parliament ditelusuri oleh Sir Thomas Knyvett; dan seorang Johnson [nama samaran Guy Fawkes], anak buah Mr Thomas Percy yang berada di sana tertangkap; ia telah meletakkan 36 barel bubuk mesiu di balik gedung parlemen dengan tujuan untuk meledakkan Raja, dan seluruh hadirin, ketika mereka bertemu di sana,” sebut publikasi House of Commons, Commons Journal, yang terbit pada 5 November 1605.

Baca lanjutannya: Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Topeng Anonymous yang Terkenal di Dunia (Bagian 2)

Related

History 6879030851255992023

Recent

item