Di Belanda, Toko Bisa Ditutup jika Menggunakan Bahasa Inggris


Naviri Magazine - Bahasa Inggris sudah dikenal sebagai bahasa internasional, sehingga menjadi semacam bahasa kedua orang-orang di mana pun, termasuk di negara yang memiliki bahasa sendiri. 

Di Indonesia, misalnya, penetrasi bahasa Inggris juga sudah sangat kuat, sehingga banyak orang—khususnya anak-anak muda—yang kerap berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris, atau menyelipkan aneka istilah Inggris ke dalam percakapan.

Kenyataan semacam itu tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara lain, termasuk di Belanda. Bedanya, di Belanda ada aturan ketat mengenai penggunaan bahasa Inggris. Dalam upaya melestarikan bahasa lokal, otoritas di Belanda bisa melakukan penindakan, semisal menutup paksa toko yang menggunakan bahasa Inggris.

Meski Amsterdam banyak dikunjungi turis internasional, dominasi penggunaan bahasa Inggris dianggap sangat mengganggu di sana. Surat kabar lokal, De Telegraaf, bahkan pernah menulis sebuah headline "Hentikan Kegilaan Inggris".

Pieter Duisenberg, dari Asosiasi Universitas di Belanda, memperingatkan bahwa kini semakin banyak kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Kekhawatirannya kian bertambah, lantaran menurut laporan pada tahun 2008, satu dari 10 penduduk Amsterdam lebih memilih berbicara dalam bahasa Inggris dan bukan Belanda.

Kebijakan pembatasan bahasa pun berlaku untuk mengurangi jumlah toko di Amsterdam yang menargetkan turis asing ketimbang konsumen lokal. Toko yang menggunakan bahasa Inggris dalam mempromosikan dagangannya akan ditutup.

"Jika Anda berada di sini, bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang," tutur Quirijn Kolff, yang diperintahkan untuk menutup tokonya oleh pengadilan, sebagaimana dilansir The Guardian.

Pengadilan distrik memutuskan, salah satu pelanggaran Kolff adalah menggunakan slogan "Say Cheese to Life" untuk toko kejunya.

Related

International 4109802767540569819

Recent

item