Mengapa Banyak Orang Indonesia yang Suka Bertanya ‘Kapan Kawin?’


Naviri Magazine - Salah satu pertanyaan terkenal di Indonesia adalah “kapan kawin?” yang biasa ditujukan kepada orang yang tidak/belum menikah. Pertanyaan itu makin sering diajukan, jika pihak yang ditanya dianggap sudah cukup dewasa atau cukup umur untuk menikah. Dalam acara kumpul-kumpul seperti lebaran, misalnya, hampir bisa dipastikan akan ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu.

Sekilas, pertanyaan “kapan kawin?” atau “kapan punya anak?” dan semacamnya memang terdengar normal dan lazim, karena biasa ditanyakan atau sering terdengar. Namun, bagi pihak yang ditanya, pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa membuat tidak nyaman.

Memang ada orang-orang yang bertanya “kapan kawin?” atau semacamnya dengan tujuan baik, sebagai bentuk perhatian, semisal ketika pertanyaan itu diajukan seorang tante kepada keponakan yang disayanginya. Perhatian semacam itu tentu positif, dan pihak yang ditanya pun biasanya bisa memaklumi.

Namun, ada sering kali orang yang mengajukan pertanyaan “kapan kawin?” atau semacamnya justru orang yang sebenarnya tidak punya hubungan apa pun dengan pihak yang ditanya. Bahkan, umpama pihak yang ditanya kemudian benar-benar menikah, belum tentu orang yang bertanya lalu sibuk membantu. Dengan kata lain, pertanyaan yang ia ajukan sama sekali tidak punya arti.

Pertanyaannya, kenapa ada banyak orang di sekeliling kita yang hobi bertanya “kapan kawin?”, padahal mereka tidak punya urusan atau keterkaitan apa pun dengan kita?

Menurut Diane Barth, L.C.S.W, seorang psikoterapis dan psikoanalis dari Psychoanalytic Institute of the Postgraduate Center, ada setidaknya enam alasan kenapa seseorang mengajukan pertanyaan yang mengganggu, bahkan cenderung kasar.

Dilansir dari situs Psychology Today, Barth menyebutkan beberapa alasan kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan, yaitu:

Mereka benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang mereka tanyakan itu menganggu. Hal ini mungkin disebabkan karena gangguan kecemasan sosial, narsistik, atau gangguan kepribadian lainnya.

Namun, apapun masalahnya, pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu merupakan hasil ketidakmampuan seseorang untuk berempati dengan perasaan orang lain. Mereka mungkin tidak berpikir pertanyaan yang diajukan membuat orang yang ditanya merasa tidak nyaman. 

Keras kepala. Mereka memahami bahwa pertanyaan itu dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, akan tetapi mereka beranggapan bahwa sudah seharusnya pertanyaan itu diajukan.

Rasa marah, atau sikap permusuhan. Kadang-kadang pertanyaan tersebut diajukan secara sadar hanya untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman, atau malu. Keinginan seperti ini bisa jadi disebabkan karena rasa cemburu atau iri karena kelebihan lain yang dimilikinya.

Rasa ingin menempatkan orang lain pada posisi yang sama, atau dalam istilah yang sering digunakan oleh psikoanalis ‘identifikasi dengan agresor’. Daripada mengingatkan diri sendiri tentang bagaimana rasanya menjadi sasaran permusuhan dan merasakan simpati terhadap orang yang ditanya, mereka menanyakan hal yang sebenarnya sama-sama tidak menyenangkan bagi penanya juga, untuk membuat mereka merasa lebih kuat.

Dua alasan berikut, yaitu keinginan untuk membantu dan keinginan untuk tetap terhubung, merupakan alasan yang paling sulit dihindari. Kendati keinginan-keinginan tersebut sebenarnya dapat dikaitkan dengan emosi lain yang tercantum sebelumnya.

Related

Psychology 3996290934194845941

Recent

Hot in week

item